Friday, May 31, 2013

Telepon Gelap



Telepon Gelap

"Halo Met...ini Tri, bisa bicara sebentar?"
"Iya bisa mas... Maaf Tri siapa ya?"
Belum sempat penelepon itu menjawab pertanyaanku sambungan telepon itu mendadak terputus. Segera kutelepon balik, nada sambungnya putus-putus. Ah... Gedung baru KPDJP ini memang belum sempurna. Repeater belum terpasang di setiap lantai sehingga sinyal seluler tidak stabil.
Aku mencoba mengingat-ingat, siapa gerangan Tri yang barusan meneleponku. Kalau dari suaranya terdengar sudah paruh baya. Terlintas tak begitu banyak nama Tri yang kukenal. Iseng kutanya bu Eneng, direkturku. Kebetulan saat itu aku sedang berada di ruangannya.
"Bu, boleh pinjam hape? Mau lihat nomor telepon yang baru saja menghubungi saya."
Aku memang biasa memegang ponsel direkturku yang satu ini. Dia bahkan suka menyuruhku menerima telepon jika nomornya tidak dia kenal.
Segera kutulis nomor telepon yang barusan menelponku barusan, +62816114****. Aku berharap nomor itu ada di daftar kontak direkturku karena feelingku mengatakan yang barusan meneleponku adalah pejabat di kantorku. Feelingku mengarah ke satu nama... Benar saja, di telepon muncul nama Tri Kepegawaian. Aku terkesiap, nama itu begitu tenar karena jabatannya. Dia Kepala Bagian Kepegawaian. Jabatan prestisius karena wewenangnya yang amat strategis, menentukan "hidup-mati" karir kami di DJP. Segera kubatalkan panggilan itu.
Aku terduduk lemas. Pikiranku menceracau tak tentu. Ada apa ya kok Kabag Kepegawaian tiba-tiba menghubungiku? Mau dipromosikankah? Kena sanksikah? Ah..jangan-jangan....
Aku segera bertindak. Aku mencari lokasi yang bagus sinyalnya untuk menelepon, dan itu adalah lantai dasar gedung ini. Kucari tempat yang sepi agar apabila sesuatu yang buruk terjadi tidak banyak orang yang melihat reaksiku. Nada panggilanku terdengar jelas. Tak lama panggilanku dijawab singkat,
"Sebentar ya Met, nanti aku hubungi lagi."
Telepon ditutupnya. Ah... Aku makin panik tapi tak bisa berbuat apa-apa.
Segera kusimpan dan kunamai nomor telepon keramat itu. Aku hanya bisa menunggu dengan rasa cemas.
Panggilan yang kutunggu-tunggu itu akhirnya datang jua pada pukul tiga sore hari.
"Met, ini Tri kepegawaian, bisa bicara?"
"Siap, bisa pak. Ada yang bisa saya bantu, pak?"
"Ini Met... Anakku mau beli kamera, yang bagus untuk pemula merk apa ya?"
Aku terduduk lemas.

*Lapangan SSB Angkasa, 19 Mei 2013, 10:13:23
Post a Comment