Friday, May 31, 2013

Mimpi Semalam II



Mimpi Semalam II

Aku duduk tercenung di depan pasangan suami istri itu. Sore itu angin sepoi berhembus di teras rumah mereka yang rimbun oleh pepohonan. Kami saling bertukar kabar masing-masing. Pertemuan pertama dengan suaminya sesungguhnya amat kuhindari. Bukan apa-apa, namaku pernah tersebut dan terbaca olehnya di rangkaian chatting-ku dengan istrinya setahun yang lalu. Syukurlah, sejauh ini aku tidak melihat ada keganjilan di sorot matanya.
Dia pria biasa, berkaca mata minus, rambut rapi, tampang lumayan untuk seseorang yangg berasal dari pelosok Klaten sana. Sebuah pasangan ideal menurutku. Setahuku mereka seumuran.
"Saya memang sekantor sama istri sampeyan, mas..." jawabku ketika dia bertanya tentang asal muasal keakraban kami.
Entah siapa yang memulai, tiba-tiba di bertanya,
"Jadi bener mas Slamet pernah mimpi diajak nikah sama istri saya?"
Aku gelagapan dibuatnya. Kulirik istrinya yang duduk di antara kami juga sedang terjepit pada posisi yang tidak nyaman.
"Emmmm... Iya mas. Aku memang mimpi itu, mas.." jawabku tanpa bisa mengelak lagi.
"Terus, apa kelanjutan hubungan kalian?" tanyanya seakan mencecarku.
Aku tertunduk diam. Gulatan rasa begitu mengaduk-aduk batinku. Sesungguhnya aku sendiri tidak tahu arah hubungan kami. Di satu sisi aku terobsesi dengannya. Ada bongkahan rasa yang aku yakin itu adalah cinta. Sayangnya dia begitu misterius buatku. Sampai detik ini aku tidak berani menyatakan bahwa dia juga tertarik kepadaku. Sinyalnya terlalu lemah.
"Ah... Nggak ada hubungan apa-apa, Mas. Hanya sebatas teman sekantor, kok."
Itulah sepenggal kalimat yang sanggup kukatakan. Ada sebuah kebohongan yang sedang kututupi...
"Pak....," kali ini istrinya yang memanggilku...
"Ya, jeng..."
"Bapak berangkat siang, ya? Sudah jam 8 lho....".
Aku tergagap, ngucek-ucek mata. Ah, syukurlah aku belum sempat mengatakan apa yangg sudah ada di benakku. Sentuhan jari istriku di telapak kakiku sontak membangunkanku pagi ini.....

March 20, 2012
Post a Comment