Wednesday, July 10, 2013

Penjual Rokok



Keluar dari gedung Millenia, Tebet,  sehabis menyetor uang via mesin ATM memaksaku tidak bisa langsung ambil lajur kanan meski aku bermotor. Jalan MT. Haryono arah Cawang malam itu masih ramai, motor dan mobil saling serobot, seolah semua adalah penguasa jalan raya ini. Mendekati stasiun Cawang, jalan ini lumayan menanjak. Kunikmati perjalanan pulang ini sesantai mungkin, toh baru pukul delapa malam. Tiba-tiba aku terhenyak. Dalam keremangan malam, di bawah pendar cahaya lampu jalanan dan lampu kendaraan, kuliat sosok ganjil. Arah cahaya dari depan yang lebih terang membentuk sosok itu menjadi siluet. Aku cepat mengenalinya. Seorang lelaki berumur 55 tahunan berjalan terseok pelan. Di pundaknya terselempang sekotak barang dagangan khas pedagang asongan, berisi rokok. Tangan kanannya menarik gerobak pendek, seukuran 50 x 100 cm. Di gerobak itu ada lampu senter polisi, nyalanya berkedip-kedip, dipegang oleh sosok manusia yang tidak sempurna fisiknya. Kedua kakinya buntung. Dia tengkurap di gerobak bapaknya, kepalanya sedikit mendongak agar pandangannya bisa ke depan, bukan ke lantai jalanan.
Ini kali ke dua aku menemui sosok ini. Pertama kali kuliat mereka di deket kantorku, di sutau siang, menuju arah sebaliknya, Semanggi. Beberapa bulan lalu harian The Jakarta Globe juga pernah memuat foto mereka.
Hanya perlu sekian detik untuk menyalip dua sosok manusia itu. Aku hanya menoleh sebentar ke arah mereka. Pikiranku jadi tidak tenang, gamang, ragu dengan apa yangg ada di hatiku. Aku kepengin berhenti menyapa mereka, tapi kupikir bapak itu pasti sedang menguras tenaga untuk menarik grobak berisi anaknya di tanjakan begini. Tak elok rasanya.
Sambil terus bermotor, aku celingukan mencari tempat yangg enak buat berhenti. Akhirnya kutemukan sudut jalan yang agak melebar karena ada pintu gerbang masuk kawasan gudang di sebelah gedung Indomobil. Kuparkir motorku di tempat yang tidak mencolok. Aku bertekad untuk menunggu mereka di sini, sampai kapan pun.
Di tengah waktu itu aku sempat kawatir, jangan-jangan mereka sudah belok kiri di pertigaan sungai Ciliwung karena mungkin saja mereka  tinggal di situ. Aku tak putus harap. Perlu waktu sekitar lima belas menit untuk menunggu mereka. Kerlip lampu senter polisi mulai tampak nyata di kejauhan. Bak kunang-kunag yangg menyusuri jalan. Tenggelam di antara kilau lampu mobil dan gemerlap kota yang tidak pernah tidur ini.
Aku beranjak dari tempat nangkringku.
"Permisi, Pak.. Rokoknya masih ada?" tanyaku setengah menghentikan mereka.
"Masih, mas. Mau rokok apa?" jawabnya sembari menghentikan langkah.
"Sampoerna Mild ada, Pak?" jawabku sembari menelisik sosok yang telungkup di atas gerobak itu.
"Waduh maaf mas, adanya cuma ini," katanya sambil menunjukkan kotak asongannya.
Dalam pendar cahaya yangg temaram karena terlindung pohon akasia, aku samar-samar melihat isi kotak itu. Deretan bungkus rokok tersusun rapi, jumlahnya kutaksir tidak lebih dari dua puluh lima bungkus. Agak lusuh tertutup debu.
"Ya udah, minta Sam Su saja, Pak", kataku sambil membuka dompet.
"Ini pak uangnya, nggak usah kembali", kataku sambil menyerahkan selembar uang.
"Sehat selalu ya pak, semoga lancar rejekinya". Bapak dan anak itu hanya sempet tertegun sebelum berucap terima kasih dan melanjutkan perjalanannya.
Ah... Aku sebenernya kepengin ngobrol beberapa kalimat dengannya, tapi aku tahu mereka pasti amat letih. Kupandangi sosok yang makin mengecil menjauh dariku, dengan langkah terseok...
Harapku cuma satu, ketemu mereka lagi...pak Kodir dan anaknya, Denny...
Post a Comment