Wednesday, May 29, 2013

Ibu



Ibu

Bu...
Tadi sore dalam suapanku
Aku teringat panjenengan
Tentang bubur kacang ijo
Jualan Lek Wariyem
Tentang keteguhanmu jualan beras
Tentang tenggok dan senik
Tentang babrakan tempat panjenengan
Meracik makan siang kami...

Bu...
Dalam leyeh-leyehku aku
Teringat panjenengan
Tentang ribuan langkahmu
Membesarkan kami
Tentang sapa lembutmu
Ketika membangunkan kami
Tiap pagi...
"Le, sudah siang, mau sekolah nggak?"
Persis tiap pagi
Tanpa intonasi yang tinggi

Bu...
Engkau senantiasa jadi perisaiku
Setiap Bapak mulai menyuruhku
Menyabit rumput dan angon sapi
Panjenengan sigap membelaku
"Pak, Anto biar belajar saja, jangan disuruh ngarit...nanti capek"
Aku terkesima dengan kesaktian
Mantramu itu
Bapak segera surut langkah
Baginya Ibu terlalu perkasa utk dilawan...


Bu...
Kini ribuan kilo jarak terbentang
Anakmu memilih merajut kehidupan di tanah seberang
Tak bersedia mendampingi hari-harimu
Tak bersedia menjadi anak baikmu
Tak bersedia mengambilkan makan dan menyuapimu
Anakmu memilih jadi anak orang lain
Menghamba pada berhala pekerjaan
Mengais kasih sayang dari sang pemangku jabatan

Bu... Dalem kangen... (Sambil mengusap air mata lagi)
Post a Comment