Sunday, December 12, 2010

Nyawa Kita Cuma Satu

Teman, tulisan ini aku buat kurang 20 jam setelah kejdian tragis yg terjadi di depan mataku...
Sore kemarin, Selasa 31 Agustus 2010, aku pulang "tepat waktu". Istilah yang terpaksa ku kasih tanda petik, mengingat aku jarang pulang tepat waktu ketika jam kantor berakhir. Ku seberangi jalan Gatot Subroto, sekaligus ku tau arah dari Semanggi ke Cawang padat merayap, baik di jalan tol dalam kota maupun di jalan arteri. Syukurlah, tidak sampai 10 menit menunggu, bus trayek Grogol Kampung Rambutan itu datang. Dengan langkah gempita ku sambut kedatangannya. Bayangan bisa tiba di rumah sebelum waktu buka menyingkirkan ketidaknyamanan berdiri berdesakan dan pengapnya angkutan umum ini. Untunglah ada kesempatan masuk tol di gerbang Semanggi II, karena kulihat jalan arteri nyaris tak bergerak.
Tidak sampai 20 menit perjalanan kami di tol dalam kota berakhir. Sempat kami temui insiden kecil, bus antar kota antar propinsi tampak berhenti di jalur tengah tol karena kaca spion kirinya pecah tersenggol truk yang menyalip dari sisi kiri. Bus kami menurunkan penumpang yang mau melanjutkan perjalanan dengan kereta api dari Stasiun Cawang. Herannya bus menurunkan penumpang di jalur kanan jalan arteri, bukan di Halte Indomobil. Terpaksalah para penumpang menyeberang jalan di tengah arus lalu lintas yang ramai lancar. Di antara penumpang yang turun kulihat seorang ibu muda yg tampak lelah menggendong anaknya. Rada miris aku melihat pemandangan itu. Ah, semoga rombongan kecil itu bisa nerusin perjalanannya dengan aman.
Persimpangan Otista Raya baru terlewati setelah menurunkan beberapa penumpang. Laju bus agak tersendat memasuki mulut terowongan Cawang atas. Kepadatan lalu lintas dan simpang susun Cawang menjadikan sore ini, seperti sore yang lalu, senantiasa padat merayap. Sudah tidak jelas lagi mana kendaraan yang mau ke arah Bandara Halim/Cikampek, mana kendaraan yang mau ke arah Tj. Priok. Pun demikian dengan bus kami yang akan menuju ke arah Kp. Rambutan dengan enteng masih melaju di lajur tengah yg memang rada longgar.
Terowongan Cawang atas baru saja kami lewati. Sopir bus bersiap pindah ke lajur kiri. Di depan kami didominasi oleh sepeda motor. Tampak seorang ibu2 separuh baya mengendarai Honda Vario warna hitam, tepat didepan bus kami. Laju bus kami terpaksa melambat, lurus, tak berbelok. Sepeda motor itu bergeser ke kiri, ups....nyaris tertabrak bus kami. Kami terkesiap, beberapa penumpang mengaduh, mengingatkan sopir. Anehnya sopir sama sekali tidak mengurangi laju bus, tidak bergeser lajur. Sama sekali tidak, lurus pada lajur semula...... Sampai beberapa detik berselang, brak!!!! Suara motor terjatuh keras terdengar. Kami semua menjerit, keras, geram, pasrah. Bayanganku ttg korban jiwa langsung memenuhi pikiranku.
Seperti ada yg mengkomando, puluhan pengendara sepeda motor menghadang bus kami. Beratus sumpah serapah, ancaman, hujatan, memaksa sopir segera meminggirkan busnya. Reflek aku ikut turun, bergegas berjalan ke arah kejadian. Sayup2 kudengar rintihan ibu itu. "Sakiiiit....kaki saya sakitttttt....tolong.....!" Tanpa dikomando kami segera membentuk formasi menolong. Waktu sdh menunjukkan pukul 17.50 WIB ketika aku beralih ke ojek langgananku menuju rumah....

Rabu, 1 September 2010
7:15 WIB, itulah waktu absenku hari ini. Ajudan Dirjen sdh mengirim jadwal liputan Dirjen hari ini. Dimulai dari pasar murah pukul 08:00 WIB di Gelanggang Remaja Jakarta Timur, dilanjutkan dengan rangkaian rapat di Komisi XI dan buka puasa bersama.
Agak terburu-buru aku mengemudikan mobil dinas ke jalan Otista Raya, tempat acara pasar murah berlangsung. Untunglah rute ke arah Cawang relatif lengang karena bukan jam pulang kantor. Suara tabrakan kemarin sore masih menghantui pikiranku. Tinggal seperminuman teh waktu perjalananku, sekonyong-konyong ajudan ngasih kabar kalau acara batal. Dirjen juga sudah kembali ke kantor lagi. Segera ku putar balik kendaraanku yg sudah terlanjur masuk ke jalan Otista Raya. Persimpangan Cawang atas lancar kulewati. Menara Saidah, gedung megah yang kosong melompong tanpa penghuni baru saja ku lewati. Waktu baru menunjukkan pukul 08.00. Sepanjang jalan MT. Haryono, dari Menara Saidah sampai menjelang perempatan Pancoran sepeda motor dibuatkan lajur khusus dengan pembatas berupa deretan kun yang disambung dengan tali rafia. Nyaman, pikirku...karena aku hanya perlu konsentrasi dengan mobil lain, tidak dengan motor, karena mereka sdh dibuatkan lajur tersendiri. Tapi apa mau dikata, harapan tinggal harapan... Kenyaman yang sempat terbayang sirna sudah. Beberapa pengendara sepeda motor rupanya sangat diuntungkan dengan longgarnya lajur mobil, karena sebagian besar motor beralih ke lajur khusus.
Hmmmm, tidakkah kita sadari bahwa nyawa pemberian Tuhan itu cuma satu? Dan aku yakin, nyawa itu tidak boleh disia2kan, hanya karena mengejar kecepatan. Apalagi sambil merampas hak orang lain....
Sekian.
Post a Comment