Sunday, November 30, 2014

Mobil 2nd vs Negara 2nd

“Mau ngapain lagi ke bengkel, Pak?
“Tu kaki-kakinya belum beres, Ma. Minta dua ratus ribu lagi, deh.”
“Minggu kemarin perasaan udah mbenerin karburator, sekarang kok pindah ke kaki-kaki to, Pak..”
“Yah, namanya mobil second, Ma... “

Saya lantas ngeloyor ke arah mobil yang sudah saya panaskan. Dia hanya memandang kepergian saya dengan wajah lurus, tanpa ekspresi. Jatah belanja bulanannya harus kembali dirongrong oleh kebutuhan perbaikan mobil kami.

Demikianlah memang konsekuensi membeli barang bekas. Tak hanya mobil, rumah, perabot rumah tangga, pakaian. Yap, pakaian. Jas yang saya kenakan waktu menikahinya adalah pakaian impor bekas yang dibelikan oleh calon kakak ipar saya di Jambi sana. Tahun 1998 adalah saat marak-maraknya impor pakaian bekas hingga kemudian pemerintah melarangnya. Rumah yang kami tinggali sekarang kebetulan kami beli bekas seorang pedagang pakaian impor bekas yang usahanya gulung tikar akibat beleid pemerintah itu. Ironis.
Setiba di bengkel langganan, saya terpaksa mengantri. Ada dua mobil lain yang sedang dibongkar kaki-kakinya juga. Mekanik sekaligus pemilik bengkel ini, kang Amin, adalah seorang pria Sunda. Dia tengah bergelut dengan oli gemuk dan kunci ring pass berukuran besar.

Sembari menunggu saya duduk di sudut bengkel dan ngobrol dengan pemilik mobil yang sedang dibongkar rodanya.

“Mbenerin apa, Mas?
“Ini, Mas... Ngganti long tie rod.”

Saya sedikit heran. Mobilnya adalah keluaran baru. Rasanya mustahil sudah harus mengganti part itu.

“Tahun berapa mobilnya, Mas? Kelihatannya masih baru.”
“Baru setahun, Mas. Iya, padahal saya pakainya juga nggak kemana-mana, dalam kota terus. Mobil sekarang nggak awet ya, Mas.”

Saya hanya terseenyum simpul mendengar keluhannya. Dia mungkin lupa bahwa di dunia ini yang jujur hanya satu, yaitu harga.

“Mobil Mas sendiri kenapa?”
“Ah, biasa Mas.. namanya juga mobil tua. Tuh, karet stabilizer-nya ada yang pecah.”
“Tahun berapa mobilnya, Mas?”
“Tahun 1997, Mas. Saya belinya second. Entah sudah tangan ke berapa.”
“Kenapa nggak beli yang baru, Mas? Kerja dimana to?
“Saya kerja di pajak, Mas. Simpel, Mas. Saya nggak punya duit untuk membeli mobil baru, kedua mobil baru itu harganya nggak realistis.”

Teman ngobrol saya itu mengerutkan keningnya.

“Masak orang pajak nggak bisa beli mobil baru, Mas? Kan duitnya banyak, kayak Gayus.”
“Duit saya memang banyak, Mas. Tapi kebutuhan saya juga banyak,” tiba-tiba saya merasa tekanan darah saya naik drastis. Tampaknya lawan bicara saya menyadari hal itu. Dia segera mengalihkan topik pembicaraan.
“Nah, kenapa kata Mas tadi harga mobil baru nggak realistis? Bukankah dengan membeli mobil baru seperti saya kita dijamin bebas perawatan puluhan ribu kilometer dan nggak rewel seperti mobil second punya Mas?”
“Bener sih, Mas. Membeli mobil baru memang membebaskan kita dari urusan service berkala untuk beberapa waktu. Membeli mobil second harus bener-bener teliti. Tapi ada satu alasan saya tadi, coba sekarang sampeyan beli mobil baru, trus sebulan kemudian sampeyan jual, harganya turun berapa? Belum lagi kalo sampeyan jualnya setahun lagi, pas ada seri mobil baru lain keluar, pasti harganya terjun bebas. Itulah yang saya anggap bahwa harga mobil baru itu nggak realistis, Mas. Ada harga yang harus kita bayar atas sebuah status tadi, mobil baru.”

Pria itu tampaknya belum puas dengan argumen saya.

“Tapi mobil second kan resikonya banyak, Mas. Nggak Cuma rewel tapi juga menyangkut legalitasnya. Saya denger banyak mobil bodong tu, Mas. Ngeri, ah.”
“Yah, apapun pilihannya pasti mengandung resiko, Mas. Sekarang kita lihat, mobil baru sampeyan belum setahun sudah harus ganti onderdil juga. Mobil saya udah 10 tahun ya masih bisa jalan. Saya selalu berusaha teliti sebelum membeli mobil second, Mas. Dan saya selalu konsekuen dengan pilihan saya. Saya tidak pernah komplain ke penjual ketika mobil yang saya beli rewel, karena saya tahu ini adalah resiko yang harus saya tanggung sendiri. 
Sama seperti negara ini. Kita lahir dan hidup di negara yang sebenarnya adalah negara second. Apa sebab? Negara ini hanyalah warisan dari nenek moyang kita ribuan tahun yang lalu, yang konon berasal dari Yaman sana, bukan negaranya orang Jawa alau ngLampung sana. Negara ini sejujurnya udah menempuh ratusan bahwkan mungkin jutaan kilometer perjalanannya. Bukan negara yang baru setahun lalu sama-sama-sama kita dirikan. Bukan negara yang fresh from oven. Jadi mbok ya yang proporsional saja ketika suatu saat negara kita harus masuk bengkel seperti mobil kita. Ndak usah terlalu misuh-misuh menyalahkan para pendahulu yang mewariskan negara ini secara gratis kepada kita. Ndak usah juga muring-muring sama sopirnya sekarang, toh di hanyalah sopir tembakan yang suatu saat juga harus diaplus sama sopir lain. Toh kita juga nggak akan selamanya mengangkangi negara ini, seperti juga kita nggak akan selamanya memiliki mobil itu. Paham, Mas?...Paham nggak? Jawab dong, jangan hanya diam aja.”

Tiba-tiba aroma olie gemuk meruah ke hidung saya.

“Pak Slamet, maaf mbangunin tidurnya, mobil mas ini mau keluar tapi kehalang mobil pak Slamet.”

Sialan memang kang Amin ini, jadi mekanik puluhan tahun kok tidak bisa mindahin mobil, pakai acara memutus mimpi indah segala.

Bandung, 30 November 2014.
Post a Comment