Friday, May 31, 2013

Syuting-e Bubar



Syuting-e Bubar

Aku baru mau berucap aba-aba action, ketika mas Adi berkata setengah berteriak,
"Eh, ada mutasi kasi, ya?"
Aku tidak terlalu memperdulikan kalimat itu. Semangat sekaligus hegemoniku sebagai seorang sutradara merangkap kameramen, penata lampu, pengarah adegan, pengorder konsumsi, dll, dll untuk sebuah kerjaan pembuatan video instruksional sedang on fire. Tapi itu semua runtuh juga ketika crew dan talent memilih berangsur-angsur meninggalkan lokasi syuting. Bah, syaul... Dasar sutradara gak ada wibawanya....hahaha...
Mereka bergerombol mengerumuni PC di meja Eri. Aku serba kikuk. Ada gulatan perasaan yang berkecamuk.. Setelah termenung sejenak, sendirian di ruang bu Tyas, aku beranjak tak tentu arah. Mulutku asam, menandakan hormon endorphin di otak belakangku mulai butuh asupan nikotin..
Smoking area itu terletak di sudut lantai 16, tersembunyi di belakang ruangan bu Tyas. Tempat itulah yang akhirnya jadi pelabuhanku. Terdiam aku di sudut sana. Ponsel aku geletakkan di atas meja kecil di depan sofa. Tapi itu tak lama...
Segera kubuka laman web sikka DJP, sebuah aplikasi manajemen SDM berbasis web yang bisa diakses di ponsel. Ah, sinyal ini sedang menggodaku. Laman itu tak jua terbuka. Kuselingi dengan membuka group bbm kantor. Tidak ada apa-apa di sana. Juga tidak ada japri apapun. Juga tidak terdengar teriakan menyebut namaku di luar sana.
Kertas tembakau Sampoerna Mild ini hampir menemukan busanya, habis terisap, ketika langkah kaki terdengar berderap mendekat. Ritmenya sangat kuhafal. Arief berjalan mendekat.. Langsung duduk di depanku. Ekspresinya lurus, mulutnya diam terkatup
Tidak ada pembicaraan apa-apa untuk beberapa saat. Akhirnya aku yang memulainya,
"Teman-teman sudah siap syuting lagi, Rif?"
"Kayaknya belum, pak. Masih asyik liat SK."
"Yo wis lah, sebatang dulu," ujarku sambil menyulut rokok lagi.
"Yuuk, mulai lagi," ujarku ke Arief setelah batang ke dua ini aku habiskan.
Meja Eri masih menyisakan huru-hara pengumuman mutasi Kepala Seksi. Aku melangkah pelan ke ruangan bu Tyas. Action, cut, preview kuteriakkan, sembari ngunandika...
Terbayang tokoh Rigen, Nansiyem, Beni, dan Tholo-Tholo dalam kumpulan cerpen karangan Umar Kayam berjudul "Mangan ora Mangan Kumpul" dan "Sugih Tanpa Banda". Mereka adalah keluarga kecil. Mister Rigen berasal dari Pracimantoro sedangkan istrinya, Nansiyem, adalah perempuan dari Jatisrono. Pracimantoro dan Jatisrono adalah dua kecamatan di kabupaten Wonogiri, tanah kelahiranku. Kehidupan mereka adalah kepasrahan pada pengabdian total menjadi seorang babu di rumah pak Ageng, tokoh yangg dipakai Umar Kayam untuk menggambarkan dirinya sendiri. Mereka tidak pernah menggugat status mereka yang selamanya tidak akan pernah naik jabatan. Sepanjang hidupnya status mereka akan tetap sama, babu, batur, bedinde, pembantu.
Pagi ini kubikel meja kerjaku terasa lebih lapang dari sebelumnya.

*Jakarta, 31 Januari 2013, sembari ngguntingin koran hari ini buat bahan kliping Pamorku.
Post a Comment