Monday, December 30, 2013

Sengketa Pemukul Bedug

Saya baru saja selesai merapikan buku tulis dan buku paket untuk jadual sekolah besok pagi. Sedianya saya akan segera beranjak tidur, tapi saya baru ingat bahwa sholat Isya belum tertunai. Dengan langkah malas saya keluar kamar kost menuju kamar mandi untuk bersuci.
Baru genap lima langkah, dari kamar seberang terdengar obrolan seru. Rifa, teman seangkatan saya sedang berbincang dengan Heri, teman sekamarnya. Heri adalah adik kelas kami. Dia juga berasal dari Wonogiri, anak seorang pendeta.
"Satu itu ya satu, Her. Dan itu sifat Tuhan yang utama."
"Iya, Mas. Tuhan kami juga satu lho.. Tuhan Yesus."
"Ah.. Itu ada Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Roh Kudus?"
"Mas Rifa.. Dalam keyakinan kami ada konsep Trinitas...."
Niat bersuci saya urungkan. Kantuk yang tadi menggoda saya untuk melewatkan sholat Isya mendadak sirna. Dengan langkah hati-hati saya mendekat ke kamar itu. Keremangan malam di kost Bu Broto Warung Miri ini amat membantu menyembunyikan saya dari penglihatan mereka. Saya tak mau kehadiran saya merusak diskusi mereka. Di bawah pohon jambu air yang sedang berbuah lebat, saya berdiri mencakung, tanpa suara.

"Kenapa orang Kristen suka berdoa sambil main gitar?"
"Kenapa orang Islam suka berisik manggil-manggil orang supaya sholat? Bukannya waktu sholat itu nggak berubah-ubah, Mas?"
"Kenapa kalian suka mengkristenkan orang Islam?"
"Kenapa kalian kalo bikin pengajian atau sholat Id suka nutup jalan umum?"
"Kenapa kalian kalo ke gereja pakai rok pendek?"
"Kenapa Lebaran kalian suka beda hari?"
Wah... Rupanya diskusi mereka kian memanas. Bertubi-tubi pertanyaan sensitif saling mereka lontarkan. Dengan argumen seadanya, dua penghuni kamar yang sama itu saling sigap menjawab pertanyaan lawan diskusinya.
"Kenapa Tuhanmu mati disalib?"
"Kenapa nabimu doyan kawin?"
Dua pertanyaan terakhir itu membuat saya memutuskan untuk segera meneruskan niat awal, bersuci dan segera menunaikan sholat Isya.

※※※※※※※

Hujan rintik malam itu tak mengurangi semangat para jamaah satunya masjid di desa kami untuk berbondong-bondong datang ke masjid ini. Di pintu masuk halaman masjid beberapa orang pemuda sedang asyik membikin gerbang dari bilah bambu yang dihiasi dengan janur kuning. Di serambi puluhan jamaah yang rata-rata sudah berusia lanjut sedang asyik berbincang sembari minum teh hangat. Sholat Isya berjamaah baru saja selesai mereka tunaikan.
Dari selasar depan tiba-tiba terdengar bunyi bedug dan kentongan dipukul dengan irama apik meningkahi suara takbir. Bunyi itu mendadak berhenti oleh sebuah teriakan penuh amarah.
"Siapa yang nyuruh takbir, he?"
Lima pemuda tanggung itu hanya diam.
"Kalian kan tahu, mbah Kiai belum nerima putusan lebarannya besok atau lusa. Jadi jangan coba-coba takbir sebelum ada perintah darinya."
Seorang bapak-bapak berambut keriting datang mendekat.
"Ada apa to ini? Kok berhenti takbirannya?"
"Tidak boleh takbir sebelum ada perintah dari mbah Kiai."
"Lho.. Memangnya kenapa? Menurut hitungan kami, besok sudah lebaran kok. Jadi ya malam ini kami mau takbiran."
"Silahkan kalo pakde mau lebaran besok. Tapi jangan takbiran di masjid ini."
"Kenapa nggak boleh? Ini masjid lho, milik umat, bukan milik kiai mu."
"Pokoknya nggak boleh sampai ada putusan dari mbah Kiai. Mana, sinikan pemukul bedug itu."
Sosok pria berambut keriting itu hanya melongo ketika pemuda itu merebut pemukul bedug sembari ngeloyor pergi. Saya yang sedari tadi duduk di seberang jalan sembari makan es lilin memilih pulang ke rumah. Sisa makanan kendurian tadi sore lebih menarik dibandingkan dengan keributan di masjid ini.
※※※※※※※
Bangunan tepat di seberang rumah kontrakan kawan karib saya ini lebih menyerupai rumah dibandingkan dengan gereja. Keterbatasan lahan membuatnya tak mempunyai halaman sama sekali. Hanya papan nama bertuliskan Gereja Pantekosta lah yang mencirikan bahwa ini adalah rumah ibadah, bukan rumah tinggal.

Minggu sore itu saya bersiap kembali ke kost saya di Jurang Mangu setelah dua malam menginap di sini. Saya sedang memasang kaos kaki di teras ketika Eka dan Robin, penghuni rumah kontrakan ini mendatangi saya.
"Ngapain sih Bey jam segini udah mau pulang?"
"Sorry Ka.. Besok ujian euy..." "
Walah Bey.. Bey.. Kamu ini kan lulusan Prodip, masak ujian PA aja masih perlu belajar.." timpal Robin.
"Aku nggak mau terjerumus ke luar Jawa lagi coy..."
Tiba-tiba terdengar alunan musik dari gereja depan. Tak lama disusul oleh nyanyian koor para jemaat. Suaranya amat jelas terdengar karena jarak teras ini ke gereja itu hanya sepuluh meter. Merdu dan meriangkan hati. Saya sudah berdiri untuk beranjak ketika tiba-tiba saya mendengar bahasa aneh dari mulut pendeta. Wah... Hebat juga gereja ini, pendetanya kutbah memakai bahasa Ibrani, pikir saya.
"Ngawur lu, itu bukan bahasa Ibrani, Bey. Bahasa roh," jawab Eka ketika saya menanyakan perihal itu.
"Lu percaya sama bahasa roh, Ka?" timpal Robin. Mereka seiman.
"Ah.. Nggaklah... Itu kan penyesatan. Sekte Pentakosta mengklaim dirinya lebih tinggi tingkatan kerohaniawanannya dibandingkan dengan sekte lain gara-gara mereka bisa bahasa roh. Padahal Paulus dalam 1 Korintus 14: 20 justru mengingatkan mereka untuk berpikir secara dewasa."
"Tapi jangan salah Ka.. Dalam 1 Korintus 14: 4 dikatakan bahwa bahasa roh itu selain alat untuk membangun dirinya sendiri juga untuk membangun iman umat."
"Sebentar... Kalian ini sibuk diskusi tapi kok nggak ke gereja?"
"Sialan lu, Bey... Nggak boleh ke gereja kalo masih mabok."
"Yo wis lah.. Mabuk kok ngomongin agama." ujar saya sembari melangkah keluar pagar.
Sembari menahan pusing akibat kebanyakan nenggak Long Island tadi malam di kafe Pasir Putih, saya berjalan menuju halte bus depan hotel Cempaka.

Wonogiri, 26 Desember 2013.
Post a Comment