Friday, May 31, 2013

Menteriku Sombong



Menteriku Sombong

Telepon itu datang dari sobat karibku, Anto, di suatu siang. Pesannya singkat, dia minta ijinku untuk memberikan nomor ponselkuku ke sekretaris pribadi Menteri Keuangan. Tentu aku bertanya, ada apa gerangan beliau meminta nomor ponselku. Jawabnya singkat, mau diskusi masalah liputan foto di kediaman resmi Menteri Keuangan. Panggilan telepon dari sekretaris datang berselang beberapa jam kemudian.
"Ini bener pak Slamet DJP, ya?"
"Iya bu, apa yang bisa saya bantu?"
"Gini, pak. Bapak bisa bantu motret acara pak Mentri di rumah dinas, malam minggu nanti?"
"Siap bu. Kalau boleh tahu acara apa ya, bu?"
"Acara silaturahmi keluarga, pak. Berapa biayanya, pak?"
Pertanyaan terakhir membuatku terdiam beberapa lama. Ini bukan kali pertama aku menangani order pemotretan, tapi tetap saja aku tidak bisa langsung menjawab ketika klien menanyakan tarif.
"Kebutuhannya apa saja, bu?"
"Wah, terserah pak Slamet saja, yang penting hasilnya bagus. Saya manut saja."
Akhirnya kami sepakat tentang harga. Aku juga diberi arahan mengenai detil acara, termasuk titik-titik mana saja yang tidak boleh terlewat.
Hari H pun tiba. Ada rasa sedikit grogi ketika aku melangkah ke komplek perumahan Widya Chandra. Ini juga bukan kali pertama aku menyambangi rumah itu. Dahulu waktu Menteri Keuangan masih dijabat SMI sekali aku pernah ke sana. Yang membuatku agak grogi adalah karena ini adalah acara pribadi, bukan acara kedinasan. Beban mental terasa lebih berat. Syukurlah semua berjalan lancar. Kamera ok, stamina ok, momentum terekam semua, tak ada yang terlewat. Pak Menteri sesekali memanggilku, minta agar dia difoto bersama sanak keluarganya. Mengarahkan pose, mencari spot pemotretan yang menarik di rumah dinasnya tentu tantangan tersendiri.
Di akhir acara aku pamitan kepada sekretaris pribadinya. Aku amat terkejut ketika sekretaris mengajakku pamitan sama pak Menteri.
"Ini pak Slamet, pak. Beliau orang pajak yang bantu-bantu motret tadi," ujarnya ke pak menteri yang tengah ngobrol santai dengan beberapa keluarga dekatnya. 
Aku mendekatinya, menyalaminya, sekaligus pamitan kepadanya.
"Makasih ya Slamet. Kamu anak buah siapa?"
"Sama-sama, pak. Saya bertugas di Humas, pak"
"Oh.... Sama pak Dedi ya. Baik, sampaikan salamku padanya. Saya tunggu ya hasil fotomu."
Aku segera meninggalkan rumah dinas itu. Ada sejumput keheranan, selama ini kusangka menteriku orang yang amat angkuh, tak manusiawi. Ternyata dia sosok manusia biasa, bahkan aku merasa teramat istimewa ketika mendapat kesempatan bercakap dengannya, meski hanya secuil.
Tiga hari berselang ada Rapat Pimpinan Kemenkeu di kantorku. Sudah hal rutin, aku bertugas di sana, menenteng kamera. Menteri Keuangan tiba diiringi ajudan dan beberapa pejabat dekatnya. Sebelum memotret saat dia masuk ke ruang rapat, aku anggukkan kepala dan tersenyum kepadanya. Aku berharap balasan sapa dan senyum darinya. Rupanya dia melenggang begitu saja, seolah tak pernah bertemu denganku sebelumnya. Aku dongkol, ah... Sombong sekali, pikirku. Lama aku memendam kedongkolan itu, sampai ketika sebuah ingatan menyadarkanku, apakah tadi pagi aku juga membalas sapa satpam, OB atau CS kantorku, ya?
Sering kita berfikir bahwa pejabat tinggi itu orangnya angkuh, sombong, tidak ramah kepada kita, karena mereka tidak pernah menyapa kita. Aku lantas membayangkan sosokku di mata para "bawahan"ku seperti OB, satpam, CS di kantorku. Aku juga tidak yakin sering menyapa mereka. Jangan-jangan aku menyapanya ketika minta tolong dibelikan nasi bungkus saja. Jangan-jangan di mata mereka aku juga dipandang sosok yang sombong dan angkuh sebagaimana aku menilai menteriku baru saja?

Kampung Makasar, 18 Mei 2013, 14:29:13
Post a Comment