Friday, October 11, 2013

Saya Bangkrut karena Tak Sabar


"Good evening, Sir. I think I can help you."
"Really? Please take me to jalan Jaksa..."
"Yes, Sir..."

Sepotong obrolan itu bukan terjadi antara siapa-siapa, hanya antara sopir taksi dan seorang bule yang berdiri di depan Kantor Kedubes Amerika Serikat beberapa minggu yang lalu. Sopir taksi itu barusan mengantar saya ke terminal 1C Bandara Soetta.

Semula saya berniat naik taksi sampai terminal Rawamangun saja, seperti biasa. Kekawatiran saya akan kemacetan lalu lintas lah yang mengubah rute saya. Begitu naik, sopir itu mempersilahkan saya merokok. Rupanya dia melihat saya membuang rokok sesaat sebelum masuk taksinya. Saya memilih tidak merokok, rasanya tak nyaman melakukannya.

Sopir itu seorang pria berumur 50-an tahun, bernama Soeyitno. Perawakannya tegap, mukanya segar. Sesaat kemudian saya lantas sibuk menelepon ke Bowo, kameraman saya yang sedang on job di gedung BPK. Saya memberi instruksi tentang blocking kamera dan menjelaskan rundown acara. Telepon terputus.

"Kerja dimana, Om?"
"Di pajak, pak. Tapi lagi ada kerjaan sampingan di BPK."
"Wah, malaikatnyan BUMN, tu.."
"Kenapa, Pak?"
"Iya, bos-bos BUMN kan paling takut sama BPK."

Saya terhenyak. Sopir ini terlalu sok tahu menurut saya.

"Sudah lama di Blue Bird, Pak?"
"Baru tiga bulan, Om.."
"Sebelumnya kerja apa, Pak?"
"Sopir juga, tapi bawa direksi di perusahaan swasta."
Saya mulai makhfum. Tol R. Soediyatmo pagi itu lumayan lancar. Obrolan kami lantas berlanjut.
"Saya pernah sukses, Om."
"Oya? Usaha apa, Pak?"
"Pakan ternak, Om... Sehari saya bisa jual jagung buat merpati dua ton..."

Dia lantas panjang lebar menceritakan kesuksesannya. Semua berawal dari krisis moneter tahun 1998. Dia dirumahkan perusahaan tempat dia bekerja sebagai sopir karena bank itu gulung tikar. Bermodal sedikit tabungan, pria beranak dua ini lantas membuka usaha pakan ternak, utamanya jagung buat merpati.

Dia bercerita bahwa jagung dari petani itu rupanya rata-rata sudah mengendap selama dua bulan sebelum sampai di tangannya. Kondisinya amat dekil. Dia lantas berinisiatif mensortir jagung itu, mencucinya hingga bersih, hal yang tidak dilakukan oleh pedagang lain. Inilah yang membuat komoditinya laku keras. Usahanya berkembang dan melebar. Dia merambah ke pakan ayam bangkok berupa gabah beras merah. Lagi-lagi dia melakukan inovasi. Sebelum dijual, gabah itu dia sortir dengan cara merendamnya dalam air. Gabah yang mengapung berarti tak layak jual. Inovasinya mendulang kesuksesan. Usahanya menjulang. Omsetnya kian membesar. Suatu hari godaan itu datang...

Pak Soeyitno, demikian nama sopir itu,  pengin membesarkan usahanya. Bank-lah yang jadi tujuan pencarian sumber modalnya. Apesnya tak satupun proposal pengajuan kreditnya diterima. Dia frustasi. Kesabarannya mentok. Dia lego semua asset usahanya, laku seratus juta rupiah. Uang hasil penjualan itu habis dalam waktu sebulan, tak bersisa. Bahkan untuk sekedar membeli rokok pun dia tak punya.

Dia lantas banting setir ke usaha berjualan sayur keliling. Untungnya tipis, katanya. Belum lagi dia bermusuhan dengan ibu-ibu langganannya karena persoalan tunggakan utang. Bubar. Berjualan mie ayam keliling lantas dia jalani. Itu pun tak bertahan lama. Takdir melabuhkannya ke profesi baru, sopir pribadi selama beberapa tahun untuk kemudian menjadi sopir taksi ini sejak tiga bulan yang lalu.

Dia bercerita, bulan pertama jadi sopir taksi, sudah mendapat bonus penuh karena omsetnya bagus.

"Apa resep Bapak melayani penumpang?"
"Saya berusaha melayani sepenuh hati mas."
"Maksudnya gimana, Pak?"
"Saya tak pernah menolak penumpang. Pernah suatu hari ada penumpang naik dari stasiun Gambir tujuan RRI. Deket banget kan Om. Apa dinyana, saya diberi lima puluh ribu rupiah, padahal argo saya baru delapan ribu rupiah."

Saya manggut-manggut. Sejujurnya saya tidak selalu mendapat perlakuan yang baik dari sopir taksi. Saya sering ditolak karena jarak tempuh saya terlalu dekat.

"Tempo hari saya juga dapet penumpang ibu-ibu, Om. Dia naik dari perempatan Pancoran, tujuan ke SMESCO. Bawaannya buanyak banget, kompos gas segala. Rupanya dia jualan di kantin itu. Saya bantuin naikin barangnya, eh pas turun saya disuruh mampir kantinnya, disuguhi kopi dan dikasih ongkos lima puluh ribu, padahal argonya belum berubah."
"Wah, hebat sampeyan, Pak."
"Ah, enggak Om. Saya hanya berusaha sebisanya."

Terminal 1C sudah di depan mata. Secuil obrolan itu begitu mengena di hati saya. Apa yang pasti? Tak ada. Tapi apa yang bisa terlampaui? Semua bisa, memang tak mudah, tapi semua mungkin untuk dilakukan.

Terminal 1C Bandara Soetta, 30 September 2013.
Post a Comment