Wednesday, May 29, 2013

Cangkir Kosong


Cangkir Kosong

Sudah pukul satu malam ketika aku memasuki  Jalan Kerja Bakti VII. Hujan kemarin sore telah membuat kabut turun menggantung. Jalan itu tidak panjang, hanya sekitar dua kilo meter. Sebelah kanannya didominasi perumahan penduduk, termasuk rumahku. Sebelah kiri, sepanjang lima ratus meter adalah sungai Cipinang. Sungai inilah yang membatasi kampung kami dengan Bandara Halim Perdana Kusuma. Tepiannya  ditumbuhi pokok bambu dan kecapi. Masih lumayan rimbun, sehingga kalau malam terkesan seram.  Di antara penghuni sekitar sini beredar ceria seram. Apalagi begitu masuk jalan tersebut kita akan disambut kuburan tua yg sudah tidak aktif lagi. Kami menyebutnya Kuburan Kober. Kuburan ini sebenarnya adalah pindahan dari kuburan yang dulunya terletak di ujung landasan Bandara Halim Perdana Kusuma. Pada tahun 60-an, bandara diperluas sehingga kuburan tersebut ikut digusur dan dipindahkan ke seberang sungai. Bekas kuburan tersebut sekarang digunakan sebagai gedung pengatur air untuk kepentingan bandara. Bangunannya menyendiri di pojokan, dekat dengan pagar kawat berduri. Bangunan tersebut kalau malam gelap gulita karena memang di dalamnya tidak ada penerangan sedikitpun. Penerangan sekelilingnya hanya berasal dari lampu penerangan jalan, sehingga bangunan ini menjelma menjadi seonggok makluk menyeramkan yang berdiri di tempat gelap dan sepi.
 Konon di pinggir bandara Halim Perdana Kusuma suka ada makhluk halus yang bergentayangan. Seringnya berwujud seregu serdadu yang sedang jogging. Beberapa kecelakaan juga pernah terjadi di sini, biasanya terjadi malam hari. Menurut yang pernah kudengar dari korban kecelakaan, suatu malam dia bermotor sendirian menuju keluar komplek Perumahan Angkatan Udara. Mendekati kawasan bangunan tanki air tersebut mendadak dia melihat pohon rubuh yang merintangi jalannya. Sebagai seorang tentara dia tidak percaya dengah tahayul, makanya dengan percaya diri diterobosnya pohon rubuh tersebut, berharap bahwa itu hanya fatamorgana. Tak dinyana dia jatuh terjerembab dari sepeda motornya. Sampai saat dia bercerita dia masih merasakan sakit di pantatnya.
Sejenak setelah memasuki gerbang jalan Kerja Bakti VI hatiku ciut. Di sebelah kananku adalah kuburan Kober dan sebelah kiriku adalah jurang tepian kali yang tertutup pohon bambu. Tidak ada penerangan sama sekali, hanya sorot lampu mobilku. Dingin, senyap, tanpa suara. Kaca jendela mobil sengaja kuturunkan agar aku tidak merasa terkungkung dalam mobil minibus yang kebetulan banyak digunakan sebagai ambulan. Syukurlah area kuburan itu tidak panjang, hanya sekitar 100 meter. Warung bubur kacang ijo dan indomie di ujung kuburan juga masih buka. Di depan warung, Jon, penjual nasi goreng keliling yang selalu berpakaian rapi tampak terkantuk menonton sinetron tengah malam. Jalur berikutnya sudah aman, karena sebelah kanan jalan adalah deretan rumah yang tidak terputus bak gerbong kereta. Ah, aku baru ingat, ini adalah malam jumat. Pantaslah ada kesenyapan yang tidak biasa.
Tempat parkirku tinggal seratus meter lagi. Selangkah ke depan adalah warung almarhum Bang Nasun yang meninggal dua hari lalu. Biasanya jam segini dia dengan bertelanjang dada masih asyik duduk menunggui warung kopinya. Dua hari lalu, ketika pagi masih terasa, nyawanya tercabut dengan segera. Serangan jantung telah mengakhiri jalan panjang kehidupannya. Sekarang pemandangan yang tersisa adalah bangku kosong, tanpa tuan, tanpa deretan gelas dan cangkir kopi. Bulu kudukku agak meremang.
Parkiran mobilku tadinya adalah tebing curam sungai Cipinang. Rumahku sendiri terletak di dalam gang yang tidak bisa dilalui mobil. Kondisi inilah yang memaksaku untuk memutar otak, membuat lahan parkir di tebing tersebut. Dahulu hanya beberapa mobil yang parkir di situ. Sekarang sudah menjelama menjadi lapangan parkir yang lumayan luas. Aneka mobil terparkir di situ, mulai dari mobil penumpang sampai mobil jenazah milik ketua RW. Kebetulan posisi parkir mobilku persis bersebelahan dengan mobil jenazah itu. Bang Nasun lah penumpang terakhir mobil itu dua hari lalu. Beberapa orang bercerita kalau dari dalam mobil jenazah tersebut suka terdengar bunyi-bunyian aneh dan biasanya setelah itu akan ada yang meninggal dunia. Langkahku agak kupercepat meninggalkan mobil yang buru-buru kukunci
Pagi ini kulewati lagi bangku kosong itu sembari berangkat bekerja. Aku terkesiap, ada sebuah cangkir kosong di atas bangku bang Nasun.
Post a Comment