Wednesday, May 29, 2013

Stempel Darah



Stempel Darah
Satu dari beberapa Kisah Awal Meniti Karir di KPP Baturaja

Saatnya santai nih, pikirku. Musim lapor SPT masa PPN berakhir kemarin. Yang tersisa adalah tumpukan SPT berjumlah ribuan yang menunggu untuk disortir per jenis usaha. Hari sudah beranjak siang, segelas kopi hitam yang kupesan dari kantin sebelah ruanganku baru kuminum sedikit. Aku memang awet kalo ngopi. Segelas kopi bisa sampai seharian.
SPT sudah kususun di atas mejaku siap disortir ketika ucap salam terdengar. Kebetulan posisi meja kerjaku paling dekat dengan pintu masuk ruangan Seksi PPN n PTLL sehingga setiap tamu datang pasti melewatiku. Tadinya aku berpikir bahwa yang barusan berucap salam  bukan tamuku, makanya aku cuek saja, tidak membalas salam. Suara bangku digeser ke  depan mejaku menyadarkanku bahwa dia adalah tamuku.
Dia seorang wanita Tionghoa. Kulitnya kuning bersih, mulus. Matanya tidak terlalu sipit, rambut hitam berkilau, sebahu. Wajahnya cantik, pipinya agak chubby, dan itu adalah jenis pipi yang sangat kusukai. Pakaiannya rapi, agak minim, jadi kalau kita berdiri di belakangnya niscaya bisa mengintip belahan dadanya.
"Ada yang bisa saya bantu, mbak Sera?"
"Ini pak Slamet, mau lapor SPT PPN. Maaf terlambat, soalnya semalem saya baru pulang dari Jakarta", jawabnya sembari mengeluarkan lima berkas SPT.
Yap, wanita ini memang pegawai sekaligus pemilik beberapa perusahaan kontraktor sipil berbentuk CV. Segera saja kuterima SPT itu, kukeluarkan stempel kantor, stempel nama ku, dan stempel tanggal.
Aku hampir lupa, hari ini adalah tanggal 21, artinya batas waktu lapor SPT PPN sudah berakhir kemarin. Segera kugeser angka 0 di belakang angka 2 di stempel tersebut sehingga berbunyi 21 Juli 1997. Seluruh berkas SPT sudah kutandatangani di kolom penerimaan, bersiap untuk kustempel tanggal ketika sekonyong-konyong tamuku menyergah,
"Pak, jangan ditanggalin hari ini dong. Tanggal kemarin saja, biar nggak terlambat."
"Waduh, nggak bisa mbak, hari ini kan memang sudah tanggal 21. Udahlah, berapa sih dendanya? Nanti bayar aja, nggak banyak kok," sahutku sambil meletakkan kembali stempel penanggalan.
Sejurus kemudian aku bimbang di persimpangan pikiran. Kalaupun aku stempel tanggal kemarin toh nggak ada pengaruhnya apa-apa, kebetulan SPT-nya juga nihil, alias tidak ada setoran pajaknya. Lagian seluruh berkas SPT masih di mejaku, belum aku oper ke petugas register.
"Udahlah pak, saya biasanya sama petugas lain juga bisa kok. Nanti saya beliin rokok deh..", cerocos Sera membuyarkan bimbangku.
Emosiku menggelegak. Bimbangku sirna seketika.
"Mbak, maaf...rokok saya masih banyak. Kalo mau minta stempel kemarin besok dateng lagi ya. Tapi berhubung hari ini mbak datang ke saya, maka saya yang harus nerima SPT ini," ujarku sambil dengan setengah menggebrak kububuhkan stempel penanggalan di SPT itu, 21 Juli 1997.
Post a Comment