Tuesday, November 26, 2013

Misteri sepasang Sendal di Mercu Suar



Hajat memotret di Pulau Lengkuas sudah hampir usai. Kami tiba di sini pukul 05.00 WIB tadi pagi. Perjalanan selama setengah jam kami tempuh dengan menggunakan perahu motor kecil. Begitu mendarat kami dimanjakan dengan pesona alam yang luar biasa. Langit biru membentang tersaput awan putih tipis di ujung cakrawala, air laut tenang tanpa gelombang, adalah sebuah perpaduan yang amat diharap oleh setiap fotografer lansekap. Kami merasa puas berhasil mengabadikan berbagai sudut pulau ini. Tiba semenjak fajar membuat kami berhasil mengabadikan sun rise di ufuk timur sana. Selepas momentum sun rise, kami lantas berpencar mencari sudut lain di pulau ini. Sudah lama saya tidak berburu foto lansekap. Energi saya serasa tercurah tanpa lelah.

Hari telah menunjukkan pukul 12.00 WIB. Kami semua sepakat untuk istirahat. Makan siang telah tersaji di depan kami. Lauknya berupa ikan laut dan udang yang baru saja matang dimasak. Makanan yang terhampar di atas pasir beralaskan terpal plastik itu lantas ludes tersantap.

Ada satu obyek lagi yang belum kami jamah, yaitu pemandangan alam dari puncak mercu suar. Lengkuas memang sebuah pulau yang terletak di barat laut Pulau Belitung yang di tengahnya terdapat mercu suar. Berdasarkan data yang ditulis di dinding bangunan, mercu suar itu dibangun tahun 1882. Pemerintah Hindia Belanda membangunnya sebagai rambu bagi kapal yang berlayar di daerah itu. Perairan sekitar  pulau Lengkuas memang tidak terlalu dalam dan terdapat banyak batu berukuran besar mencuat ke permukaan laut. Jika tidak dilengkapi dengan mercu suar, kondisi ini tentu saja membahayakan pelayaran. Meski sudah berusia lebih dari seabad, bangunan setinggi 50 meter ini masih berdiri dengan kokoh dan berfungsi dengan baik.

Semilir angin laut di tengah terik siang itu memancing datangnya kantuk kami. Tiba-tiba terbersit ide di benak saya.

"Mas Eko, mau ngopi nggak?"
"Boleh, Mas. Aku kopi item yaa..."
"Sip. Yang lain mau nggak?"
"Udah pesenin semua aja, Bey..." kali ini Eka yang menyergah.

Teman yang satu ini baru bergabung bersama kami pagi tadi. Sebuah urusan bisnis memaksanya tidak bisa berangkat bersama kami kemarin siang.

"Aku nggak usah dipesenin, Met. Wis gak bisa ngopi lagi, " ujar mas Harris.

Pria pemenang lomba Salon Foto Indonesia kategori olah digital tahun lalu ini rupanya punya masalah yang sama dengan saya, maag. Yang membedakannya adalah saya masih nekad ngopi sementara dia tidak.

"Okay... Lima kopi hitam sama dua kopi putih ya...," ujar saya sembari berlalu.

Tujuan saya adalah komplek bangunan mercu suar itu. Mercu suar itu dikelilingi oleh bangunan berbentu huruf U. Komplek bangunan seluas 1.500an meter persegi itu ditunggui oleh tiga pria dewasa. Mereka adalah pegawai Kementerian Perhubungan. Di dalam komplek bangunan juga tersedia toilet umum bagi para pengunjung. Airnya bersih. Jumlahnya pun relatif cukup, sehingga fasilitas itu dirasa cukup nyaman bagi pengunjung. Selain itu, bagi pengunjung yang mempunyai nyali dan fisik yang kuat, bisa naik ke puncak mercu suar. Syaratnya cukup membayar retribusi 5.000 rupiah dan membersihkan kaki terlebih dahulu. Segala alas kaki harua ditanggalkan sebelum memasuki mercu suar. Ini semata demi kebersihan bangunan itu.

"Bang, kopinyo maseh ado?"
"Maseh.. Nak berapo?"
"Limo kopi item samo duo kopi putih ye..."

Pria paruh baya itu lantas menyeduh kopi pesanan saya. Dia adalah salah satu penunggu mercu suar ini. Berjualan kopi dan mie instant rebus adalah pekerjaan sampingannya. Saya bercakap dengannya menggunakan bahasa Melayu. Belitung memang didominasi oleh dua etnis besar, yakni Melayu dan Tionghoa.

Pandangan mata saya tertuju pada mercu suar itu. Saya berdiri sejauh 5 meter dari pintu masuknya. Di depan pintu masuk berjajar empat pasang alas kaki. Jumlah itu sekaligus menandakan berapa jumlah pengunjung yang saat ini berada di dalam mercu suar. Hati saya bergolak, sekaligus bimbang. Peperangan sedang terjadi di sana. Perang antara saya melawan ketakutan saya sendiri. Peperangan itu segera saya pungkasi dan saya menangkan. Saya bergegas kembali ke tempat dimana teman-teman berkumpul.

"Aku mau naik ke mercu suar, siapa yang mau join?" ujar saya setibanya di tempat mereka lagi

Tak satupun dari mereka bertujuh menyambut ajakan saya. Keletihan, sudah pernah melakukan sebelumnya, dan kondisi fisik yang tidak memungkinkan menjadi alasan mereka.

"Aku nitip body kamera aja ya Bey. Nanti fotoin," sahut Eka dengan nada mengejek. Dia termasuk orang yang pernah naik ke puncak mercu suar itu.
"Pret... Kalo mau nitip memory card aja," jawab saya sembari bersungut-sungut.

Saya bergegas megganti lensa 16-35 mm dengan lensa fisheye milik Eka. Dalam hati saya berguman, barang apa yang tidak dimiliki kawan ini...

"Yo wis, aku naik dulu ya. Pesanan kopi nanti dianter."

Dengan langkah berderap saya menuju pintu mercu suar. Sebelum masuk, alas kaki saya tanggalkan persis di depan pintu masuk. Selembar uang 5.000an saya masukkan ke kotak kayu yang terletak di sebelah kanan pintu masuk. Bawaan saya hanya sebuah kamera dan tas pinggang. Saya memang sengaja meminimalkan beban. Sebenarnya ini bukan kali pertama saya menaiki menara. Pada tahun 2010 saya bersama mas Yusan, mas Rindhang, mas Ikhsan, Arief, Ari dan Hendra pernah menaiki mercu suar di Bangkalan Madura. Ketinggiannya relatif sama. Yang membedakannya adalah kesendirian saya. Itulah yang membuat pecah peperangan tadi.
Lantai Dasar Mercu Suar

Pelan tapi pasti saya melangkah ke dalam mercu suar. Penerangannya hanya mengandalkan sinar matahari dari dua buah jendela. Begitu menginjakkan kaki di lantainya saya terhenyak. Lantai bangunan yang terbuat dari semen ini basah. Saya edarkan pandangan ke sekeliling ruangan untuk mencari sumber air itu. Tidak saya temukan apa-apa. Yang terpampang di depan saya hanyalah sebentuk ruang berbentuk tabung yang kosong melompong dan senyap. Dinding bangunan dan anak tangga yang terbuat dari besi tampak sudah berkarat di sana sini. Saya sempat surut langkah mengkhawatirkan kekuatan bangunan ini. Namun pikiran buruk itu segera saya tepis. Saya berkeyakinan bahwa waktu kematian saya sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa. Jika pun kematian itu akan tiba sekarang tidak akan terhalangi oleh apapun. Dia juga tidak akan datang lebih cepat gara-gara saya menaiki mercu suar ini.

Anak tangga itu dimulai dari sisi sebelah kiri pintu masuk. Sebelah kirinya mepet dengan dinding bangunan sedangkan sebelah kananya dipagari besi dan pegangan. Lebarnya kurang dari satu meter, sehingga ketika berpapasan dengan pengunjung lain salah satu harus mengalah.

Tiga lantai pertama saya lalui dengan mudah. Saya tidak menjumpai seorang manusiapun sejauh ini. Saya istirahat sebentar sembari mengatur nafas. Lutut kanan saya baru saja mengalami cedera. Sebetulnya kondisinya belum benar-benar sembuh. Sinshe yang mengobati saya wanti-wanti melarang saya untuk tidak berolah raga apapun, termasuk jalan kaki menanjak. Selama ini saya patuh. Kebiasaan menaiki tangga dari lantai basement 2 ke lantai dasar kantor saya berubah menjadi naik lift.  Larangan itu kali ini saya abaikan.

Tujuh lantai berikutnya saya lalap sekaligus tanpa jeda istirahat. Nafas saya tersengal-sengal tanda jantung saya mulai bekerja ekstra keras memompa aliran darah. Saya memutuskan untuk istirahat lagi. Lagi-lagi saya terjebak dalam medan laga. Saya mengkhawatirkan kondisi fisik saya. Terbayang jika tiba-tiba saya mengalamiserangan jantung di sini; siapa yang akan menolong? Semua teman berada di bawah sana. Pulau ini juga tidak dilengkapi fasilitas medis apapun. Di dalam tas pinggang saya hanya ada Betadine, minyak kayu putih dan obat maag. Nyawa saya pasti tidak akan tertolong. Kebimbangan melanda benak saya. Terus naik sampai ke puncak atau kembali ke bawah? Degup jantung kian kencang. Nafas terasa sesak. Keringat dingin mencucur deras. Lengan kiri terasa pegal. Tubuh saya memberikan sinyal bahwa dia tidak kuat menanjak lagi. Saya berdiri mematung dengan wajah pucat pasi.

Volume ruangan bangunan ini kian ke atas kian mengecil. Di pinggir jendela sebelah kiri yang sudah hilang daunnya, seorang pria bertelanjang dada sedang berdiri memandang keluar menara. Dia mempersilahkan saya untuk mengambil tempatnya. Rupanya dia sedang dalam perjalanan turun sehabis dari puncak menara.

"Delapan lantai lagi, Pak," sapanya.
"Iya Mas. Capek euy.."
"Ayoo semangat Pak. Bapak pasti bisa."

Ah... Seandainya pria itu tahu apa yang sedang terjadi..

Sembari beristirahat saya sempatkan mengambil foto dari lubang jendela. Pucuk pohon kelapa sudah berada di bawah saya. Pemandangan ke arah tenggara sangat memesona. Gugusan batu besar menyembul dari dasar samudera, membentuk konfigurasi yang ritmis.

Gerah melanda, keringat bercucuran. Kaos lengan panjang segera saya tanggalkan dan saya ikatkan ke pinggang. Tinggallah rompi Nikon yang tersandang. Saya segera meneruskan langkah dengan perlahan. Saya hanya berpegang pada satu keyakinan, jika saya terkena serangan jantung pun, saya rela demi mendapat sudut pemotretan dari atas sana.

Delapan sisa lantai itu saya tempuh dengan dua jeda istirahat. Di lantai 15 saya berpapasan dengan seorang bapak dan anak laki-lakinya yang baru berusia 11 tahun.

"Dari puncak, Pak?'
"Iya Mas. Nih si kecil merengek minta ke atas."
"Wah hebat kamu, Dik," ujar saya sembari meneruskan langkah.

Akhirnya puncak mercu suar ini tertapak jua. Di sebelah kiri anak tangga terakhir terdapat sebuah pintu besi. Di bali pintu itu ada sebuah teras selebar satu meter, melingkar mengelilingi sisi luar mercu suar. Teras itu dipagari besi setinggi perut saya. Dengan langkah perlahan saya keluar dari pintu itu.

Hati saya langsung berdesir. Bumi serasa menyedot saya. Tubuh saya limbung. Saya undur ke belakang, kembali ke dalam mercu suar. Lamat-lamat saya mendengar percakapan dua orang wanita di luar situ. Dengan langkah pelan saya kembali melangkah keluar. Benar saja, dua orang cewek muda berkerudung berjalan santai ke arah saya. Saya sontak merasa malu. Cewek berjilbab yang identik dengan perilaku dan sifat baik saja berani berjalan di luar situ, masak saya minder. Sekali lagi peperangan itu saya menangkan.

Sejujurnya ketakutan saya belum hilang sama sekali. Saya hanya mengakalinya dengan mengintip pemandangan luar melalui view finder kamera. Sudut pandang kamera fish eye ini amat ekstrim, 180 derajad, sehingga memanipulasi pandangan saya terhadap jurang di depan saya. Sembari menjepretkan shutter kamera, saya memajukan langkah ke arah kanan. Saya berhasil maju seperempat lingkar pagar, ketika dari belakang saya terdengar percakapan dua orang pria. Saya terpaksa melepaskan kamera dari mata saya. Hasilnya seperti yang saya duga, bumi kembali menyedot saya. Saya buru-buru memundurkan langkah, kembali ke arah pintu.

Pemandangan dari puncak mercu  suar.
Dua pria itu seumuran, berusia sekitar 30an. Pria yang satu menenteng kamera semerk dengan kamera saya. Keduanya tampak ragu melangkah keluar mercu suar.

“Udah... Lu duluan deh. Guwa males keluar,” ujar pria tanpa kamera kepada temannya yang menenteng kamera.
“Alaaah... masak Lu takut sih. Kagak apa-apa lagi,” sahut pria berkamera itu.
“Iya Mas, nggak apa-apa kok. Saya barusan dari luar,” sergah saya sembari masuk ke dalam mercu suar.
“Beneran nggak apa-apa, Pak? Lantai terasnya masih kuat?”
“Masih.. tu barusan ada dua cewek berjilbab dari luar juga. Mereka bahkan mengelilingi teras. Masak kalian kalah sama mereka?”.

Saya berkata sembari menata hati. Kenyataannya saya juga tidak seberani dua cewek tadi. Saya mempunyai ide dadakan.

“Mas, mau saya pinjemi lensa saya? Ini lensa fisheye lho, efeknya luar biasa.”
“Oh boleh, Pak. Sekalian pasangin ya Pak, soalnya saya cuma pinjem kamera ini dari saudara. Nggak terlalu ngerti cara makainya.”
Saya segera menukar lensa yang terpasang di kamera saya dengan lensa miliknya.
“Udah ni Mas, silahkan dicoba.”
“Hehe.. Bapak aja deh yang motretin. Saya nggak terlalu bisa motret, Pak.”

Sialan... siasat saya tidak mengena. Saya tadi berencana mencari teman ke luar sana, eh rupanya mereka malah menyuruh saya seperti itu. Kelaki-lakian saya sontak tertantang. Dengan langkah saya gagah-gagahkan, saya keluar mercu suar. Tiga jepretan berhasil saya lakukan. Tanpa sadar saya telah mencapai separuh keliling teras mercu suar ini. Saya segera kembali ke mereka yang masih dilanda ketakutan di balik pintu sana. Saya perlihatkan hasil jepretan tadi.

“Waaah, bagus banget, Pak. Thanks ya..”
“Sama-sama, Mas. Kalian nggak pengin saya foto di luar situ?”
“Hehe... mau sih Pak. Tapi takut.”
“Halaah... cowok kok takut ketinggian. Malu lagi sama ceweknya.”
“Bukan ceweknya, Pak... Istrinya. Saya sudah beristri, Pak.”
“Nah... kalo saya tambah malu tu...”
“Iya deh, Pak. Tapi di deket pintu aja ya. Nggak usah jauh-jauh.

Akhirnya dua pria itu bersedia saya potret dengan latar belakang bentang bumi di bawah kami. Saya juga memanfaatkan keberadaan mereka untuk memotret saya dengan komposisi yang sama. Pria tanpa kamera tampaknya benar-benar takut dengan ketinggian. Lututnya gemetaran, wajahnya pucat pasi.

Setelah saling berucap terima kasih, saya pamit turun. Delapan belas lantai mercu suar itu saya turuni tanpa jeda. Sepanjang perjalanan saya tidak menemui siapapun. Hanya suara langkah saya di anak tangga lah yang terdengar. Bunyinya terpantul pelan dari dinding bangunan tua ini. Saya sempat merasakan hawa dingin di lantai 10, tempat saya bertemu dengan pria tak berbaju tadi. Saya mempercepat langkah tanpa menoleh.
Di lantai 5 saya kembali berpapasan dengan pria muda tanpa baju yang tadi saya temui di lantai 10. Dia sedang menaiki tangga.

“Wah... naik lagi, Mas?”
“Iya, Pak. Nih bawa turis.”

Saya baru menyadari bahwa langkah pria itu diikuti oleh dua wanita berparas jelita. Tiba-tiba saya menyesal terlalu terburu-buru turun. Saya membayangkan dua wanita itu pasti amat suka dipotret di atas sana.

Akhirnya saya mendaratkan langkah di lantai dasar. Hawa dingin lantai ini kembali menyergap. Saya segera mengambil alas kaki yang terletak di depan pintu. Di tempat menaruh alas kaki tergeletak 7 pasang alas kaki, termasuk milik saya. Darah saya tersirap. Saya menghitung kembali jumlah pengunjung mercu suar yang masih berada di dalam sana. Dua orang pria di puncak dan tiga orang yang berpapasan dengan saya di lantai 5 tadi. Saya bergidik.

Tiba kembali di tempat teman-teman berkumpul saya membawa wajah sumringah penuh kemengan. Mereka sudah selesai berkemas, siap kembali ke Belitung. Kamera saya langsung disambar oleh mas Harris.

“Luar biasa Begawaaaaan....” ucapnya berbuih.

Kawan yang satu ini memang tak mengenal kalimat celaan ketika melihat hasil pemotretan orang lain. Kalimatnya penuh pujian dan membesarkan hati.

“Mas Harris, sebelum memuji foto itu mbok kameranya dihidupkan dulu. Belum liat fotonya kok udah muji,” ujar saya sembari buru-buru berkemas. Sang pemilik lensa, Eka, hanya tersenyum kecil ketika ikut melihat hasil jepretan saya.

“Ah... kalo Cuma foto kayak gini mah aku juga udah punya, Bey...,” ujarnya datar. Saya memang tidak pernah berharap mendapat pujian darinya.

Usai berkemas saya celingukan mencari kopi jatah saya. Sekeliling tempat kami mangkal sudah bersih dari sampah.

“Kopi saya mana, mas Eko?”
“Lha embuuuuh....,” jawabnya sembari ngeloyor pergi ke arah perahu kami.

Saya menggerutu tak tentu. Usaha keras saya memenangkan peperangan melawan ketakukan tidak berbuah manis. Foto saya dicela oleh Eka, dipuji sih oleh mas Harris, tapi memujinya sebelum melihat fotonya. Dan yang paling menjengkelkan, kopi saya disabotase entah oleh siapa. Bayangan tentang kenikmatan menyeruput kopi putih di bawah pohon kepala sembari mereview hasil foto dari atas menara sirna dengan segera.

Meskipun demikian saya tetap merasa bangga. Setidaknya hari ini saya kembali memenangkan peperangan. Selama ini saya lebih sering dipecundangi lawan. Saya sering kalah melawan ketakutan saya sendiri akan kondisi fisik saya. Satu kalimat mujarab yang belakangan saya gunakan sebagai senjata hanyalah kalimat sederhana. Saya yakin Adjie Massaid dan Basuki akan tetap meninggal dunia meskipun mereka tidak main futsal malam itu. Sesungguhnya waktu kematian itu sudah pasti adanya.

Kampung Makasar, 24 Nopember 2013, 19.45 WIB.


Post a Comment