Saturday, June 8, 2013

Kenapa Saya (Pintar) Menulis?



Hari Jum'at minggu lalu.
Sholat Jum'at baru saja saya tunaikan. Antrian masuk lift gedung utama, seperti biasa sudah mengalahkan antrian tiket kereta lebaran. Saya memilih melambatkan langkah. Tak ada yang perlu dikejar, pikir saya. Kebetulan ada teman datang menyapa. Dia teman fungsional pemeriksa dari KPP. Pratama Makassar Utara. Sedang asyik kami berbincang, seorang direktur urusan IT melewati kami. Kami memang sudah saling kenal baik sejak lama, sejak dia masih menjabat kepala seksi di KPP. Gambir Satu.
"Wah, Met. Hebat kamu."
Bapak yang satu ini memang suka memuji saya.
"Kenapa, pak?"
"Saya baca-baca tulisanmu di blog. Bagus, enak dibaca."
"Makasih udah mau mampir, pak."
Itulah sepenggal perbincangan kami sebelum akhirnya kami berpisah di halaman kantor.
Sore itu saya baru saja turun dari lantai 23. Supervisi editing video viral story ini amat melelahkan. Langkah saya baru menjejak di lantai 16 ketika dua orang wanita cantik salah satunya menyapa saya.
"Mas Slamet ajarin saya nulis dong."
"Waduh, nggak salah, bu?"
Setahu saya ibu yang satu ini memang bukan orang sembarangan. Dia bertugas di unit organisasi yang pekerjaannya memerlukan pemikiran yang serius, tidak seperti pekerjaan saya yang lebih mengandalkan otot.
"Iya bu Nia, mas Slamet ini tulisannya bagus-bagus. Enak dibaca."

Saya hanya tersenyum sambil berlalu.
Dua pujian itu tidak begitu berarti apa-apa terhadap semangat menulis saya. Kebiasaan menulis saya sudah jauh hari bahkan tahun saya lakukan. Tugas mengarang bebas yang bagi sebagian orang dianggap momok, bagi saya awalnya juga demikian. Amat sulit menuliskan kalimat, bahkan kata pertama. Saya sering mentok mau menulis apa. Bahkan tugas skripsi S-1 saya memakan waktu hampir dua tahun. Percuma saja rasanya saya tiap semester membayar lembaga pendidikan tempat saya kuliah.

Memulai Menulis
Buku harianlah sejatinya tumpahan karya pertama saya. Buku itu berwarna merah jambu, bermotif bunga di kulitnya. Saya mulai menulis buku harian ketika menapaki semester satu kuliah di STAN. Saya lupa kenapa waktu itu membeli buku itu. Lupa pula apa yang menggerakkan saya menulisinya. Isinya cerita seputar keseharian di kampus. Saya menulis apapun, baik ketika sedang senang maupun sedih. Saya hanya menulisnya, tanpa ada kesempatan untuk mencoret apa yang telah saya tulis untuk sekedar mengoreksinya. Saya tidak pernah mengoreksi tulisan saya di buku itu. Tata bahasanya juga kacau. Urutannya saya abaikan. Pokoknya saya hanya menulis sekehendak tangan menerjemahkan isi otak saya. Oh iya, ketika masih duduk di bangku SMP Negeri Tirtomoyo, waktu itu saya kelas II, saya ikut lomba mengarang bebas. Saya mengarang sebuah tulisan berjudul “Penyelewengan Ajaran Nabi Muhammad saw”. Ajaib, karangan saya mendapat juara dua. Saya sendiri ragu dengan dasar juri mendudukkan tulisan saya pada peringkat tersebut. Jangan-jangan peserta lomba itu cuma dua.

Puisi
Ketika saya sedang melow, saya biasanya menulis puisi. Kenapa puisi? Karena lebih mudah. Puisi tidak terikat aturan-aturan tata bahasa yang rumit. Kalimatnya pun lebih pendek. Saya juga lebih bisa berekspresi dengan puisi. Kesulitan saya ketika menulis puisi adalah diksi dan metafora. Saya berangan-angan bisa membuat metafora yang dahsyat seperti Kahlil Gibran. Kebetulan saya mengoleksi beberapa bukunya.

Kapan dan di Mana Saya Menulis
Saya menulis kapan saja dan di mana saja. Pagi-pagi ketika melangkah dari parkiran motor ke lantai tempat saya berkantor, siang ketika senggang, malam ketika nongkrong sambil ngeteh di teras, di ruang tunggu bandara, di bus Damri, di tengah pasar ketika menunggu istri belanja, di toilet, di mana saja dan kapan saja. Tulisan berjudul "Kang Dardi" (http://maslametstudio.blogspot.com/2013/05/kang-dardi.html) saya tulis di tengah malam, di teras rumah setelah mencuci sepeda motor saya, sembari ngobrol dengan adik saya, Indarto. Tulisan berjudul "Syuting-e Bubar" (http://maslametstudio.blogspot.com/2013/05/syuting-e-bubar.html) saya tulis mulai dari melangkah dari parkiran motor kantor dilanjutkan di ruangan Pamorku sembari mengguntingi koran berita hari itu.Tulisan sebelum ini yang berjudul "Jahe Hangat (http://maslametstudio.blogspot.com/2013/06/jahe-hangat.html) saya tulis mulai hari Kamis sore, 6 Juni 2013, di pesawat yang menerbangkan saya ke Batam kemudian saya teruskan kemarin pagi di sela tugas liputan saya di Batam. Tulisan ini saya buat di teras rumah sembari ngeteh, sepulang saya dari dinas ke Batam malam tadi.
Jaman telah memudahkan kita. Kita tak memerlukan lagi alat tulis di tangan, cukup telepon seluler atau tablet, atau laptop atau PC. Saya sendiri lebih suka menulis di aplikasi Memo yang ada di ponsel saya. Menurut saya ini cara paling praktis karena hampir setiap saat saya memegang ponsel. Tulisan di aplikasi tersebut bisa langsung saya unggah di Facebook. Amat praktis.

Nyata atau Fiksi?
Saya menulis kedua-duanya. Akan tetapi 95% tulisan saya adalah nyata kejadiannya. Ada bumbu di sana-sini yang sifatnya fiksi tapi itu tidak mengubah esensi kenyataan. Semata hanya untuk menguatkan alur cerita dan mendramatisir peristiwa. Pun juga dengan nama tempat dan nama tokoh, semua nyata.

Apa yang Saya Tulis?
Apa saja. Saya tidak membatasi topik. Roman, kisah kehidupan, urusan kantor, bahkan urusan sepele, amat sepele. Itu mungkin yang membuat saya tidak merasa kehabisan bahan. Secuil ide bisa berkembang menjadi sebuah cerita utuh.

Apa Pemicu Hasrat Menulis
Bisa apa saja, yang penting "menekan" pikiran saya. Sebenarnya begini, ada orang yang mudah mencurahkan isi hatinya ke orang lain secara terbuka. Saya tidak bisa. Saya sebetulnya orang yang introvert. Akhirnya saya hanya bisa "curhat" lewat tulisan. Saya lebih senang menjadi pendengar dari pada menjadi pembicara. Curhat lewat tulisan tak terikat waktu, berbeda dengan curhat ke sesama manusia.

Seberapa Kuat Ingatan Saya?
Sangat kuat. Teman saya, Des, bilang ingatan saya fotografik. Maksudnya mungkin saya bisa menggambarkan dengan jelas apa yang saya ingat. Benar seperti itu. Saya bahkan masih ingat kenangan masa kecil ketika saya masih duduk di bangku kelas 1 SD, ketika pakde saya mengajari saya membaca dengan cara mengeja. Di tangannya tergenggam batang bambu kecil untuk menunjuk deretan huruf di papan tulis. Saya masih ingat ketika suatu malam bapak saya mendamprat salah satu paman saya karena teledor dengan hewan piaraannya. Saya masih ingat saat-saat kelahiran adik saya di tahun 1979 ketika saya baru berumur 5 tahun. Memori otak saya menyimpan beribu kenangan masa lalu, baik yang indah maupun yang kelam.

Apa Maksud Tulisan Saya?
Tidak ada. Saya hanya menulis, hanya itu saja. Bahkan di lembar-lembar sunyi buku harian tertera ratusan kisah yang amat pribadi. Saya tidak mengejar ketenaran dengan mempublikasikan tulisan saya di media sosial atau di blog. Publikasi tersebut lebih saya maksudkan agar siapapun bisa lebih mengenal saya. Saya juga merasa punya hutang kepada institusi saya yang beberapa kali membiayai saya untuk belajar menulis.

Siapa Penulis Idola Saya?
Untuk cerpen dan gaya bertutur saya amat kagum dengan mbah Umar Kayam. Membaca itu menurut saya tujuan utamanya adalah mencari kesegaran. Membaca tulisan dia membuat pikiran saya segar.
Untuk puisi saya amat kagum dengan Kahlil Gibran. Metafora dan kedalaman makna kalimatnya luar biasa.
Untuk topik sosial saya menyukai catatan pinggirnya Goenawan Mohammad. Dia amat pandai meracik dan menghubungkan sebuah gejala sosial satu dengan lainnya. Referensi pustakanya juga amat kuat.

Apa Aliran Tulisan Saya?
Apa ya? Saya sejujurnya tidak bisa mendefinisikan aliran tulisan saya. Saya hanya menarasikan sesuatu, saya tambahi deskripsi secukupnya. Saya tak pandai menganalogikan satu kisah dengan kisah lain dalam satu bundel cerita. Saya bercerita dengan gaya lempeng-lempeng saja.

Mau Diapakan Tulisan Saya?
Beberapa teman menyemangati saya untuk membukukan tulisan-tulisan saya. Pengin sih, tapi saat ini saya lebih senang seperti ini adanya. Siapalah saya, saya belum cukup percaya diri untuk mencoba menyodorkan tulisan saya ke penerbit manapun. Biarlah saya "terbitkan" sendiri dulu saja.
Jadi demikianlah adanya. Saya menulis bukan untuk siapa-siapa. Saya menulis untuk mencurahkan isi hati saya. Sesuatu yang memang sulit saya ungkapkan secara lisan, bahkan ke pasangan hidup saya sekalipun.

Kampung Makasar, 08 Juni 2013, 00:55:13 WIB.

Post a Comment