Thursday, May 2, 2013

Asbak Tabung


Asbak Tabung

Asbak tabung dari bahan stainless steel yang terletak di dekat ujung tangga lantai dua KPP. Pratama A menggodaku untuk mampir sejenak. Orang nomor dua di Direktorat Jenderal Pajak sedang memberikan pengarahan di Ruang Rapat kantor tersebut. Tugasku tentu saja mendokumentasikan kegiatan tersebut. Beberapa jepretan kamera rasanya cukup, tinggal menunggu momen penutupan. Alat prekam suara juga sudah kupasang di depan pembicara, karena kualitas tata suara di ruang rapat kantor ini tidak begitu bagus.  Tujuanku keluar ruang rapat sebenarnya hanya ingin ke toilet. Apa daya, asbak dan rasa asam di mulut menggodaku untuk berhenti sejenak. Sebenarnya aku ragu apakah aku boleh merokok di sini, mengingat ini adalah ruangan berpendingin udara. Sekumpulan puntung rokok di asbak tersebut membuat keraguanku sirna. Di luar kota Jakarta aturan larangan merokok di dalam gedung memang masih longgar. Bahkan di lingkungan Rumah Sakit pun orang masih bebas merokok.
Belum habis sebatang rokok kuhisap ketika seseorang yang kutaksir adalah pesuruh kantor ini naik ke lantai dua, mengantar seorang tamu ke Seksi Ekstensifikasi yang letaknya persis di depanku. Yang dia antar adalah ibu-ibu separuh baya, mengenakan seragam Pemda setempat, berkerudung merah bata. Tak lama berselang tamu itu keluar dan berdiri di dekatku.
"Mau ketemu siapa bu?”, tanyaku menyapa.
"Ini pak, mau daftar NPWP kolektif, tapi harus menunggu. Petugasnya sedang istirahat," jawab itu itu dengan muka masam.
Aku terhenyak, ku lirik jam tanganku menunjukkan pukul 14.45 WIB. Waktu istirahat sudah berakhir hampir dua jam yang lalu. Aku dilanda kebimbangan, meneruskan isapan rokokku, kembali ke ruang rapat atau membantu ibu itu.
Sejurus kemudian ruang Seksi Ekstensifikasi itu aku masuki. Lengang, hanya ada seorang pria memakai baju bebas tampak sedang meneliti selembar print out.
"Maaf mas, Sampeyan pegawai sini," tanyaku.
"Bukan pak, saya hanya bantu-bantu di sini," jawabnya.
"Kemana para pegawainya? Itu ada yang mau daftar NPWP kok nggak dilayani," cecarku.
Kadang statusku sebagai orang Kantor Pusat menambah rasa percaya diri ketika menghadapi "orang daerah".
"Eh...iya pak, petugasnya sedang istirahat," jawabnya setengah tergagap.
"Istirahat? Ini jam berapa mas?" tanyaku kian sengit. "Istirahat apa ikut pengarahan di ruang rapat?" tanyaku meyakinkan.
"Saya kurang tahu, pak. Mungkin ikut rapat", jawabnya seakan menyerah dengan interogasiku.
Tanpa kusadari tamu tadi rupanya menguntitku. Dia berdiri di belakangku, ikut mendengarkan obrolanku barusan.
Aku baru saja memutuskan untuk kembali ke ruang rapat ketika sesosok tamu lain datang menghampiriku. Seorang pria, berusia 40-an tahun tampak menenteng selembar map. Tanpa ragu dia menyapaku.
“Pak, saya mau ketemu petugas penagihan pajak”.
Dia menyerahkan map yang dibawanya kepadaku. Aku agak ragu menerima map tersebut. Rupanya tamu itu menangkap keraguanku. Segera diambil kembali map itu, dibukanya dan dikeluarkan isinya, sepucuk surat.
“Ini pak, saya mendapat panggilan ke sini. Harusnya saya datang hari Rabu lalu, tapi baru bisa datang hari ini karena saya baru pulang dari luar kota, pak”, ujarnya menerangkan.
Kini aku tak ragu menerima surat itu. Perihalnya singkat, Konfirmasi Tunggakan Pajak tahun 2011. Isinya adalah daftar Surat Ketetapan Pajak atas nama sebuah perusahaan, nominalnya ratusan juta. Aku baru sadar bahwa ruangan Seksi Ekstensifikasi ini letaknya berdampingan dengan ruangan Seksi Penagihan. Hanya disekat papan partisi setinggi 60 cm. Kusapukan pandangan ke ruangan tersebut, tidak ada satu pegawai pun yang siaga di ruangan.
Aku berpikir cepat, selembar kertas kosong yang kusobek dari notes yang selalu kusiapkan di tas kamera segera tertoreh tinta. Kertas itu lantas kuserahkan secara diam-diam ke Kepala Kantor yang sedang duduk di samping orang nomor dua institusi ini. Kuperhatikan dahinya mengerenyit. Dia segera menyerahkan selembar kertas tersebut ke staffnya yang duduk di seberangnya. Staff itu kulihat meneruskan kertas tersebut ke bawahannya yang juga ada di ruang rapat itu. Bergegas bawahan tersebut keluar ruangan.
Pukul 16.00 pengarahan berakhir. Aku sempatkan melirik ke ruang Seksi Ekstensifikasi tempat tamu tadi berada. Dia sedang diterima oleh staff yang membawa selembar kertas tadi.
Rapat itu purna dengan sempurna...
Post a Comment