Friday, June 7, 2013

Jahe Hangat


"Sini An, masuk.."
Suara lembut itu memanggil nama saya. Saya pun masuk rumah itu dengan perasaan kikuk. Bapak dan ibu saya sudah lebih dahulu masuk dan sudah terlibat obrolan dengan mereka. Saya tadi tak langsung masuk rumah, tapi memlilih berbincang dengan adik sepupu saya, Teguh, di depan rumah.
"Jadi gini, bapake Teguh. Selama mau Ebta aku nitip Anto biar tinggal di sini. Biar sinau di sini."
"Lha iyo, nggak apa-apa, wong sini kan juga rumahnya saudara sendiri, to?"
"Iya, lagian kan sekolahe lebih deket dari sini. Tinggal njangkah juga nyampe."
"Iyo An, di sini nanti kan kalian bisa belajar bareng-bareng sama teman-teman kalian. Nanti biar pak No juga ngajarin."
"Inggih, bu."
"Iyo lho le. Kamu kan anak sulung. Harus jadi contoh buat adik-adikmu."
"Inggih, mbah."

Di ujung sore bapak ibu pulang berjalan kaki. Saya ditinggal di rumah ini. Sebetulnya ini bukan kali pertama saya menginap di sini. Tapi selama ini saya menginap bersama orang tua saya, sehingga saya tidak merasa kikuk. 

"Ayo mas, mandi dulu."
"Iyo Guh... Kamu duluan deh."
"Udah, bareng aja."

Akhirnya kami berdua mandi bareng di kamar mandi yang terletak di samping rumah.
Rumah itu tata letaknya sangat mirip dengan rumah saya. Terdiri dari tiga unit rumah, depan, belakang dan dapur. Yang membedakannya tidak ada rumah kandang di sini. Selain itu rumah ini sumber airnya berasal dari sumur yang terletak di sebelah timur rumah. Di dekat sumur itulah dibangun kamar mandi. Untuk mengisi bak mandi kami harus menimba air terlebih dahulu.
Hari telah menjelang magrib ketika kami selesai mandi. Selesai menunaikan sholat Magrib panggilan untuk makan malam pun tiba. Berbeda dengan keluarga saya, ritual makan malam di keluarga ini agak berbeda. Sebuah meja kayu bundar dipasang di ruang tengah rumah belakang. Di situlah tertata sederet menu makan malam. Menunya sederhana saja, sayur nangka dan rebung, tempe goreng tanpa tepung dan tak lupa sambal bawang mentah. Kami lantas duduk bersila mengitari meja tersebut. Bu Dini mengambilkan nasi buat suaminya, pak Tarno. Nenek juga ikut bergabung di bersama kami. Ritual inilah yang tidak ada di keluarga saya. di rumah kami tidak pernah makan bersama. Ya, masing-masing yang mau makan akan mengambil makanan di dapur. Ibu bahkan tidak pernah menyajikan makanan buat bapak. 
Selesai makan malam kami segera membereskan meja bundar itu. Baki nasi, mangkok dan pirin kotor kami pindahkan ke dapur. Dalam sekejap meja itu telah bersih. Saya, Teguhn Dono dan Yudo segera mengeluarkan buku pelajaran kami masing-masing. Teguh adalah anak tertua di keluarga ini. Dia sudah sekolah lanjutan pertama di Tirtomoyo. Dono anak ke dua. Di dua tahun di bawah saya. Yudo anak ke tiga. Dia masih kelas 3 Sekolah Dasar. Anak ke empat bernama Kunto, baru berumur 5 tahun. Sedangkan anak ke lima adalah seorang wanita, Pipit panggilannya. Tapi dia tidak hidup bersama bapak ibunya. Dia diangkat anak sama pamannya di Wonogiri sana. Hubungan kekerabatan kami agak rumit. Nenek saya dari ibu saya bersaudara jauh dengan bapaknya bu Dini. Selain itu, ibunya pak Tarno pernah dinikahi kakek saya. Jadilah saya menjadi saudara sedarah juga semenda.
Kami belajar bareng meski jelas materinya tidak sama. Saya belajar mata pelajaran yang akan di-Ebtanas-kan, sementara mereka sibuk dengan pelajaran masing-masing. Yap, sebulan lagi saya akan menjalani ujian akhir sekolah dasar. Ada alasan mendasar kenapa saya dipondokkan di keluarga ini. Sebulan lalu saya baru saja menjalani pra-Ebta. Hasilnya baru keluar minggu lalu. Hasilnya kurang memuaskan. Untuk lima mata pelajaran, nilai murni saya hanya 36 atau rata-rata hanya 7. Pak Tarno adalah guru Matematika di sekolah saya, sedangkan bu Dini adalah guru Bahasa Indonesia di sekolah yang sama. Bapak berharap saya mendapat bimbingan belajar dari mereka. Dan benar, pak No malam itu mulai mengarahkan cara belajar saya. Saya diberi soal-soal untuk latihan. Cara pak No mengajari saya amat efisien. Sesuai dengan karakternya yang agak temparemental.
Salah satu tugas yang paling saya benci adalah tugas mengarang. Bagi saya mengarang adalah sesuatu yang amat sulit. Memulai kalimat pertama dari sebuah karangan amat menyulitkan saya. Bu Dini lah yang membuka jalan buat kesulitan saya. Dengan sabar dia mengajari saya. 
Pasangan suami istri ini memang kepribadiannya amat berbeda. Pak No orangnya lugas, tanpa tedeng aling-aling. Di kalangan murid-murid, dia dianggap guru yang galak. Suliyo, teman sekelas saya pernah wajahnya dibedakin pakai penghapus karena lalai mengerjakan pe er. Sedangkan istrinya, bu Dini, adalah sosok wanita yang amat lembut dan penyabar. Saya belum pernah melihatnya memarahi murid-muridnya.
Satu hal yang saya syukuri adalah dengan mondok di keluarga ini adalah otomatis saya terbebas dari pekerjaan sehari-hari di rumah orang tua saya. Iya, meski di beberapa hal saya merasa dimanja oleh orang tua saya, tetapi itu tidak membebaskan saya dari beberapa kewajiban. Saya setiap sore harus membantu bapak mencari rumput untuk pakan sapi peliharaan bapak. Ibu juga mewajibkan saya membantu membersihkan rumah, menyapu dan mengepelnya.
Pagi harinya kami bangun serentak. 
"Ayo mas Anto, kita cuci piring."
"Ayok, Guh. Dimana nyucinya?"
"Di deket sumur wae, mas."
Rupanya ada satu lagi perbedaan ritual keluarga ini dibanding keluarga saya. Setiap pagi anak-anak di keluarga ini mengangkut piring kotor ke dekat sumur untuk dicuci rame-rame. Sementara di rumah saya pekerjaan tersebut dilakukan oleh ibu saya sendiri. Hanya beberapa kali saja saya membantu ibu mencuci piring, biasanya ketika di rumah ada hajatan.
Satu bulan tak terasa saya hidup bersama keluarga ini. Kehangatan mereka amat kental. Saya jatuhnya secara "awu" lebih tua dari mereka, sehingga anak-anak mereka memanggil saya dengan sebutan "mas". Setiap malam saya belajar bersama mereka. Saya bahkan sempat jatuh sakit di sini. Dengan sigap saya dirawat seperti anak mereka sendiri. Nenek yang sudah tua bahkan membuatkan jahe hangat buat saya. Jahe hangat di saat badan dilanda demam memang amat menguatkan. Nenek juga ikut memotivasi semangat saya.
"Belajar yang rajin yo le. Biar jadi anak pinter."
"Inggih, Mbah."
"Kamu anak tertua, harus bisa jadi contoh buat adik-adikmu."
"Inggih, Mbah."
Kalimat itu bak petuah sakti. Ternyata banyak yang berharap dengan hasil ujianku nanti, tak cuma diri saya sendiri. Menjadi anak sulung selain memiliki beberapa keistimewaan perlakuan, juga memiliki tanggung jawab yang lebih dibanding yang lain.
Ebtanas pun tiba. Saya lebih merasa percaya diri mengerjakannya. Lima mata pelajaran, PMP, Bahasa Indonesia, IPA, IPS, dan Matematika tuntas sudah saya kerjakan. Sampai detik pengumuman pun tiba. Saya memang tidak mendapat NEM yang fantastis. Rata-rata nilai saya hanya naik 1 angka dibandingkan dengan rata-rata nila pra-Ebta. Tapi saya tidak kecewa. Inilah terbaik yang saya bisa. 
Terbaik berkat dukungan semangat dari orang tua, dan keluarga pak No, termasuk jahe hangat buatan nenek yang telah meringankan demam saya.

Batam, 07 Juni 2013, 11:11:20 WIB.


Post a Comment