Wednesday, July 10, 2013

Mulut Desa



Pagi masih belum sempurna membuka matanya ketika langkah Anto terhenti di mulut desanya. Perjalanan selanjutnya ke rumah harus dia tempuh dengan berjalan kaki. Maklum, desanya belum terjamah jalan aspal. Mobil angkot tua yang membawanya hanya bisa sampai di sini. Kokok ayam jantan sayup terdengar. Pandangan Anto tertumbuk pada siluet manusia yang berjalan tertatih mendekat. Tanah merah basah, sisa embun fajar. Anto tertegun... Sepertinya dia mengenali sosok itu.... Anto bergidik, langkahnya surut...
Debu beterbangan ke udara ketika Anto dan beberapa temen lainnya berlari-lari mengejar layang-layang kang Saidi yang putus talinya. Sebagai sesama penikmat layang-layang non aduan, mereka merasa harus membantu teman lain yang tali layang-layangnya putus. Tidak mudah membuat layang-layang bagus, membelinya juga bukan hal perkara gampang. Jangankan buat membeli layang-layang, iuran kas SD saja kami sering menunggaknya.
Harusnya layang-layang itu tidak terbang jauh. Angin sore ini tidak terlalu kencang. Benar saja, tidak sampai sepuluh menit kami berlari-lari di jalanan berdebu, layang-layang itu sudah turun. Kang Saidi menunggu di bawah pohon asam jawa. Lama mereka menunggu, dan.... rupanya pohon asem jawa itu telah menjerat tali layang-layang itu. Layang-layang itu tersangkut di atas sana. Mereka semua kecewa. Bayangan indah akan lanjutan permainan layang-layang sore itu sirna sudah. Anto, Kang Saidi, Yoto, Alim sudah beberapa langkah beranjak dari tempat itu ketika di belakang mereka terdengar suara,
"Kenapa, Le? Layang-layangmu nyangkut ya?".
Anto yang paling sigap bereaksi. Dia menengok ke sumber suara itu. Dilihatnya sosok tinggi besar, berpakain usang tapi rapi, bercambang tipis, bercaping lebar hampir menutupi wajahnya. Pria itu berdiri mematung, menyandang cangkul dan sabit. Ah.... Rupanya lek Karso pemilik suara itu.
"Iya Lek... Layangan kang Saidi nyangkut di pohon asem itu. Kami ndak bisa manjat", kata Anto.
"Yo wis, kalian tunggu di sini yo.. Tak panjatin dulu," ujar lek Karso sambil tersenyum simpul.
“Iya lek, matur nuwun", jawab kami kompak.
Tanpa berkata lagi lek Karso segera menurunkan bawaannya. Dengan sigap dia memanjat pokok asem itu. Kliko (kulit kayu) kering yang harusnya tajam menjadi benda tumpul baginya. Hanya dalam hitungan menit lek Karso sudah sampai di dahan tempat senar (tali plastik) layangan itu tersangkut. Langkah lek Karso sempat terhenti sejenak. Rupanya dia gamang, dahan itu tidak terlalu besar. Kondisinya pun mengering karena musim kemarau yang panjang.
"Hati-hati lek...nanti jatuh!" teriak Anto mengingatkan.
"Nggak apa-apa, dahannya kuat kok," sahut lek Karso dari atas sana.
Perlu sekitar sepuluh langkah untuk sampai ke tali layang-layang itu. Pelan namun pasti lek Karso mendekat. Mereka yang menunggu di bawah merasa was-was. Dahan itu bergoyang-goyang diterpa angin. Rasa was-was mereka belum purna ketika terdengar suara "KREK!!!.. BUUUG!!!. Anto dan teman-temannya menjerit. Lek Karso yang sesaat tadi masih di atas, meniti dahan, tiba-tiba sudah ada di depan mereka dengan posisi telungkup, tidak bergerak, tanpa suara. Mereka pucat pasi, tak tahu apa yang harus dilakukan.
Jeritan mereka tadi rupanya mengundang perhatian Lek Tardi yang kebetulan lewat di pematang sawahnya. Tidak sampai setengah jam tempat itu sudah dipenuhi kerumunan warga. Lek Karso telah tiada. Jenazahnya dikuburkan keesokan harinya.

(Busway Koridor 9, PGC-Gatsu Lipi, baru saja)
Post a Comment