Friday, May 31, 2013

Buta Warna



Buta Warna

Pemeriksaan kesehatan hari itu harusnya hal biasa saja. Pengukuran tekanan darah, jumlah denyut nadi per menit, cek rabun mata, dan tes buta warna. Semuanya sudah pernah kulakukan, kecuali yang terakhir. Semua juga normal, sampai ketika aku dihadapkan pada sebuah buku kecil berisi lembaran-lembaran gambar yang dibentuk dari ratusan titik-titik bulat warna-warni. Pertanyaannya sebenarnya sederhana saja, titik-titik itu membentuk angka berapa? Tiga lembar pertama sukses aku jawab, dan benar. Menginjak lembar ke empat aku tidak melihat angka apapun di lembaran itu, demikian juga dengan lembaran-lembaran beikutnya. Dokter yang memeriksaku tidak bereaksi apa-apa. Di dua lembar terakhir aku disuruh menunjukkan pola garis yang terbentuk dari kumpulan titik-titik itu. Lagi-lagi aku sama sekali tidak melihat pola apapun. Dokter itu lantas mengakhiri tesku.
"Pak Slamet, anda buta warna parsial, red-green."
"Waduh, terus gimana, dok?"
"Ya nggak apa-apa pak. Penyakit ini tidak bisa disembuhkan."
Aku melangkah gontai keluar dari klinik Dinas Kesehatan Pemda Surakarta itu. Sepucuk surat keterangan kesehatanku yang baru saja diteken dokter tersebut kugenggam kuat, nyaris membuatnya kumal. Hasil tes barusan membuatku amat risau. Betapa tidak, hasil itu menentukan hidup mati perjalanan studiku di STAN. Aku bisa dikeluarkan dari sekolah itu apabila jasmaniku dinyatakan tidak sehat meski nilai akademikku baik-baik saja.
Ah, ide cemerlang mendadak muncul. Di surat edaran direktur STAN hanya menyebutkan persyaratan surat keterangan kesehatan dari dokter pemerintah, artinya bisa mulai level Puskesmas sampai Rumah Sakit. Kenapa aku tidak minta surat keterangan dari puskesma tempat bapakku bekerja saja? Akhirnya surat sakti itu kudapat dengan mudah, bahkan cuma-cuma. Berkas lamaran menjadi CPNS Departemen Keuangan pun lengkap sudah.
Kepanikan itu kembali datang melanda. Menjelang akhir semester empat kami seluruh mahasiswa STAN diharuskan melakukan uji kesehatan dan uji ketergantungan narkoba. Hebat sekali memang sekolahku ini. Kami tidak hanya dituntut pintar tapi juga harus sehat dan bebas narkoba. Yang membuatku panik bukan uji ketergantungan narkoba, tapi uji kesehatannya. Uji kesehatan kali ini ditentukan tempatnya, yaitu di Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur. Ingatan akan kegagalan tes buta warna setahun yang lalu amat menghantuiku. Aku tidak bisa membayangkan jika aku harus tereliminasi dari sekolah elit ini gara-gara tidak lulus tes buta warna. Mau ditaruh dimana mukaku dan muka bapakku di depan tetangga kampung Wonogiri sana? Aku mau kerja apa kalau drop out dari sini? Aku jadi menyesal mengabaikan panggilan daftar ulang dari Fakultas Ekonomi Akuntasi UGM yang kuterima seminggu setelah pengumuman kelulusan tes masuk STAN. Coba aku dulu kuliah di UGM, pasti tidak terperosok dalam kenistaan cacat bawaan ini. Berhari-hari aku tidak bisa tidur nyenyak. Aku tidak berani cerita ke siapapun tentang kerisauanku, aku bekap sendiri.
Pelan-pelan aku mulai bisa jernih berfikir. Kusimulasikan kemungkinan terburuk, aku drop out dari STAN. Lantas apa? Ah.. Aku masih muda, bisa bekerja apa saja. Okay, terus bagaimana menghadapi uji kesehatan yang tinggal seminggu lagi? Aku mulai bertanya-tanya kepada teman-teman kelas awal yang sudah terlebih dahulu menjalani tes. Mereka cerita bahwa mereka disuruh puasa mulai jam 22.00. Tes meliputi uji sampel darah, sampel urin, tekanan darah, jumlah denyut nadi dan.....uji buta warna. Yang agak melegakan adalah uji buta warna hanya terdiri dari tiga lembar sobekan buku, bukan satu buku sebagaimana di Dinkes Pemda Surakarta setahun yang lalu. Bahkan oleh teman-teman yang sudah diuji duluan mereka sempat memberi kode masing-masing lembaran itu sehingga bagi yang buta warnapun bisa membaca angka yang tersembunyi di balik kumpulan titik-titik itu.
Rupanya ada beberapa teman yang juga buta warna. Mereka datang pagi-pagi sebelum dokter penguji tiba. Ruangan dokter itu tidak terkunci dan lembaran ujian itu ada di laci yang juga tidak dikunci. Jadilah mereka bisa menuliskan kode di lembaran ujian itu. Ah... Dasar mahasiswa STAN...
Aku juga memperoleh info bahwa ujian itu bisa dijokiin, alias diwakili orang lain karena tidak ada pencocokan identitas. Demi jaga-jaga, pada hari H aku mengajak temanku, Endhy Apriyanto, untuk menjadi jokiku apabila kode itu sudah dihapus atau lembaran ujian itu sudah diganti dengan yang baru.
Tibalah saatnya ujian yang paling mendebarkan itu. Kami datang pagi-pagi ke Sudin Jakarta Timur. Benar saja, kami dengan mudah bisa membuka laci dan melihat tiga lembar kertas ujian buta warna. Di pojok kiri atas sudah tertera huruf kecil ditulis memakai pensil, A untuk angka 12, B untuk angka 15 dan C untuk angka 24. Dengan langkah mantap, tanpa joki, aku menjalani ujian itu.
Tanpa kode itu aku memang tidak bisa membacanya.

Terminal 2F bandara Soetta, 20 Mei 2013, 07:44:21
Post a Comment