Thursday, May 2, 2013

45 Menit



45 Menit

Jalan tembus itu sepanjang 300 meter, selebar 3 meter.   Menghubungkan kampung belakang dengan Pasar Kramat Jati. Seharusnya menjadi jalan searah, tapi kenyataannya menjadi banyak arah, beragam yg lewat. Pejalan kaki, mobil pribadi, truk, motor, gerobak dorong, dan sebagainya. Beragam pula profesinya.
Pagi ini jalan itu teramat berisik. Sepeda motorku yg seharusnya bisa lewat dengan sempurna kali ini menyerah begitu saja. Aku memilih minggir, menghindari pertarungan sengit antar kami pengguna jalan. Kutemukan sebuah oase, warung kopi. Penjualnya seorang ibu berumur 50 tahunan. Mukanya berekspresi amat datar, bahkan ketika aku datang sebagai pembeli. Sebenarnya sudah lama aku nggak ngopi. Deraan maag memaksaku meninggalkan sejumput kesenangan akan minuman berwarna hitam bertekstur kasar ini. Pagi ini kulawan ketakutanku.

Perlu waktu agak lama buat si pemilik muka datar itu untuk menyajikan pesananku yang teramat sederhana. Di sebelahku duduk seorang bapak berusia 55 tahunan sedang asyik membuat ketupat. Ah, kebisaan yg tidak kupunyai. Dia teramat asyik melakukannya, ditemani anaknya yang masih balita. Kutaksir dia juga seperti aku, menunggu istri berbelanja.
 
Di seberang mejaku duduk segerombolan pria paruh baya. Ada lima pria, berpenampilan sederhana. Obrolannya seputar harga ayam yang sedang diturunkan dari atas truk. Tak lama datang seorang pria lain bergabung dengan mereka. Penampilannya lebih bersih, berjaket kulit sintetis, naik motor klimis. Pembawannya penuh percaya diri. Obrolan mereka makin seru. Ditingkahi kepulan asap rokok dan denting gelas beradu dengan lepekan.

Di belakang truk yangg sedang nurunin ayam bercokok pria berumur 60an. Bergaya jawara, berkupluk hitam, penampilannya penuh pesona. Dia tampak berkuasa, mengatur pergerakan ayam, kemana saja akan dikirimkan. Ah.... Sebentar lagi ratusan nyawa mereka akan melayang, menjelma menjadi bongkahan daging lezat, terhidang di atas meja makan kita. Pria itu seakan tidak peduli, bahwa truknya membuat kemacetan merajalela. Aroma tidak sedap ayamnya membuat puluhan orang tersiksa, menutup hidung dan memicingkan mata..

Penjual tahu terduduk lesu. Menunggu pembeli yang sedang entah dimana. Yang lewat berikutnya pasti bukan tamu yg dia harapkan kedatangannya. Seorang pengamen buta, berusia tua. Berjalan tersaruk-saruk tak tau arah, tak tau berapa rupiah dia dapatkan, tak tak warna kecuali gelap gulita. Ah, aku jadi sadar, aku hanya buta warna, tidak buta segalanya...

Agak terhenyak aku dengan kehadiran tiba-tiba sesosok manusia. Muncul dari arah kiriku, berkepala plontos, berpakaian jubah kuning kusam, berkalung tasbih. Mata sipit, agak tambun. Berjalan mantap dari satu orang ke orang lain, menyodorkan cawan tembaga, meminta sumbangan. Seorang bhiksu tengah mencari berkah. Teringat dengan kata bijak, dalam rejeki kita ada hak orang lain.... Semoga berkah ya Su.... (Aku gak tau harus nyebut apa ke bhiksu)...

Tak terasa 45 menit sudah aku menunggu istri berbelanja, katanya cuma mau beli bumbu giling. Entah kenapa sedemikian lama. Ah, tiada mengapa, toh dia sedang berbelanja untuk kami semua...
Post a Comment