Friday, May 31, 2013

Mas Mul


Mas Mul
Satu dari Beberapa Kisah Meniti Awal Karir di KPP. Baturaja (1995 – 1999)

"Mau makan apa pak Slamet? Katakan terus terang", tanya mas Mul tanpa ekspresi tapi sambil menengadahkan kedua telapak tangannya tanda meminta uang. Sepotong kalimat yang terus terngiang sampai sekarang. Kalimat-kalimat sederhana bernada lucu sering meluncur dari mulutnya.
Perawakannya rada tinggi, ceking. Rambut lurus kaku, kulit hitam, cenderung dekil. Cara berpakainnya pun nyaris rapi. Awal aku berkantor di KPP Baturaja dialah pesuruh kantor pertama yang berani menyapaku. Aku jadi cepat akrab dengannya karena sama-sama dari Jawa. Yap, kadang kesamaan suku merekatkan keakraban ketika di perantauan. Logat bicaranya ke-jawatimur-an. Aku tidak tahu persis dari daerah mana asalnya. Dari berbagai cerita terkuaklah fakta bahwa dia adalah keponakan dari seorang Kepala Kantor yang pernah memimpin di sini. Saat pejabat itu purna tugas Mas Mul memilih menetap di sini, tidak ikut pulang ke kampung halamannya. Dia tidur di kantor, sebuah ruang kecil entah bekas ruang apa yang kemudian disulap  jadi kamar tidur. Isinya pun nyaris ada, hanya sepotong dipan tua dan bantal kusam. Lemari berkas dijadikannya lemari pakaian. Di ruangan sempit itu juga ada seperangkat alat masak berupa kompor minyak, wajan, panci, beberapa sendok dan piring.
Kebetulan salah satu area kerja dia adalah ruangan seksiku. Setiap pagi sebelum kami semua bekerja, lantai dan meja telah beres dia bersihkan. Kelar kerjaan bersih-bersih kantor biasanya dia keliling ke meja-meja pegawai ngajak ngobrol tak tentu topik, sembari menunggu obyekan membelikan  makan siang pegawai yang malas keluar kantor.
Dari berbagai kesempatan ngobrol tersebut aku menilai dia punya pengetahuan umum yang lumayan bagus. Banyak kosa kata bahasa Inggris yang dia kuasai. Pernah suatu malam, aku dan Ragil sedang lembur merekap Faktur Pajak PPN. Ada satu istilah di item barang di Faktur Pajak yang tidak kami mengerti, sewa excavator. Kami sedang mengira-ira apa yang maksud dengan excavator tadi ketika mas Mul menyergah kami, "Bego!". Kami terhenyak tak mengerti apa maksud mas Mul mengumpat seperti itu. "Iya, itu bego, pak. Alat untuk ngeruk tanah itu lho....", ujarnya polos tapi dengan ekspresi penuh kemenangan. Kami terpaksa mengakui kebodohan kami...
Suatu malam minggu, aku dan Ragil bersepakat untuk menginap di kantor. Memang begitulah kebiasaan kami, kalau sdang mati ide dan tidak ada kegiatan Irul, kami suka berlama-lama di kantor. Kebiasaan kami adalah main game di komputer. Kalau bukan Prince of Persia ya Wolfstein. Sebenarnya Ragil yang lebih suka main games. Aku memilih jadi suppoerter saja. Rasanya asyik melihat dia begitu piawai melewati level demi level games tersebut. Tengah malam kami masih terjaga ketika ketenangan kami terusik oleh rasa lapar yang hinggap. Kami bingung mau makan apa. Di kota kecil ini memang masih banyak warung makan yang buka. Tapi kami malas untuk mencari makan keluar, apalagi permainan sedang berlangsung seru-serunya. Mas Mul yang sedari tadi ikut duduk bersama kami tiba-tiba melontarkan ide, "Mau tak bikinin nasi goreng?", tanyanya sambil beranjak ke dapur tanpa menunggu persetujuan kami.
Di malam minggu yang lain kami juga menginap di kantor lagi. Kami biasanya tidur di mushola. Sejatinya mushola tersebut adalah sebuah ruangan kantor kami. Ukurannya tidak terlalu besar, hanya sekitar 4 x 4 meter. Lantainya dilapisi karpet warna hijau yang baunya apek banget. Arah kiblatnya pun tidak selaras dengan bentuk ruangannya, serong ke kiri tiga puluh derajad. Di dindingnya tidak ada tempelan hiasan apapun, polos. Temboknya  dicat krem, sebagian malah sudah mengelupas di sana sini. Minggu pagi itu kami bangun kesiangan. Tidur di mushola tapi melewatkan sholat Subuh. Kebetulan arah datangnya sinar matahari berasal dari balik mushola ini sehingga sampai pukul 8 pagi masih terasa redup. Bau harum oseng-oseng kacang panjang dan tempe membangunkan kami pagi itu. Rupanya masakan mas Mul lah biang bau harum itu. Di samping kami sudah terhidang dua piring nasi dan semangkok oseng-oseng tempe dan kacang panjang. "Ayo pak Met, Gil....sarapan dulu", katanya dengan dengan ekspresi datar.
Juli 1999 aku melanjutkan studi kedinasan di Jakarta. Setiap bulan aku pulang ke Baturaja menengok anak istri. Sesempatnya aku suka mampir ke kantor, bertemu dan kangen-kangenan dengan teman-teman lama. Sabtu pagi ketika aku main ke kantor tak ku jumpai mas Mul. Aku tanya ke Ragil, kemana gerangan sosok legendaris itu. Ragil menarikku ke sudut ruangan. Dia berbisik, "Mas Mul sedang jadi incaran reserse. Bisnis togelnya tercium aparat. Dia sekarang sedang menyamar, kumisnya dicukur, kemana-mana pake wig panjang".
Aku tak kuasa menahan geli....
Post a Comment