Tuesday, June 11, 2013

Warung Biru



Warung Biru, demikian kami menyebutnya. Belakangan kami menyingkatnya menjadi Waru. Julukan itu kami berikan selain karena dindingnya berwarna biru, juga untuk membedakan dengan Warung Ijo yang letaknya berdekatan. Sosok bangunan berdinding seng itu terletak di mulut gang. Kami menemukannya secara tidak sengaja. Sekolah di SMA 3 Solo, jauh dari orang tua, memaksa kami bertiga, aku, Kandar, Ibnu untuk mandiri. Sebetulnya bu Broto, induk semang kami menyediakan paket kost termasuk makan 3 kali sehari. Memasuki tahun ke dua, kebosanan melanda kami. Kami memilih makan di luar alias jajan. Konsekuensinya setiap waktu makan kami harus ke warung untuk nyari makan. Untunglah kami sekolah di Solo, kota yang ramah buat kami, anak rantau yang berkantong cekak. Meski begitu, kantong kami sering teramat cekak sehingga warung favorit kami adalah bukan warung yang makanannya enak tapi warung yang harganya murah dan nasinya banyak.
 Yang rada merepotkan adalah ketika bulan puasa tiba. Saat sahur kami harus berpacu dengan datangnya waktu subuh. Sebenernya nggak terlalu jadi masalah kalo kami mau bangun lebih awal. Yang sering terjadi adalah kami bangun mepet waktu subuh, sehingga kami senantiasa diburu waktu.
Seperti yang terjadi saat itu, jam sudah menunjukkan pukul 04.15 WIB, artinya waktu sahur kami tinggal sekitar 20 menit lagi. Warung Ijo yang selama ini jadi tumpuan kami pasti sdh ludes diserbu pembeli. Kami tetap mengambil rute ke arah Warung Ijo, karena arah itulah satu-satunya kemungkinan kami menemukan warung yang buka saat sahur. Dengan bergegas kami bertiga jalan kaki menyusuri jalan RE. Martadinata, Solo ke arah Kampung Sewu.
Warung Ijo yang menjadi tujuan kami masih 300an meter lagi ketika sekonyong-konyong pandangan kami bertiga bersirobok dengan sosok bangunan berwarna biru itu. Penerangannya amat minim, hanya neon 15 watt semata wayang, sehingga keberadaannya seolah tenggelam di antara bangunan di kiri kanannya. Di luar warung ada bangku panjang yang lagi diduduki 3 orang sambil merokok. Sepertinya mereka para tukang becak yang habis sahur juga.
      Tanpa pikir panjang kami membelokkan langkah ke warung itu. Tata ruangnya amat seadanya, dua bangku panjang tanpa sandaran mepet ke dinding seng. Di depannya terhampar beberapa baskom berisi pilihan sayur, oseng, dan lauk pauk. Terasa sesak mengingat ukurannya hanya sekitar 9 meter persegi. Pelayannya seorang perempuan paruh baya, mengenakan pakaian seadanya, untuk tidak menyebut amat bersahaja. Di belakangnya seorang pria tengah mengelap piring yang habis dicucinya di ember di ruangan ini juga. Aku menaksir mereka adalah suami istri.
Kami bertiga segera mengambil posisi duduk berjajar.
"Dhahar napa, mas? (Makannya sama apa, mas?)" sapanya kepada kami.
Aku yang pertama kali angkat bicara,
"Trancam mawon, bu. (Trancam aja, bu). Minumnya susu segar, kasih kopi dikit."
Menyusul Ibnu dan Kandar pesan menunya masing-masing. Kami segera menyantap makanan cepat saji tersebut mengingat waktu subuh akan segera tiba. Saatnya berhitung dan membayar.
"Berapa bu?" tanyaku.
"Lima ratus rupiah, mas," jawabnya sambil senyum.
Aku sempat tidak yakin dengan angka yang dia sebutkan. Untuk nanya aku gengsi. Makanya aku sodorkan pecahan lima ribuan kepadanya. Dia sibuk mencari kembalian di antara uang recehan yang dia taruh di kaleng biskuit.
 "Monggo mas kembaliannya," katanya sambil menyerahkan empat lembar uang ribuan dan lima buah uang ratusan.
Artinya benar, menu nasi trancam dan susu segar itu hanya seharga lima ratus rupiah. Kandar dan Ibnu juga bengong mengetahui harga makanan mereka sama denganku. Sebagai perbandingan, di Warung Ijo dengan menu serupa bisa seharga seribu rupiah. Tentu saja ada harga yang harus kami bayar. Kami makan berbaur dengan tukang becak dan kejorokan warung seluas 9 meter persegi yang nyampur jadi dapur dan tempat cuci piring. Tak apalah... Dua tahun kami labuhkan makan siang dan malam kami di Warung Biru itu...
Post a Comment