Sunday, February 23, 2014

Tidur tanpa CD

“Ayo, Le..  Cepetan ganti baju.. Bapakmu sudah nunggu, tuuh” ujar simbah dengan lembut sembari mengelus kepala saya.

Dengan langkah gontai, saya beranjak ke kamar mandi yang terletak di pojokan dapur, sebelah pintu keluar itu.

Siang ini cuaca amat terik. Debu menyelimuti jalanan desa yang belum beraspal. Saya dan bapak menunggu angkutan umum di sudut desa. Kami harus menunggu lama karena hari ini  adalah hari Minggu. Hari dimana penumpang akan sepi karena aktivitas perekonomian melambat dan anak sekolah libur.

Saya duduk di atas batu besar. Pikiran saya melayang melampaui pematang sawah yang terbentang di bawah sana. Saya tak habis pikir, kenapa orang tua saya bersikukuh memondokkan saya di rumah Mbah Sakiyem. Jarak dari rumah saya ke SMP Negeri Tirtomoyo hanya 12 kilometer dan tersedia angkutan umum. Yang lebih mengherankan lagi, hanya saya satu-satunya anak yang dipondokkan.  Yang lain tidak. Kang Wagino, Yoto, mas Naryo, dan semua teman SD saya menjalani hari barunya di SMP tanpa harus terkekang dalam rumah pondokan. Masalah ekonomi? Tidak, orang tua saya paling mampu secara ekonomis dibanding orang tua mereka.

“Gini lho, To... Bapak pengin kamu belajar ngenger, ikut orang. Biar kamu mandiri. Kamu kan anak mbarep.”
“Tapi mbah Sakiyem kan galak, Pak?”
“Enggak, Le. Mbahmu itu galaknya pener. Lha ini Bapakmu dulu diasuh sama dia bertahun-tahun.”
Tak kurang, bu Dini, guru SD saya sudah mengingatkan saya tentang kegalakan simbah.
“Aku dulu juga ikut mbah Sakiyem lho, To. Kamu harus kuat mental,” ujarnya suatu hari.

Saya hanya diam terpekur. Logika saya menentang jalan pikiran bapak. Namun apa mau dikata, sabda itu telah tertitah. Mulai hari ini saya harus menjalani hidup di rumah Mbah Sakiyem. Tepatnya numpang hidup.

Mitsubshi Colt T120 buatan tahun 1982 ini memang karya besar. Mesinnya bandel, bodinya tambeng. Dengan kapasitas mesin hanya 1.200 liter, mobil ini mampu mengangkut 12 penumpang dewasa tanpa kehabisan tenaga. Tanjakan Gunung Mijil yang curam dan buruk rupa dilalapnya tanpa kesulitan. Sopirnya seorang pria paruh baya, lek Giman namanya. Kami saling kenal satu sama lain karena dia suka ngetem di pasar desa saya.

“Lho, hari Minggu kok sudah mau sekolah, bukannya besok, To?”
Bapak menyergah.
“Iyo besok.  Tapi dari Nggodang. Anto mau mondok di sana.”
“Oooo.... Wah harus siap-siap digalaki Mbah Sakiyem dong.”
Kami terdiam.

Perjalanan sejauh 10 kilometer ini memakan waktu hampir 45 menit. Dengan sigap bapak menurunkan tas punggung yang berisi beberapa lembar pakaian dan buku saya. Saya mengekor di belakangnya dengan perasaan galau.

Sosok pria tua berpostur tinggi besar berambut putih itu tergopoh-gopoh menyambut saya. Suaranya menggelegar.

“Sini...sini putu lanang... Wah besok sudah mulai sekolah ya....”
“Inggih, Mbah.”

Kami segera duduk nglesot di lantai rumah depan beralaskan tikar plastik. Beberapa orang sibuk hilir mudik mengangkut jenang dodol dari dapur ke ruangan ini. Nampan berisi jenang dodol hangat yang sudah tercetak itu disusun di rak kayu. Aromanya meruah sedap, membuat air liur saya meleleh.

“Jadi mulai hari ini saya nitip Anto, Pak,” ujar bapak ke mbah Padmo, suami Mbah Sakiyem.
“Iyo... Nggak apa-apa. Semoga anakmu kerasan, So.”

Seorang wanita paruh  baya membawakan minuman dan beberap iris jenang dodol di piring keramik.

“Ini mas Anto dicobain jenangnya sebelum bosen. Nanti tiap hari juga bisa makan jenang kok.”

Dia adalah mbak Muk, keponakan mbah Sakiyem yang diangkat sebagai anak pungut. Mbak Muk sudah berkeluarga dan dikarunia lima orang anak. Keluarga itu tinggal di rumah ini. Selain keluarga mbak Muk, ada dua lagi keponakan mbah Sakiyem yang tinggal di rumah ini, Pur dan mas Warto. Pur masih sekolah seperti saya, sedangkan mas Warto adalah seorang guru Sekolah Dasar di desa saya.

Mereka semua ikut ngumpul di ruang tengah menyambut kedatangan saya. Saya mulai mengakrabi suasana rumah ini. Kebetulan hari ini adalah hari Minggu Wage, dimana aktifitas rumah ini meningkat pesat menyiapkan dagangan buat dijual besok di pasar Tirtomoyo. Namum pikiran saya masih risau. Sosok yang selama ini membuat gamang belum kelihatan batang hidungnya, mbah Sakiyem.

“Nanti tidurnya sama aku, Ri. Tu kamarnya di belakangmu,” ujar mas Warto.
“Inggih, Mas.”
“Ri, nanti malam kita ke ladang belakang rumah ya, njagain pompa air, lagi ngairin taneman kacang tanah,” ujar Pur.
“Hus, aja macem-macem kowe, Pur. Rianto ini di sini buat belajar, bukan kerja. Nanti sekolahnya bodoh kayak kamu,” sergah mbah Padmo.
“Nggak apa-apa, Mbah. Rianto kalo di rumah juga saya ajak nyari rumput kok. Pokoknya semua kerjaan di sini harus bisa dia kerjakan, Pak. Dia saya titipkan di sini biar belajar semuanya.”
“Iyo, aku ngerti, So. Tapi anakmu ini kan pinter. Sayang kalo waktunya terbuang buat mbantuin kerjaan. Biar dia sinau saja.”

Sekonyong-konyong seorang wanita tua berkain jarik mendatangi kami dengan langkah cepat. Tanpa basa-basi dia memeluk saya sembari menciumi pipi saya dengan sporadis.

“Oalaah So.. So... Anakmu kok sudah gede gini... Sudah pada makan belum. Ayo... ayo... kalian makan dulu.  Tu daging ragi sama sayurnya sudah mateng..” ujarnya sembari menarik tangan saya ke arah dapur.

Dapur itu masih berlantai tanah. Di sebelah kiri, mepet dinding, ada dua tungku besar. Tampak dua orang wanita paruh baya yang sedang menggoreng rempeyek dan tempe keripik. Di sebelah kanan ada sebuah tungku yang lebih besar lagi. Seorang pria berkulit legam tampak sedang mengaduk adonan jenang dodol. Keringatnya bercucuran karena hawa di tungku itu amat panas.

Dengan sigap wanita tua itu membimbing saya ke meja makan besar. Sebaskom daging ragi menggunung di sana. Dia segera menyodorkan piring kosong ke saya.

“Tuh ambil sendiri lauknya. Yo kayak gini ini rumahnya mbahmu Ri. Kalo hari Wage serba ribet, besok mau jualan di pasar. Tapi kamu nggak usah ikutan ribet. Tugasmu di sini cuma belajar dan belajar. Simbah nggak mau kamu kayak bapakmu, sekolahe dulu bodo karena sama bapaknya disuruh angon kerbau melulu..”

Sembari makan saya masih berpikir, ternyata bayangan buruk saya sebelum ini salah besar. Mbah Sakiyem yang diceritakan orang tidak seperti yang saya hadapi. Dengan telaten beliau menunggui saya makan. Nada bicaranya memang cepat dan tak berjeda. Gerakan dan langkahnya gesit untuk orang seusianya. Dan di tangannya terselip sebatang rokok.

“Jadi orang itu harus temen, Ri. Bapakmu itu meski sekolahnya bodo dia temen, serius, fokus. Liat aja, teman-teman sekolahnya nggak ada yang jadi pegawai negeri. Bapakmu doang yang jadi orang. Itu artinya dia temen. Nah kamu kan anak mbarep, laki-laki, harus bisa jadi contoh buat adik-adikmu. Makanya Simbah seneng kamu mau tinggal di sini. Di sini kerjaan banyak, tapi kamu nggak usah pikirin. Yang penting kamu sinau. Nggak usah ikut-ikut si Pur nyari rumput. Pokoke kamu belajar. Wis tak tinggal yo. Simbah lagi ada pasien. Tu si Prayit, anake pak Lurah Tempel kena hernia.”

Wanita tua itu lenyap dalam sekelebatan mata. Gerakannya benar-benar seperti hantu.

Demikianlah akhirnya, mulai hari itu saya menjalani hidup di rumah mbah Sakiyem. Sebetulnya saya dilarang keras membantu kerjaan di dapur, tapi melihat lek Paimin ngaduk adonan jenang kok jiwa ke-ndeso-an saya tertantang. Dia juga mengajari saya dengan semangat. Kebetulan anaknya ada yang seumuran dengan saya, sehingga kami cepat akrab. Walhasil dalam beberapa hari saya sudah piawai mengaduk adonan jenang. Sembari mengaduk, saya cicipi intip jenang yang gosong. Ternyata rasanya lebih enak dibanding yang biasa dijual, lebih sensasional, ada aroma arangnya.

Segudang pekerjaan lain juga saya lakoni, menyabit rumput buat pakan sapi, memarut kelapa dan menggililing beras jadi tepung dengan mesin, menyusun peyek dan tempe keripik dalam kaleng kerupuk dan begadang di ladang untuk menjaga mesin pompa air yang tengah mengairi tanaman kacang panjang.

Namun ada satu pekerjaan yang paling saya sukai, yaitu menghitung uang hasil jualan di pasar.Kotak kayu berisi uang itu dibuka lantas isinya ditumpahkan ke atas meja. Beragam pecahan uang ada di sana, mulai uang logam pecahan 25 rupiah sampai uang kertas pecahan 10.00 rupiah. Saya lantas mengelompokkan uang itu sesuai nominal pecahannya, menyusunya dengan pola yang sama dan mengikatnya dengan benang jahit. Mbah Sakiyem bilang bahwa tuyul tak akan mampu mencuri uang yang diikat dengan benang jahit. Di kotak uang itu juga terdapat kulit durian yang sudah kering. Fungsinya sama, menangkal kejahatan tuyul.

Menginjak tahun ke tiga, ketika saya naik ke kelas 3 SMP, dengan berat hati, rumah pondokan ini saya tinggalkan. Bapak punya pertimbangan tersendiri. Dia tidak mau anaknya tercemari kebiasaan jelek yang sedang merebak di kota kecil kami, judi togel dan judi kartu Cina. Kebetulan rumah itu sering jadi ajang dua hal itu. Jaman itu bahkan aparat kepolisian ikut bergabung dengan para penjudi itu, tanpa ada rasa bersalah.

Dua tahun yang sarat makna. Betapa saya dididik untuk mandiri dan harus bisa mengubah kebiasaan di rumah.

Betapa tidak, posisi saya sebagai anak sulung amat menguntungkan saya di keluarga saya. Segala hal yang diprioritaskan adalah saya, mulai dari urusan pembagian lauk sampai urusan baju lebaran. Dua tahun numpang di rumah mbah Sakiyem membuat keistimewaan saya terampas. Kedudukan saya sama dengan saudara-saudara lain yang numpang di situ. Saya hanya bisa kembali menikmati tahta saya di akhir pekan, ketika saya mudik ke orang tua. Namun satu hal besar yang saya dapat adalah bahwa hidup di rumah orang mampu mengubah sifat kolokan saya selama ini.

Sabtu, seminggu yang lalu...

Saya sekeluarga pergi ke Bandung untuk satu tujuan, mencari tempat kost buat saya. Perasaan saya amat melo saat itu. Ingatan saya kembali terbang ke Juni 1986, ketika siang itu saya diantar bapak ke rumah Mbah Sakiyem. Sepanjang saya perjalanan saya memilih diam, karena saya tahu apa yang akan saya hadapi di Bandung. Kesendirian, kesunyian, keterserahan; tiga kata yang sejak menikah saya tanggalkan karena hidup saya diurusi orang lain.

Ketika akhirnya pada hari Selasa lalu saya benar-benar memulai perjalanan baru itu, saya tak bisa segera tidur. Kamar sempit ini terasa kian menghimpit perasaan. Dalam keremangan dan kesunyian saya menghela nafas panjang. Sejak saat ini saya harus mengubah (lagi) banyak hal; mulai dari makan harus ke warung, bangun tidur tak ada yang menyediakan teh anget, milih warna baju harus hati-hati biar tidak salah warna, hingga hal sepele, tidur tidak memakai celana dalam agar irit cucian.


Kampung Makasar, 22 Februari 2014, 21.01 WIB
Post a Comment