Thursday, June 6, 2013

Kue Lapis, Paha Ayam


Suara derit pintu itu membangunkan tidur saya. Pintu rumah kami memang  tidak pernah dikunci. Toh percuma saja, meski pintu depan dikunci orang tetap bisa masuk lewat pintu dapur yang belum ada daunnya.
Yap begitulah kondisi rumah kami waktu itu. Rumah kami terdiri dari empat rumah . Paling depan adalah rumah limasan ukuran 9 x 11 meter. Sekelilingnya belum ada tembok, kosong melompong. Lantainya pun masih tanah, belum di apa-apain. Ini memang rumah yang belum lama dibeli bapak dari Wo Sukimin. Rencananya rumah ini akan diberi dinding tembok sehingga bapak memang tidak memberi dinding kayu atau bambu. Di tengah rumah sudah teronggok tumpukan batu bata dan pasir yang dibeli bapak sedikit demi sedikit. Kami menjadikan tumpukan pasir yang menggunung itu sebagai arena bermain mobil-mobilan. Adikku, Titik, menjadikannya arena bermain masak-masakan.
Di bagian belakang rumah depan menempel rumah belakang. Rumah ini merupakan rumah pemberian orang tua ibuku. Sebagai anak bungsu dari lima bersaudara ibuku mendapat jatah   rumah ketika dahulu menikah dengan bapak. Rumah ini bentuk dan ukurannya persis dengan rumah depan. Yang membedakannya adalah rumah ini sudah berdinding kayu di bagian depan dan samping dan anyaman bambu di bagian belakang.  Rumah inilah yang kami huni sekeluarga. Di bagian tengah rumah merupakan ruang berisi dua set kursi tamu terbuat dari rotan. Ada dua buah lemari hias di situ. Di sayap kiri rumah adalah kamar bapak dan ibuku. Di sayap kanan adalah kamarku dan adik-adikku. Di bagian belakang adalah sebuah ruangan melebar selebar sisi rumah. Fungsinya bermacam-macam, tapi didominasi oleh perkakas pertanian bapak, berupa cangkul, perstisida, benih dan sebagainya. Jaman dahulu kami menyebut bagian rumah ini adalah senthong tengah atau kamar tengah. Tidak sembarangan orang bisa masuk senthong tengah karena di situlah terletak benda-benda pusaka. Ada satu larangan yang mengatakan bahwa anak laki-laki yang belum disunat tidak diperbolehkan memegang benda pusaka seperti keris, tombak dan pedang. Kalau pantangan ini dilanggar niscaya alat kelaminnya akan bujel alias tidak berkembang. Syukurlah bapak saya tidak mempunyai benda pusaka apapun sehingga saya tidak perlu risau dengan resiko tersebut. Pintu samping kiri rumah ini menjadi penghubung dengan rumah dapur. Daun pintunya terbuat dari kayu sengon yang sudah lapuk dimakan usia. Oleh karenanya pintu itu tidak bisa dikunci dengan sempurna.
Persis di sebelah kiri dan menempel rumah belakang, berdirilah omah pawon  alias rumah dapur. Panjangnya sama dengan rumah belakang tapi lebarnya hanya sekitar 7 meter. Bentuk atapnya juga berbeda dengan kedua rumah depan dan belakang tersebut. Ibu masih memasak menggunakan kayu bakar sehingga tidak ada kompor di rumah kami. Ada dua buah tungku di rumah kami. Tumpukan kayu kering teronggok di samping tungku. Di sebelah tungku ada sebuah balai-bali terbuat dari bambu (babragan) tempat ibu menaruh bumbu dapur dan melakukan aktifitas peracikan bumbu. Ada gentong terbuat dari gerabah tempat penampungan air yang disalurkan melalui selang dari sebuah mata air yang letaknya di lembah bukit, Pucung Pogok.
Bagian paling belakang komplek rumah kami adalah sebuah rumah kandang. Rumah ini bentuknya mirip dengan rumah dapur. Posisinya berdempetan juga dengan rumah dapur. Rumah ini tidak berdinding sama sekali. Ada seekor sapi terikat di sana. Sapi tersebut bukan milik kami, tapi milik nenek seberang yang dititipkan ke bapak untuk dipelihara. Suatu saat nanti bapak akan mendapat bagian separo dari nilai tambah sapi ini sejak dipelihara sampai dijual.
Saya mengucek-ucek mata mendengar bunyi derit pintu tersebut dan segera bangun. Sarung yang saya pakai untuk selimut saya geletakkan di atas tikar alas tidur saya. Segera saya menuju ruang tengah. Saya lihat jam dinding sudah menunjukkan waktu pukul 23.00 WIB. Sunyi di luar sana. Bapak dan ibu baru saja pulang dari rapat panitia pesta pernikahan anak pak Rijo, Kepala Sekolah saya di SD Sidorejo III.
“Lho kok belum tidur, Le?”
“Sudah kok bu. Nglilir...”
“Pe ernya sudah dikerjain belum , To?” kali ini bapak saya yang bertanya.
“Sudah, Pak. Beres.”
“Iki, mau kue lapis nggak?”
Bapak mengeluarkan daun pisang dari saku baju batiknya. Benar saja, dua potong kue lapis segera tersaji di meja ruang tengah.
Matur nuwun, Pak.”
“Jangan dihabisin. Kamu satu, yang satu lagi biar dibagi berdua adikmu, Bowo sama Titik.”
Begitulah, selaku anak sulung dari empat bersaudara, saya selalu mendapat hak istimewa dalam hal pembagian makanan. Kalau menggoreng telur, saya mendapat bagian separo, sementara adik saya, Titik dan Bowo, mendapat bagian masing-masing seperempat sisa saya. Untunglah adik bungsu saya, Indarto, masih kecil sehingga tidak perlu mendapat jatah bagian makanan ini. Saya menikmati keistimewaan ini.
Dengan lahap saya makan kue lapis itu. Bapak dan ibu memang amat paham dengan karakter perut saya. Kalau tiba-tiba suatu malam saya terbangun dan menuju dapur, bisa dipastikan saya sedang kelaparan. Makanya ibu selalu melebihkan makan malam kami agar jika anak sulungnya kelaparan tengah malam tidak kerepotan lagi menyediakan makanan.
Siang tadi, teman seruangan saya, Hendra Kuwu, memberi saya sekotak nasi ayam goreng Suharti. Saya simpan nasi kotak itu karena saya tiba-tiba ditelepon kawan karib saya, Arief Solihul Huda. Dia rupanya sedang ada tugas di Kantor Pusat. Telepon tersebut adalah sebuah ajakan makan siang bareng. Saya iyakan mengingat sudah lama sekali saya tidak berjumpa dengannya. Jadilah nasi kotak pemberian Hendra saya simpan untuk saya makan nanti sore. Begitulah karakter perut saya. Setiap sore saya pasti kelaparan. Oleh karenanya saya pasti mindhoni / menthong (makan sore hari).
Benar saja, sore tadi selepas menyelesaikan supervisi editing video viral story DJP saya merasa lapar. Sebetulnya malam ini saya tak perlu kawatir dengan makan malam karena pada pukul 19.00 nanti akan ada pertemuan Dirjen Pajak dengan para pemimpin redaksi media massa di lantai 5 kantor saya. Saya pastikan bisa nebeng makan malam di situ, tentu saja sesudah acara selesai. Sudahlah, dari pada sakit kepala menahan lapar, saya memilih membuka nasi kotak ini.
Fiiiuh, aroma sedap ayam goreng meruah dari kotak ini. Ada paha ayam lengkap dengan ati ampela teronggok di sana. Juga secuil gudeg nangka dan sebutir telur serta orek tempe. Saya segera memulai makan sore saya. Lauk ini rasanya terlalu banyak buat saya untuk sejumput nasi putih. Benar saja, nasi sudah habis tetapi ayam goreng dan ati ampela belum tersentuh. Saya biarkan di situ. Bergegas saya tunaikan sholat Maghrib dan langsung menuju lantai 5 tempat pertemuan berlangsung.
Pertemuan Dirjen Pajak dengan pemimpin media massa itu terlambat dimulai. Beberapa peserta baru hadir menjelang pukul 20.00 WIB. Bahkan Dirjen Pajak juga baru tiba pukul 20.15 WIB dari sebuah rapat di luar kantor. Penyebabnya sama, macet merajalela. Maklum besok adalah hari libur. Dirjen saya sampai harus naik ojek dari Sarinah menuju kantor pusat. Pertemuan pun segera dimulai. Berjalan seru dan interaktif. Beragam topik dibahas. Berkali-kali Dirjen Pajak mengucapkan frasa off the record ketika membahas topik sensitif. Yap, diakui atau tidak, sebenarnya masalah perpajakan bukan hanya milik Direktorat Jenderal Pajak, tetapi sesungguhnya milik seluruh komponen bangsa ini. Institusi tempat saya bekerja ini bahkan rentan terseret dalam pusaran politik negeri ini. Tubuh ringkihnya sering dijadikan obyek pengalihan isu. Sesuatu yang kami anggap baik diterima sebagai sebuah keburukan yang tiada ujung. Pukul 22.30 WIB pertemuan itu berakhir. Saya bergegas kembali ke ruangan saya untuk memindahkan file foto hasil liputan ke dalam hard disc. Satpam penjaga ruangan sudah berganti shift. Dia siaga menunggui saya yang tinggal seorang diri mengerjakan secuil tugas ini. Pekerjaan ini tak memakan waktu lama, hanya sekitar 15 menit. Saya segera merapikan meja, menyambar tiket penerbangan saya besok ke Batam, memasukkan power bank ke tas cangklong saya. Bebera potong kertas saya buang ke tempat sampah. Rapi sudah. Tapi tunggu dulu, masih ada kotak nasi ayam goreng Suharti di meja saya.
Saya longok isinya. Masih seperti ketika saya tinggal tadi, sepotong paha ayam dan ati ampela goreng. Plastik bening bekas pembungkus nasi putih segera saya pakai untuk membungkusnya. Ah, rupanya ngepas banget ukurannya. Saya tambahkan dua lembar tissue muka untuk merapatkan bungkusan tersebut. Lalu saya celingukan mencari karet gelang. Ah... ada untungnya juga bersebelahan meja dengan Arief Suongot ini. Meskipun saya membenci kejorokan mejanya tapi kali ini saya mensyukurinya. Ada dua karet gelang tergeletak begitu saja di sana. Dengan hati-hati saya masukkan bungkusan tersebut ke dalam tas coklat saya, merk Aigner “kw 5” seharga ratusan ribu rupiah. Saya yakin anak sulung saya, Abiyyu, akan sangat girang besok pagi, segirang saya ketika bapak mengeluarkan dua potong kue lapis dari kantong baju batiknya malam itu.
Saya melangkah pulang ketika hari nyaris berganti, dengan penuh wibawa...

Kampung Makasar, 6 Juni 2013, 01.18 WIB



Post a Comment