Wednesday, September 11, 2019

Merokoklah, Ia (tak) Membunuhmu

Konon wajah saya mirip dengan Obama
Malam itu bapak menyalakan lampu petromaks. Lampu berusia puluhan tahun itu digantung di ruang tengah rumah belakang. Sebatang besi menjadi  kaitannya. Besi itu tergantung di kaso rumah itu. Selalu ada alasan khusus untuk menyalakan lampu ini. Alasan bapak hari itu sungguh istimewa. Saya baru saja dinyatakan lulus sebagai mahasiswa STAN. Kelulusan yang menggembirakan seluruh keluarga kami. Kegembiraan yang mengesampingkan persediaan minyak tanah yang kian menipis.
Dengan ragu saya mendekat ke lampu itu. Kang Giyo, kakak sepupu saya, duduk sambil merokok di dipan yang terletak di ruangan yang sama.
Njaluk rokoke, Kang,” pinta saya.
Kowe ngrokok?” dia heran.
Selama ini saya memang tidak pernah terlihat merokok di rumah. Ada dua pasal larangan bapak. Satu pacaran, kedua merokok. Keduanya berhasil saya patuhi hingga lulus SMA. Maka saat saya lulus dan diterima di STAN, ada dorongan untuk melanggarnya. Dan malam ini saya beranikan diri untuk merokok di hadapan bapak.
“Baru belajar, Kang.”
“Nggak takut dimarahi bapakmu?”
Saya diam. Tembakau berbalut kertas itu saya sulut di lampu petromaks. Asap segera mengepul. Sekonyong-konyong bapak muncul dari arah dapur. Melintas di depan kami. Saya yakin beliau melihat kelakuan saya. Tak ada kejadian apa pun, bahkan sekedar teguran.
Itulah batang pertama saya. Batang yang diikuti oleh ribuan bahkan ratusan ribu batang lain sepanjang hidup saya selanjutnya. Ya, sejak tahun 1992 hingga 2016 saya adalah perokok aktif. Sehari tak kurang dari 1 bungkus terisap oleh paru-paru saya. Tak ada yang sanggup mencegah atau menghentikannya, kecuali saat puasa. Tapi itu hanya pemindahan waktu saja. Begitu penanda buka puasa berbunyi, maka rokok adalah hal ketiga setelah air dan sedikit camilan yang masuk ke mulut. Pun hanya adzan Subuhlah yang memungkasi isapan terakhir menjelang waktu puasa.
Rokok menjadi benda yang harus selalu ada di saku pakaian kemana pun saya pergi. Untuk mengamankan ritual, saya tidak pernah membiarkan persediaan rokok habis. Tatkala tersisa beberapa batang, maka saya akan segera membelinya.
Rokok juga menjadi benda pertama yang saya raih setelah sebuah jeda yang melarang saya merokok. Misal saat turun dari pesawat udara, keluar dari ruang rapat, atau bahkan bercinta. Sedemikian berartinya barang itu sehingga saya amat tersiksa saat tidak bisa mengisapnya. Pun saat kehabisan dirinya.
Kejadian yang paling menyiksa adalah saat kehabisan rokok di kota Madinah. Saat itu saya umrah bersama kedua orang tua. Dari Indonesia saya membekali diri dengan 10 bungkus rokok. Saya perkirakan jumlah itu akan cukup untuk 9 hari perjalanan di Saudi Arabia. Cuaca panas, fatwa haram, dan kesibukan ibadah akan mengurangi hasrat merokok, pikir saya saat itu.  
Nyatanya tidak. Lima hari di Mekkah tak membuat saya mengurangi frekuensi merokok. Meski harus sembunyi-sembunyi dan menjauh dari area Masjidil Haram, batang demi batang tetap saya nikmati. Suatu malam bahkan saya ditegur dan dinasehati oleh seorang pria berwajah sejuk. Saat itu saya sedang asyik merokok di seputaran Zamzam Tower. Cerita lebih lengkapnya ada di sini.
Nah, saat di Madinah, persediaan rokok saya benar-benar habis. Sementara waktu kepulangan masih 2 hari lagi. Saya gelisah dilanda kekurangan nikotin. Belingsatan adalah efek terberat yang hinggap di tubuh dan perasaan saya saat itu. Sebuah kenalan yang bermukim di sini mengatakan bahwa penjual rokok ada di luar kota Madinah. Matilah saya. Untunglah seorang teman perjalanan, yang juga perokok, menginformasikan bahwa petugas katering atau petugas kebersihan hotel berjualan rokok. Sudah tentu dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Maka dari merekalah saya mendapat barang itu. Jangan tanya harganya. Empat kali lipat dari harga di Indonesia. Tak apalah demi hasrat ngomprongi congor.
Kejadian itu tak lantas menyurutkan minat saya ke tembakau. Hingga suatu hari seorang dokter berwajah aduhai berhasil menaklukkan saya. Begini ceritanya....
Hari Senin pekan itu di kantor ada kegiatan bekam gratis. Sebelum dibekam seluruh peserta diukur tekanan darahnya. Tekanan darah saya saat itu 150/100 mmHg. Dengan nada bercanda saya bilang, ”Ah, ini alatnya pasti rusak.”
Selama ini memang saya tidak terindikasi mengidap tekanan darah tinggi. Tak ingin berspekulasi, keesokan harinya saya mengulang pengukuran di klinik kantor. Hasil pengukurannya sesuai harapan, 120/80 mmHg.
“Normal kok, Pak. Kamis ke sini lagi ya, biar kita cek konsistensinya.”
Seperti yang disepakati, hari Kamis saya datang lagi. Kali ini hasilnya mengkhawatirkan. 160/110 mmHg.
“Bapak merokok?” tanya dokter itu.
“Iya, Dok.”
“Bisa berhenti?” Wajahnya yang aduhai seketika sirna oleh nada bicaranya yang judes. Motivasi sampingan selain kesehatan yang selama ini menjadi alasan untuk mengunjunginya menjadi redup.
“Saya coba ya, Dok,” jawab saya dengan muka cengengesan.
“Terserah Bapak, sih. Kalau pun Bapak stroke atau serangan jantung banyak ambulans, kok.”
Kali ini saya tersekat. Tenggorokan saya kering. Bunyi sirene ambulans mendadak memenuhi kepala. Bungkus rokok berserta korek api yang ada di kantung mendadak menyeringai ke arah saya.
“Ngomong-ngomong tensimeter ini perlu dikalibrasi nggak sih, Dok?” Pertanyaan saya bukan tanpa alasan. Penampakan alat ini menunjukkan berapa usianya. Sebagai alat yang bekerja dengan sistem mekanis saya yakin ia butuh perawatan.
“Oh, iya. Habis ini saya bawa pulang deh. Kemarin saya juga kalibrasi alat yang di rumah. Selasa depan ke sini lagi ya, Pak.”
Saya segera pamit. Detik itu pula saya memutuskan tak akan merokok lagi selamanya. Sisa rokok yang ada di saku celana saya geletakkan di atas kulkas rumah.
Sesuai yang disepakati, Selasa pekan berikutnya saya kembali mengecek tekanan darah ke tempat yang sama. Baru masuk ke ruangan praktik, wanita berusia 40-an tahun itu menyambut saya dengan ujaran yang menyesakkan.
“Pak, saya lupa bawa tensimeter dari rumah. Jadi hari ini belum bisa ngukur tensi Bapak. Untung kemarin bapak ingatkan soal kalibrasi itu.”
“Emang kenapa, Dok?”
“Alat itu memang bermasalah. Seluruh pasien yang saya ukur tensinya Kamis lalu tidak ada yang tekanan darahnya kurang dari 150... hehe..”
Asu tenan, umpat saya dalam hati. Untung saya tidak stroke gara-gara ujarannya kemarin lusa. Meski mengumpat tapi saya juga merasa senang. Sudah 5 kali 24 jam saya tidak merokok. Dan tak ada gejala kecanduan apa pun.
“Kamis saja ke sini lagi, ya Pak.”
Saya mengangguk. Niat untuk berhenti merokok makin kuat saat itu. Saya tahu jika saya kembali merokok lagi maka ada konsekuensi yang akan saya tanggung. Pertama rasa tidak enak di mulut, kedua saya ragu apakah punya momentum sebaik ini. Dua hal itulah yang mencegah saya  untuk kembali meraih setengah bungkus rokok yang masih teronggok di atas kulkas.
Dua hari kemudian, saya kembali ke klinik kantor. 120/80 mmHg. Normal. Dokter memutuskan untuk tidak memberi obat apa pun.
“Teruskan usahanya ya, Pak,” katanya saat saya kasih tahu bahwa sudah seminggu tidak merokok.
Itulah kisah perpisahan saya dengan nikotin hingga saat ini. Baru 3 tahun. Belum merupakan perjalanan yang panjang tapi juga bukan rentang waktu yang pendek untuk sebuah upaya ke arah lebih baik. Apakah selama itu saya benar-benar tidak merokok. Betul. Tak sebarang rokok pun saya isap. Meski begitu saya juga tidak menjadi manusia yang anti asap rokok. Saya tetap bergaul dengan perokok, duduk bersama mereka meski mereka sedang berasap. Hal itu saya lakukan sebagai bentuk penghormatan sebagai mantan pecandu dan melatih mental saya terhadap godaan tembakau. Nyatanya saya sama sekali tidak terpengaruh.
Pertanyaan selanjutnya adalah apa efek berhenti merokok?
Pertama tentu saja anak istri senang. Meski tak keras melarang, saya tahu istri tidak rela dengan kebiasaan itu. Kedua tetap tidak punya uang lebih. Teori bahwa berhenti merokok akan menambah pundi-pundi kekayaan pada praktiknya susah dibuktikan. Harusnya selama tiga tahun ini kekayaan saya bertambah atau setidaknya tidak berkurang sekitar 23 juta rupiah (asumsi: harga rokok 21 ribu per bungkus x 365 x 3). Nyatanya saya tidak punya tabungan sebesar itu. Ketiga celana saya bebas lubang akibat percikan bara api. Keempat dan yang paling membahagiakan adalah saya bebas dari rasa cemas dan semacamnya akibat larangan merokok. Tersiksa akibat larangan merokok itu bagi saya amat mendera. Selebihnya saya tetaplah manusia biasa dengan segala kekurangannya.
Maka ketika opini publik terbelah soal peran pabrik rokok Djarum dalam pembinaan atlet bulu tangkis, saya tak berkata apa pun. Rokok dari sisi kesehatan konon tidak baik. Meski begitu belum ada studi yang bisa membuktikan kaitan langsung antara jumlah batang yang dikonsumsi seseorang dengan penyakit yang dideritanya. Banyak perokok aktif maupun pasif yang hingga akhir hayatnya sehat-sehat saja. Tak kalah banyaknya orang yang bahkan tidak hanya bukan perokok tapi juga pegiat gaya hidup sehat lalu dihinggapi beragam gangguan kesehatan.
Apalagi jika dikaitkan dengan kematian. Saya punya prinsip bahwa bukan rokok yang membunuhmu tapi Tuhan lewat takdir­-Nya. Sesederhana itu.
Maka, merokoklah jika memang mampu beli dan tidak mengganggu apa dan siapa pun, lalu berhentilah saat sudah tidak nyaman dengannya.

Friday, September 6, 2019

Melipat Jarak Bandung - Jakarta

Hal pertama yang saya lakukan setelah mendapat undangan melalui percakapan daring itu adalah memberitahu istri. Tanpa banyak tantangan, beliau mengijinkan saya untuk pergi. Ke Jakarta dengan bersepeda adalah hal baru buat saya dari sisi mana pun. Dari sisi jarak ini akan jadi perjalanan terjauh. 158 kilometer. Dari sisi rute ini akan jadi rute terkini. Melalui Cianjur – Jonggol dan berakhir di komplek perkantoran pajak Kalibata.
Tak ada hal khusus yang saya siapkan selain fisik dan mental. Yang terasa khusus adalah saya membawa bendera Taxic. Bendera milik komunitas pecinta musik di Ditjen Pajak itu saya sablonkan dan jahitkan di Bandung.  Membawa bendera menjadi pendongkrak semangat saya. Saya berencana menyerahkan benda satu-satunya itu ke ketua Taxic, Agus Maulana. Dia layak menerima itu. 
Bersiap berangkat dari Buah Batu pukul 06.30 WIB
Jumat pukul 06.30 WIB saya bertolak dari Buah Batu, Bandung. Perbekalan sudah komplit, mulai dari pakaian, makanan berupa roti dan coklat, 2 botol air minum, alat P3K, dan peralatan perbaikan sepeda, termasuk ban dalam cadangan. Tentu saja saya juga membawa uang tunai. 
Saya juga mengunggah foto di laman Facebook. Saya menyebut akun mas Dahlan agar unggahan ini tambah populer. Unggahan itu secara berkala akan saya komentari sebagai penanda posisi terakhir perjalanan. Selain ajang narsis, saya punya tujuan lain. Agar teman-teman tahu perjalanan ini. Bukan apa-apa. Bersepeda sendirian tentu punya risiko tak ringan. Dengan memberitahu khalayak saya berharap jika butuh pertolongan mereka tahu harus mencari saya di mana. 

Persinggahan pertama saya adalah KPP Pratama Cimahi. Saya berfoto bersama 2 tenaga keamanan di depan gerbang kantor itu. Persinggahan selanjutnya  adalah KPP Pratama Soreang. Saya tiba di sini pukul  07.35 WIB. Aktivitas kantor didominasi oleh kedatangan pegawai. Kehadiran saya memancing perhatian teman-teman  di sana. Bendera Taxic saya bentangkan  sebagai latar depan foto bersama mereka. 
Mampir di depan gerbang KPP Pratama Cimahi, pukul 07.28 WIB

Singgah di KPP Pratama Soreang, pukul 07.38 WIB
Seusai foto, saya segera melanjutkan perjalanan. Setengah jam dari situ saya berhenti di sebuah SPBU. Waktunya menghidrasi tubuh. Saya sudah berkendara selama 1,5 jam. Kesempatan itu juga saya pakai untuk mengabarkan posisi terkini kepada istri. Di samping itu saya juga menelepon bapak. Kepada orang tua satu-satunya itu saya minta doa restu atas perjalanan ini.
Rute selanjutnya relatif ringan karena berupa turunan panjang Citatah. Jalannya berkelok-kelok. Kondisi aspalnya masih mulus sehingga enak buat memacu kecepatan. Pukul 9.10 WIB saya menyeberangi  jembatan Ciranjang. Jembatan yang merupakan tapal batas Kabupaten Bandung Barat dan Cimahi itu amat ikonis. Bendera Taxic kembali saya kibarkan. 
Gerbang Kabupaten Cianjur, pukul 09.12 WIB
11 kilometer setelah jembatan itu saya belok kanan. Arah itu menuju Jakarta melalui Jonggol. Saya disambut jalanan lebar, lurus, dan mulus. Baru mengayuh sebentar, saya minggir ke sebuah SPBU. Berkemih dan mengisi perut dengan air dan roti sisir. Saya juga pantau unggahan di Facebook tadi pagi. Pun aplikasi percakapan daring. Acan, teman sesama pesepeda meninggalkan pesan. Saya diminta mengirimkan foto-foto perjalanan. Mau dibagikan ke grup, katanya. Entah grup apa. Mas Danang, salah satu dedengkot acara besok juga minta waktu untuk koordinasi terkait dokumentasi acara. Beliau juga minta saya mendokumentasikan perjalanan saya semaksimalnya. Perhentian menjadi lebih lama dari seharusnya.
Memasuki kilometer ke 10 ruas jalan Cibogo – Ciranjang, tanjakan mulai menghadang. Bukan tanjakan ekstrem dan panjang. Meski demikian ia menjadi tantangan tersendiri karena kondisi aspalnya tak rata dan mulai lepas kerikilnya. Traksi sepeda harus dijaga agar tak selip.
Demi kepentingan dokumentasi, saya berhenti di tengah tanjakan panjang. Pemandangannya indah. Kota Cianjur berada di sisi selatan saya. Saya tak lama berada di titik ini. Suasananya sepi dan tercium aroma menyengat hidung dari sisa pembakaran sampah.
Sebuah tanjakan di sebelah utara Cianjur, pukul 10.32 WIB
Gerbang kecamatan Cikalong Kulon menjadi titik pemotretan selanjutnya. Coklat yang baru saya gigit menarik perhatian seorang wanita yang mengalami gangguan jiwa. Ia memberi isyarat meminta benda yang saya pegang itu. Tanpa berpikir panjang, coklat berukuran besar itu saya serahkan kepadanya. 
Masuk kecamatan Cikalong Kulon, pukul 10.46 WIB
Panas mulai memanggang sekujur tubuh. Persediaan air minum habis. Begitu bertemu dengan sebuah warung, saya mampir untuk mengisi ulang botol itu. Oya, selain membawa bendera, saya juga punya misi kampanye pengurangan sampah plastik. 2 botol ini adalah upaya saya untuk mengurangi sampah plastik di bumi ini.
Kedua botol ini pemberian istrinya  mas Ediyansyah. Mas Ediyansyah adalah teman sejawat di KPP Pratama Sumedang. ”Untuk pengguna setia Tulipware, Mas,” ujar mas Edi saat menyerahkan produk itu.
Mengisi ulang bekal air minum di wilayah Cikalong Kulon, pukul 10.58 WIB
Sebuh kedai makan di sebuah tanjakan menghentikan laju sepeda saya. Perut sudah mulai menagih haknya dan lutut mulai letih. Seporsi nasi berlauk ayam goreng segera saya lahap. Pemilk warung kaget tatkala tahu saya bersepeda dari Bandung menuju Jakarta. Kabar ini bahkan ia teruskan ke para tetangga yang sedang berkumpul di warungya. Kesempatan ini juga saya pakai  untuk mengabarkan posisi terkini kepada istri. Kelar makan siang, saya segera melanjutkan kayuhan. Waktu Dhuhur hampir tiba. Saya berencana salat Jumat di masjid terdekat. Pemilik warung tadi bilang bahwa di depan ada masjid besar. Letaknya di kiri jalan. Jaraknya hanya sekitar 2 kilometer.
Hingga pukul 12.15 WIB saya tidak menemukan masjid itu. Rumah ibadah yang dimaksud baru bisa saya jangkau pukul 12.30 WIB. Salat Jumat baru saja bubar. Ya sudah, saya salat Dhuhur dan Ashar sekaligus. Seorang polisi mendekati saya. Ia heran dengan tas bawaan saya. Saya jelaskan maksud perjalanan saya. Kepadanya juga saya tanya masih berapa lama lagi tanjakan ini akan berakhir.
“Masih jauh, Mas. Nanti mulai turun setelah lewat Puncak Pinus.”
Sejujurnya saya menyesal telah bertanya soal itu. Pertanyaan seperti itu mengandung risiko. Jika jawabannya menyenangkan, maka akan membesarkan hati. Sebaliknya akan menekan mental jika jawabannya tak sesuai harapan. 
Bersiap melanjutkan perjalanan setelah makan, salat, dan istirahat di masjid Al Huda, pukul 14.15 WIB
Kantuk melanda. Sebuah balai-balai di samping masjid menjadi tempat berbaring saya. Pesanan teh manis tersaji dalam kondisi terlalu panas. Terik di luar sana. Saya memutuskan untuk beristirahat di pondok ini. Sayang mata tidak bisa dipejamkan. Suara anak-anak yang sedang bermain membuat saya terjaga. Padahal semalam bisa dibilang tidur saya tidak nyenyak. Saya beberapa kali terbangun. Bayangan akan keseruan perjalanan hari ini membuat malam tadi menjadi malam yang panjang.
Pukul 14.15 WIB saya meninggalkan masjid Al Huda. Syukurlah tanjakan di depan tak memanjang. Jalanan kembali menurun dan berkelok. Tiba-tiba saya merasa sakit kepala. Badan juga mulai merasa agak demam. Saya segera berhenti di pinggir jalan. Sebotol air segera saya tenggak hingga habis. Saya baru ingat terakhir minum air putih adalah waktu berhenti di gerbang kecamatan Cikalong Kulon tadi. Saya terlambat menyadari bahwa saya mengalami dehidrasi.
Tak berapa lama kemudian saya mencapai puncak tertinggi kawasan ini. Bernama Puncak Pinus, daerah ini adalah sesungguhnya sangat menarik untuk disinggahi. Tampak beberapa kedai makan berjajar di sisi jalan. Saya memilih melewatkannya. Di samping sisa perjalanan masih jauh, semangat saya sedang menyala-nyala. Salah satu sebabnya adalah harapan bahwa setelah ini tidak akan ada lagi tanjakan yang menguras tenaga.
Pukul 14.50 WIB saya memasuki wilayah Kabupaten Bogor. Batas wilayahnya berupa sungai dan ditandai dengan gerbang besar. Kepada seorang pria yang berada di situ saya minta tolong untuk difotokan. Foto itu langsung saya kirim ke teman saya, Acan, dan istri di rumah. Usai berfoto, perjalanan saya lanjutkan lagi.
Masuk wilayah Kabupaten Bogor, pukul 14.53 WIB.
Hari mulai berganti sore. Trek mulai bersahabat, pun terpaan sinar matahari mulai reda. Sayang tantangan yang menyongsong tak kendur. Angin bertiup dari arah depan. Kondisi itu membuat laju sepeda saya tertahan. Tak hanya itu, badan saya dirambati gejala demam. Kepala juga masih terasa nyeri. Lutut kiri saya juga terasa sakit. Saya terpaksa mengirit kayuhan. Setiap menemui tanjakan, saya pasang gigi di posisi teringan agar otot lutut tidak menanggung beban berat.
Pukul 16.00 WIB saya minggir di sebuah warung kecil. Perut saya menagih haknya. Sebutir kelapa muda saya tenggak hingga tandas. Seporsi mi cepat saji dan sebutir telur menjadi santapan selanjutnya. Lagi-lagi pemilik warung tersekat demi mendengar rute perjalanan saya ini. Dari dia mengalir cerita soal rute yang saya tempuh ini. Tidak seseram yang saya bayangkan. Jalur ini selalu ramai oleh lalu-lalang kendaraan. 
Bersiap melanjutkan perjalanan setelah mengisi ulang sumber energi, pukul 16.20 WIB
Satu setengah jam kemudian perjalanan saya mencapai kota Jonggol. Inilah ikon rute yang saya tempuh. Capaian ini sekaligus meneguhkan keyakinan saya bahwa saya bisa finish di Kalibata beberapa jam lagi. Di kota ini saya mampir sebuah apotek. Saya membeli obat penahan nyeri yang oles dan oral. Meski tak lagi menghadapi tanjakan terjal, gangguan pada lutut dan kepala kian terasa.
Tiba di Jonggol, pukul 17.31 WIB

Keyakinan itu kian kuat saat Cileungsi tampak di depan mata. Kota ini juga menjadi titik temu rute hari ini dengan rute perjalanan beberapa bulan sebelumnya. Saat itu saya pergi ke rumah adik di Bogor melalui kota ini. Maka Cibubur, Ciracas, Pasar Rebo, Kramat Jati, Cililitan, hingga Kalibata adalah jalur yang sudah pernah saya lalui sebelumnya, meski tidak dengan sepeda.
Apakah tantangannya sudah sirna? Tidak. Tanjakan memang sudah tidak ada lagi. Hari juga sudah berganti malam. Namun kini saya memasuki area perkotaan. Kawasan yang padat lalu lintasnya. Dan tantangan terbesarnya adalah kemacetan. Saya harus beberapa kali berhenti karena arus lalu lintas benar-benar berhenti. Target makan malam di Kalibata terpaksa saya revisi karena pukul 19.30WIB saya masih terjebak kemacetan di Cibubur. Jadilah saya “mengisi tangki” di sini.
Melintas di depan gerbang perumahan Legenda Wisata, pukul 19.00 WIB
Lalu lintas mengular sepanjang wilayah jalan Transyogi Cibubur hingga menjelang Kalibata. Penyebabnya bermacam-macam. Mulai dari angkot ngetem, perbaikan ruas jalan, pasar tumpah, hingga faktor kepadatan lalu-lintas Jumat malam.
Perempatan Cililitan, pukul 21.00 WIB
Akhirnya, tepat pukul 21.30 WIB saya menamatkan perjalanan ini di komplek kantor pajak Kalibata. 158 kilometer, 15 jam waktu total, 8 jam 48 menit waktu bergerak berakhir di halaman KPP Badan dan Orang Asing. Suara musik berdentum-dentum dari atas panggung. Teman-teman Taxic sedang menjajal setelan suara untuk perhelatan besok pagi. Beberapa sosok menyambut saya dengan antusias. Ada mas Danang, mas Dhimas, mas Aris, mas Rustiyono, mas AJP, mbak Rice, bu Rosma, dan sosok-sosok lain yang akrab wajah tapi tidak dengan namanya. Suguhan minuman dan nasi goreng saya nikmati dengan lahap.
Titik henti akhir, pukul 21.30 WIB.
Setelah membersihkan badan di toilet wanita masjid Salahuddin, saya menguntit langkah seorang pria ke apartemen Kalibata City. Pria ini meminjamkan tempatnya untuk saya tiduri malam ini. sampai di tempat yang dituju, saya bentangkan bendera hitam itu di depannya. Bendera inilah motivasi terbesar perjalanan saya hari ini. Bendera inilah yang melipat jarak Bandung – Jakarta.