Tuesday, June 11, 2013

Culik



Sore itu tadinya amat menyenangkan. Saya, kang Saidi, Mukalim, Yoto dan beberapa teman lain sedang berkumpul di rumah Yoto. Kami sedang berbincang ringan sepulang mencari rumput untuk pakan sapi dan kambing. Di tangan kami masing-masing tergenggam sebilah sabit yang biasa kami pakai untuk membabat rumput liar. Juga sebatang potongan pohon bambu. Di depan kami berderet lem kertas, kertas sampul, benang jahit dan tambang plastik. Kami sedang membuat layang-layang.
Sekarang memang sedang musim angin. Permainan kami bergeser dari mancing ke layang-layang. Saya perhatikan dalam satu tahun kami bisa memainkan bermacam-macam jenis permainan, tergantung musim. Jika sedang musim hujan, kami memilih main air, berenang di cerukan sungai yang kedalamannya sekitar 1,5 meter. Cukup untuk menenggelamkan saya. Kami memakai gedebog pisang sebagai pelampung. Ketika habis lebaran kami biasanya main wayang kulit dan petasan. Wayang kulit dari kertas kardus itu kami beli di pasar desa kami. Masing-masing anak membeli satu tokoh wayang sehingga terkumpullah beberapa tokoh wayang. Maka tak lama kemudian kami bergiliran menjadi dalang. Di lain waktu kami main gobak sodor. Permaianan ini konon warisan kompeni. Kami suka bermain gobak sodor di lapangan bulu tangkis depan rumah saya. Permainan yang tak kalah serunya tentu saja umbul. Permainan ini mengadu keberuntungan dengan melempar kartu bergambar tokoh wayang. Tak ketinggalan petak umpet adalah permainan wajib di waktu yang lain. Saya pernah hampir menangis ketika saya dapet tugas jaga "ce" (tempat berkumpul). Sampai menjelang magrib tak satupun lawan saya temukan. Rupanya mereka ngerjain saya. Mereka sembunyi dengan pulang ke rumah masing-masing dan tak kembali ke "ce'.
Demikianlah sore itu. Kang Saidi sudah berhasil menyelesaikan layang-layangnya. Demikian juga dengan yang lain. Tinggallah saya seorang yang ketinggalan. Saya masih asyik mengikat rangka layang-layang. Saya memang paling tidak pandai mengerjakan hal-hal yang berbau kerajinan tangan. Bagi saya ini adalah sebuah pekerjaan sulit.
Sedang asyik-asyiknya kami menyelesaikan layang-layang kami, mendadak terdengar suara nenekku.
"Anto, pulang!"
"Yah, Mbah.... Kan belum surup (senja)."
"Wis pokoke pulang. Saidi juga pulang."
"Nanti ah, Mbah!"
"Weeee.... Kok ngeyel to. Ada culik!!!."
Kami tertegun. Culik adalah kata yang amat menyeramkan bagi kami. Culik adalah sebutan bagi orang jahat yang suka menculik anak kecil. Konon katanya setelah diculik, mata kita akan dicongkelnya. Culik suka berkeliaran di tempat-tempat sepi. Gerakannya amat cepat sehingga sampai sekarang para tetua kami tak berhasil menangkapnya. Kami serentak bubar. Saya minta tolong kang Saidi untuk menyelesaikan rangka layang-layang saya. Kakak sepupu saya ini memang amat baik hati. Meski umurnya lebih muda daripada saya, saya memanggilnya dengan sebutan kang. Dia anak pakde saya, kakak ibu saya.
"Besok sore kita terusin lagi ya," ujarku ke teman-teman sembari kami bubar.
Di rumah ibu sudah menunggu dengan cemas. Ibu sedang menggendong adik saya yang paling kecil, Indarto. Dia baru berumur setahun. Adik saya yang lain, Bowo dan Titik sedang menyantap makan sore mereka, nasi thiwul lauk tempe mentah dan sambel bawang.
"Laper nggak, le? Itu makan sama adikmu."
"Iya, bu..."
"Mau digorengin telur, To?"
"Nggak usah, Mbah. Pake tempe sama sambel wae."
Begitulah nenek dari ibuku ini memperlakukanku. Di saat cucu yang lain cuma makan sama tempe mentah dan sambel bawang, saya selalu ditawarin lauk yang lebih enak. Kesendirian saya sebagai anak sulung selama empat tahun telah membuat saya jadi cucu kesayangannya.
Saya lantas bergabung dengan dua adik saya. Makan nasi thiwul lauk tempe mentah dan sambal bawang di sore hari memang amat nikmat. Kadang-kadang sambalnya kami kasih walang sangit. Walang sangit adalah salah satu jenis belalang yang habitatnya adalah padi yang mulai berbiji. Ukuran tubuhnya 5 kali ukuran tubuh nyamuk, tak begitu besar. Aromanya amat tajam dan khas. Ketika disambal, serangga ini menjelma menjadi perangsang nafsu makan yang luar biasa.
"Habis makan jangan main keluar lagi yo, le."
"Iya bu."
"Culik lagi gentayangan."
Pagi itu saya berangkat sekolah dengan perasaan yang amat takut. Sekolah saya memang rada jauh, 4 kilometer dari rumah. Baru 4 bulan saya pindah ke sekolah ini. Kata bapak, sekolah peninggalan Belanda ini mutunya lebih bagus daripada sekolah lama saya yang jaraknya hanya 300 meter dari rumah. Lokasinya pun sudah berada di desa tetangga. Saya harus menyeberangi sungai, melewati bulak (kawasan yang tak ada rumahnya), bahkan melewati batu besar yang konon kalau malam banyak hantunya. Sejujurnya saya tidak terlalu suka menjalani ini. Saya satu-satunya anak dari desa ini yang bersekolah di sana.
Sungai itu sudah di depan mata. Airnya dangkal saja, karena sedang musim kemarau. Saya surut langkah. Di seberang sungai jalannya menanjak dan berupa bulak. Di sebelah kiri adalah sawah luas, sementara sebelah kanannya berupa tebing yang berbatasan langsung dengan bukit Tenggar. Orang-orang bilang di situlah culik itu bersembunyi.
"Le.... Anto.....!!!"
Sebuah suara memanggilku dari seberang sungai. Saya amat kenal dengan pemilik suara itu, wo Kami. Anaknya sekelas dengan saya, namanya kang Wiyadi.
"Inggih, Wo..."
"Cepet nyebrangnya, wo Kami tunggu di sini."
Rupanya dia paham dengan ketakutan saya. Saya pun segera menyeberangi sungai itu.
"Sana, samperin kakangmu Wiyadi. Dia masih di rumah. Berangkat ke sekolah bareng wae yooo... Nanti ada culik."
"Inggih, Wo."
Saya bergegas melangkah meninggalkan wo Kami yang sedang menuju sungai untuk mengambil air. Keluarga ini memang sudah seperti keluarag saya sendiri. Bapak dan ibu wanti-wanti, kalau pulang kehujanan dan saya tidak bisa menyeberang sungai karena banjir, saya disuruh mampir ke rumah wo Kami. Benar saja, suatu hari sepulang sekolah hujan turun dengan lebat. Sungai kecil itu berubah menjadi lautan air yang tidak mungkin saya seberangi. Saya akhirnya mampir ke rumah wo Kami. Dengan penuh perhatian dia menyiapkan makan siang buat saya dan kang Wiyadi.
Pulang sekolah siang itu saya minta diantar kang Wiyadi sampai pinggir sungai. Kang Wiyadi memang orangnya pemberani. Badannya juga lebih besar dibanding saya. Tulangnya keras banget. Kalau sedang main bola dia amat berani beradu tulang kering dengan lawannya.
Sesampai di rumah nenek sudah menunggui saya di teras. Wajahnya amat lega melihat kedatangan saya.
"Bapakmu itu memang tega, le. Mosok anak sekecil ini disuruh sekolah jauh-jauh. Kalo ada apa-apa gimana, coba," nenek menggerutu sembari menuntun saya ke dalam rumah.
"To, sana ganti baju, makan terus tidur. Nggak usah nyari rumput. Nggak usah main keluar. Nanti ada culik."
"Iyaaaa, buuu..."
Perintah itu tak mungkin saya lawan. Meski ibu dan nenek bukan orang yang galak, saya malas melawan mereka. Ujung-ujungnya perlawanan saya pasti akan terdengar oleh bapak. Dan itu amat berbahaya. Saya memilih tak mengambil posisi berhadapan dengan bapak saya. Berat resikonya.
"Le..le.. Bangun. Sudah sore," nenek membangunkan saya dengan lembut.
"Sana mandi. Tu kakangmu Dardi sudah nunggu di depan, mau nyuapin kamu."
Saya sontak bangun. Segera mandi dan berganti pakaian. Rupanya kang Dardi habis disuruh bapak membantu mencari rumput untuk pakan.
"Sini To, makan."
"Iyo, Kang. Tadi waktu nyari rumput ketemu culik nggak, Kang?"
"Enggak, kalo ketemu mau tak sembelih."
Kakak sepupu saya ini memang perangainya agak kasar. Tapi dia berubah menjadi pria lembut ketika menyuapiku, seperti sore ini.
"Culiiiiiik.... Culiiiiiik... Culiiiiiiiik!!!!!!"
Suara teriakan Yoto mengagetkan kami.
"Ada apa, To?"
"Iku Ri, culiknya ketangkep. Lagi diarak di nJarum."
"Serius?!!"
"Iyoooo... Ayuk nonton."
"Kang Dardi, makannya udahan dulu yo, nonton culik dulu."
Tanpa menunggu jawaban kang Dardi saya segera menyusul Yoto yang sudah berlari ke arah nJarum.
Pos ronda itu letaknya persis di tusuk sate pertigaan nJarum. Bangunannya sudah tua, bertembok semen dan beratap genteng, mirip bangunan rumah. Di depan pos itu sudah berkerumun puluhan manusia, tua dan muda serta anak-anak. Mereka tengah mengerubungi orang yang diduga culik itu. Rupanya culik itu ditangkap lantas digelandang beramai-ramai ke pos ini. Tubuhnya diseret dengan paksa, dimasukkan ke dalanm pos ronda. Pintu keluar pos ronda dipagari manusia, sehingga dia tak berkutik.
"Mana culiknya...mana culiknya!!!" teriak kang Dardi yang tiba-tiba sudah muncul di belakang saya.
Rupanya kang Dardi ikut menyusul saya. Di tangannya tergenggam sebilah parang milik bapak yang biasa dipakai bapak untuk mengupas kelapa. Dia menerobos masuk ke pos ronda itu. Orang-orang memberi jalan kepadanya. Tak ada sepatah kata pun terucap dari mereka.
Tak lama dia keluar menyeret sesosok pria tinggi kurus. Tubuhnya amat dekil. Wajahnya dipenuhi cambang dan jenggot mirip Fidel Castro. Pakaiannya kumal dan compang-camping. Tangannya memegang bambu untuk memikul dua benda, buntalan kain dan kaleng bekas terikat di kedua ujung bambu itu. Di kaleng bekas itu terikat satu benda yang membuat saya terkesiap, layang-layang yang baru selesai rangkanya.

Warung soto ceker samping kantor, 11 Juni 2013, 15.00 WIB
Post a Comment