Wednesday, July 10, 2013

Penjual Susu Jahe



Hampir saja aku terlewat tempat itu. Ini adalah kunjungan ke dua ku. Tempo hari istriku yang menyambanginya. Sekelumit cerita tentang sosoknya membuatku penasaran, disamping produk jualannya memang menawan.
Ketika aku turun dari motorku di depan tempat dia bekerja, yang kutemui hanya lapak kosong tanpa penunggu. Tapi aku tidak kawatir, sebab ku lihat masih ada jajaran gelas tersusun rapi, tanda tempat itu belum tutup.
Tak lama dia muncul. Perawakannya tinggi tegap. Kulitnya putih mulus. Malam ini dia memakai kaos oblong hitam dipadu dengan celana blue jeans. Topi hitam, kaca mata frame tanduk, sepatu kets. Jam tangan yg bagus tersandang di lengan kirinya. Sekilas ada kemiripan dengan Afgan.
Dengan sigap tapi ramah dia bertanya, "Minum sini, pak?".
"Enggak mas, bungkus aja, satu," jawabku.
Dia langsung menuangkan cairan panas ke dalam gelas yang telah dia isi susu kental manis sebelumnya. Kegiatan itu sempat tersela oleh dua pembeli lain yang sudah selesai dengan urusannya. Selembar uang sepuluh ribuan dia terima, dua ribu dia kembalikan.
"Terima kasih, mas," katanya sambil menyerahkan uang kembalian itu.
Dia pun kembali mengerjakan pesananku. Hanya perlu waktu kurang dari satu menit untuk menyiapkan sampai membungkus pesananku.
"Silahkan, pak," katanya, sambil menyerahkan pesananku.
"Makasih mas," kataku sambil kuserahkan selembar 5.000an.
Sigap dia mengembalikan 1.000 rupiah kepadaku sambil berucap terima kasih. Bungkusan itu sempet terjatuh ketika aku gantungkan di motorku. Rupanya dia melihatnya.
"Di dobel kantorng plastiknya, pak, nanti jatuh lagi..."
Aku menolak tawarannya. Toh bukan salah dia bungkusan itu tadi jatuh.
 Dia adalah penjual Susu Jahe di Taman Segitiga Intirub.
Post a Comment