Saturday, July 13, 2013

Sholat di atas sofa

Orang tua dan anak saya


Berita itu datang menjelang siang. Guru agama saya, Pak Wiharto, memberitahu kami bahwa akan ada ujian praktek sholat lima waktu. Ujian tersebut merupakan salah satu syarat kenaikan kelas saya di bangku kelas IV Sekolah Dasar. Saya panik. Saya tidak hafal sedikitpun bacaan sholat.
Sepulang sekolah saya menemui bapak.
“Pak, kenaikan kelas nanti ada ujian praktek sholat. Gimana dong, Pak?”
“Udah, gampang.... sholat kan Cuma gitu-gitu aja,” ujar bapak sembari memeragakan gerakan rukuk dan i’tidal.
Saya terdiam. Saya menyadari bahwa  saya bertanya kepada orang yang salah.
Orang tua saya memang tidak pernah mengerjakan sholat. Saya pernah mendengar bapak saya bilang bahwa untuk apa sholat, yang penting kita berbuat baik sama tetangga kiri kanan. Percuma mengerjakan sholat jika sikap keseharian kita tidak mampu berbuat baik ke sesama manusia, demikian katanya.
Orang tua saya memang jauh dari sentuhan agama. Mereka hidup dalam lingkungan desa yang masih dipenuhi ajaran kejawen. Penduduk desa kami memang 100% adalah pemeluk agama Islam, tapi sebagian besar adalah Islam KTP. Tempat ibadah bukannya tak ada, tapi entah kenapa dari saya lahir sampai saat itu syiar agama tak mampu menyentuh kebanyakan hati kami. Yang lebih menyedihkan adalah pendapat bapak saya terhadap ajaran agama. Menurut bapak saya, kaum agamis itu orang yang kurang kerjaan bahkan cenderung pemalas. Mereka lebih suka melakukan hal-hal yang tidak produktif dengan hanya mementingkan mengaji kitab suci tapi membiarkan ladang mereka terbengkalai. Bapak juga memandang bahwa mereka adalah orang yang jorok karena padasan (tempat wudhu) masjid desa kami cenderung kotor dan berbau pesing.
Bapak lebih sreg dengan ajaran leluhur yang masih berbau animisme dan dinamisme. Meskipun tidak mempunyai benda pusakan semisal keris, tombak dan sejenisnya, bapak masih menjalani kehidupan spiritualisme ala animisme dan dinamisme. Setiap mengadakan kenduri dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan (Megengan) atau menyambut hari raya Idul Fitri (Badan), bapak selalu menyajikan makanan sesaji kepada arwah nenek moyang kami. Sesaji itu berupa nasi dan seperangkat lauk pauk serta minuman kesukaan nenek moyang kami. Sesaji itu diletakkan di kamar tengah (senthong tengah) dan tidak boleh kami sentuh sebelum acara kendurian selesai. Ketika hari menjelang magrib, bapak akan membakar kemenyan di bawah meja tempat sesaji itu diletakkan. Mulut bapak akan menggumankan mantra-mantra yang terdiri dari bahasa Jawa bercampur bahasa Arab sekedarnya.
Demikian juga dengan ziarah kubur (nyekar). Bukan doa buat para arwah yang terlantun, tapi permintaan kepada para arwah yang telah menghadap Sangk Khalik agar anak cucunya senantiasa diberi pangestu dan kesehatan lahir dan batin. Saya dan adik-adik saya mengaminkan permintaan itu.
Demikianlah akhirnya, saya belajar sendiri bacaan dan gerakan sholat. Untunglah ada pak Nasirun, tetangga saya, yang berprofesi sebagai modin dan senang mengajari kami sholat dan mengaji. Beliau juga menyuruh kami mulai belajar puasa Ramadhan. Saya masih ingat pertama kali berpuasa ketika kelas V Sekolah Dasar. Di rumah saya hanya saya sendiri yang menjalankan puasa. Tiga adik saya masih kecil-kecil. Jadilah saya sahur dan berbuka puasa sendirian. Menjelang sahur ibu hanya bangun sebentar untuk memastikan ada makanan untuk saya. Selebihnya saya makan sahur sendirian dengan penerangan cahaya lampu sentir. Saya jalani itu bertahun-tahun. Orang tua saya tetap setia menjalani Islam Abangannya.
Sabtu sore ketika saya kelas I SMA. Hari itu adalah hari dimana saya menjalani ritual mudik dari Solo, kota tempat saya bersekolah SMA. Biasanya saya sampai di rumah sekitar pukul 15.00 WIB. Demikianlah sore itu, saya tiba di rumah di waktu yang sama dengan pekan-pekan sebelumnya. Begitu melangkah ke dalam rumah ada pemandangan ganjil di sana. Di sofa yang terbuat dari rotan itu bapak sedang belajar sholat. Beliau berdiri di atas sofa itu sembari melakukan gerakan ruku’ dan i’tidal, persis seperti yang dahulu diajarkan ke saya. Di sampingnya tampak lek Sholihin duduk sembari memegang buku “Pedoman Shalat Lengkap”. Saya tertegun, pun juga bapak saya ketika menyadari kedatangan saya.
“Ini lho le, paklek (paman) mu Sholihin kok nyuruh bapakmu belajar sholat.”
“Iya lho To, bapakmu tak suruh belajar sholat. Mosok sudah tua gini kok belum bisa sholat.”
Saya hanya tersenyum sembari meletakkan tas saya dan segera berganti baju. Sabtu sore adalah hari dimana saya bermain bola volly di lapangan desa saya.
Bulan Januari dua tahun lalu. Saya terhitung jarang menelepon orang tua saya. Bagi saya komunikasi tidak harus melalui jalur verbal, toh setiap habis sholat saya selalu mendoakan mereka. Pendapat yang mungkin tidak benar. Malam itu ketika saya menelepon bapak, saya mendapat kabar mengejutkan.
“Gini To, bapak mau mewakafkan sebagian tanah di depan rumah. Ada LSM dari Timur Tengah mau mbangun mushola, ya sudah bapak kasihkan pekarangan itu.  Bapak minta persetujuan semua anak-anakku, soalnya syaratnya begitu.”
Saya tidak bisa berkata apa-apa. Genangan air mata saya mendadak tumpah begitu saja. Hidayah itu berawal dari sofa.

Kampung Makasar, 13 Juli 2013, 23.06 WIB.

Bapak, Nyonya, Ibu dan Yu Miyati
Post a Comment