Wednesday, May 29, 2013

Kang Dardi



Kang Dardi

Perawakannya pendek, hanya seratus enam puluh centi meter, kekar, dan tenaganya luar biasa. Sekarung gabah seberat hampir sekuintal sanggup dia angkat dengan mudah.  Kalau diajak manggul kayu, kawan segotongannya keteteran karena dia sanggup berjalan cepat sambil memanggul. Kulitnya hitam, khas pria daerah kami, Tirtomoyo Wonogiri. Wajahnya ganteng, garis mukanya tegas. Dia masih terhitung keponakan bapak saya, jadi saya memanggil dia dengan sebutan "kang". Bapak suka minta bantuan dia untuk mencari pakan sapi dan seabrek pekerjaan kasar lainya.
Meskipun rumahnya tidak  terlau jauh, cuma dipisahkan sungai dan bentangan sawah, dia sering nginap di rumah kami. Waktu itu saya sudah kelas empat SD, tapi bapak masih suka menyuapi saya. Peran itu sering digantikan oleh Kang Dardi ketika bapak sedang ada pekerjaan lain. Ketika senja telah meremang, langit berwarna semburat jingga, saat itulah waktunya saya disuapi olehnya. Meski pekerjaan dan wataknya agak kasar, dia amat telaten dalam urusan ini.
Suatu saat, di hari Kamis Pahing, Kang Dardi membuat kejutan. Dia datang ke rumah naik sepeda jengki. Sepedanya masih relatif baru meski bukan baru dari toko. Dia beli dari tetangga jauh kami yang sedang butuh uang. Sepeda pancal itu dibeli dengan harga 45.000 rupiah. Saya takjub melihat benda itu. Dalam pandangan saya, sepeda ini beda sekali jika dibanding sepeda dinas bapak yang tidak bisa kunaiki karena modelnya adalah sepeda laki-laki. Saya sampai duduk termangu memandangi benda itu. Rupanya Kang Dardi paham akan isi kepala ini.
"Kowe pengin naik, Ri?", tanyanya kepadaku.
“Boleh, Kang?", jawabku minta penegasan.
"Yo wis sana, naikin sepedanya, bawa ke lapangan sekolahan, tapi ngati-ati yo...".
Jawaban yang sungguh membuat saya girang.
Dengan muka sumringah segera saya pancal sepeda itu ke arah halaman SD Sidorejo III, tempat yang lapang buat bermain sepeda. Sensasinya luar biasa. Tidak ada bunyi oglek-oglek seperti sepeda kebo punya bapak pemberian pemerintah itu. Sore itu terasa pendek ketika adzan Magrib memaksa saya berhenti main sepeda. Saya segera pulang dan disambut kang Dardi di halaman rumah dengan sepiring nasi putih dan telur ceplok.
"Sini makan dulu, sepedanya masukin saja."
"Lho kok dimasukin, Kang? Nanti kang Dardi pulang naik apa?
"Wis, malam ini biar di sini saja sepedanya, aku nginap sini kok."
Jawaban itu amat menggembirakan saya. Suapan demi suapan segera berlalu dengan cepat. Batin saya masih dipenuhi rasa girang akan sepeda ini.
"Kang, habis maem sepedanya aku ├žuci, ya...?"
"Yo wis, sana cuci yang resik yo, Le...". Segera sepeda itu sayatuntun ke bak air tempat kami mandi. Bapak diam saja melihat kelakuan saya. Wajahnya lurus, ekspresinya datar.
Sebenarnya beberapa kali saya sudah bilang ke bapak tentang keinginan akan sepeda. Saya iri sama temen-temen sepermainan yang cuma anak tukang batu saja dibelikan sepeda sama bapaknya. Sementara aku tahu, bapakku seorang Pegawai Negeri Sipil, harusnya mampu memenuhi keinginanku. Tapi keinginanku selalu mentok. Jawaban Bapak selalu sama dan singkat,
"Pilih sepeda apa sekolah?".
Dan itu sudah cukup bagiku untuk tidak merengek lagi.
Keeseokan harinya adalah hari Jumat Pon. Pon adalah hari yg menyenangkan bagiku karena setiap Pon pasti aku diajak bapak sarapan pagi di warung makan Wo Wakiyem, dekat Puskesmas Desa Geneng, tempat bapak bertugas. Lauknya cuma kuah dan sedikit gajih sapi tapi entah kenapa bagiku amat nikmat. Tapi pagi itu aku lebih tertarik untuk mengelus-elus sepeda jengki milik kang Dardi. Belum puas aku memegangi benda itu bapak sudah  mengajakku berangkat sekolah. Berat rasanya pagi ini aku berangkat sekolah meski hari ini adalah hari Pon. Kang Dardi rupanya pagi-pagi sudah berangkat ke ladang seberang sungai. Bapak menyuruh dia menyemai tanaman kedelai dan jagung yang mulai diganggu perdu.
Jam sebelas siang aku sudah sampai di rumah sepulang sekolah. Bukan dapur yang aku tuju, tapi kamar tidur yang berfungsi sebagai gudang, tempat aku memarkir sepeda itu. Aku tidak sabar ingin segera main sepeda lagi. Langkahku terhenti di tiang rumah tempat sepeda itu kemarin sore aku sandarkan. Benda itu tidak ada di tempatnya. Aku terdiam, nyaris terisak. Nenek dari ibuku mendatangiku dengan raut muka keheranan,
"Kenapa le, kok pulang sekolah merengut gitu?".
"Sepeda kang Dardi mana, Mbah?" tanyaku mlongo.
"Gini le, tadi kakangmu Dardi dijemput adiknya, Daman. Bapaknya sakit, harus segera dibawa ke dokter", jawab simbah dengan suara pelan.
"Terus sepedanya kemana, mbah?" cecarku.
"Lha ya itu, le... Kakangmu Dardi lagi nggak punya duit, terpaksa sepeda itu dijual ke lek Kodir," jawab simbah.
Jawaban simbah seperti sebuah petaka bagiku. Aku nangis sesenggukan di pangkuannya. Simbah mengelus-elus rambutku.
"Le, wis aja nangis. Nanti kalo thole sudah jadi orang pasti bisa beli sepeda sendiri," ujar simbah.
Sore itu terasa suram bagiku. Suapan nasi berlauk telur ceplok terasa hambar. Tawa kang Saidi, lek Paimin dan kang Dodo yang sedang bermain sepeda di jalanan mengiris-iris hatiku...

*Kampung Makasar, 25 Nopember 2012, 23.21 WIB, sesaat setelah aku mencuci sepeda motorku.

2 comments:

Anonymous said...

terharu bacanya paksla, ttg ketulusan mrelakan sesuatu yg mungkin berarti buat kita utk org lain,, dan masa lalu kita, terkadang membuat lebih bersyukur ya paksla.?

Slamet Rianto said...

Betul mas/mbak.... saya masih inget persis kejadian ini...