Friday, May 31, 2013

Mimpi Semalam



Mimpi Semalam

"Mas, bisa kita bicara sebentar?" sapanya setengah menyuruhku untuk duduk di sampingnya.
Malam itu dia mengenakan blus batik terusan, seperti yg dia kenakan tanggal 22 Desember tahun lalu. Tangannya memegang selembar koran hari ini.
"Kenapa, jeng?" sahutku sambil menghempaskan diri di bangku kosong itu.
Teras ini hanya diterangi lampu neon yang sudah mulai redup. Taman kecil depan rumah dan beberapa lampu pagar entah kenapa tidak menyala. Seingatku istriku sedang nonton tv di ruang tengah saat ini. Aku tidak ingat dengan keberadaan dua anakku...
"Apa mas bener-bener mencintaiku?" tanyanya lugas.
Aku tergagap, tidak siap dengan pertanyaan seperti itu. Hatiku ciut. Sejujurnya aku sedang membaca hatiku sendiri. Apakah cinta itu memangg harus ada di antara kami. Aku masih terdiam ketika dia meneruskan bertanya. "Kita mau nikah pakai cara apa mas? Islam atau agamaku?", tanyanya seolah dia sudah mendapat jawaban atas pertanyaan pertama tadi.
Aku tambah megap-megap. Satu pertanyaan saja belum mampu kujawab, kini dia menghunjamku dengan pertanyaan ke dua yang makin membuatku jengah.
Aku pandangi wajahnya. Kaca mata minus menaungi bola matanya yangg tampak berkaca-kaca. Aku tumpangkan tanganku di atas kedua pahanya. Sejenak dia balas memandangku seperti biasa, senyum tipis yang nyaris ada.
Mendadak bahuku serasa diguncang-guncang. Suara lembut berbisik.
"Pak, bangun...sudah hampir jam 6. Nanti macet lho...."
Aku tergagap membuka mata. Istriku berdiri di samping ranjang dengan muka penuh cemas. Jendela kamar tidurku masih tertutup horden, tapi aku cukup tahu bahwa aku sudah kesiangan...
Post a Comment