Tuesday, February 18, 2014

Belajar dengan saya Tak Pernah Bayar, asal Rela Dihina

Sebuah pesan rada terlambat saya buka. Dia datang dari sohib saya di kantor lama,Hendra Hadi Saputra.
“Masla, mau bikin pengumuman, nih. Pake software apa ya?”
Pengumuman yang dimaksud adalah pengumuman melalui sound system gedung utama Kantor Pusat Ditjen Pajak. Proses kerjanya dimulai dengan merekam suara announcer ke dalam komputer, lalu diedit dan dijadikan cd audio, terakhir tinggal dikasihkan ke kantor building management untuk diputar sesuai pesanan kita.
Hal ini sudah sering saya lakukan. Bermodal wireless clip on dan software Sony Vegas, pekerjaan ini tidak terlalu sulit dilakukan. Hanya saja bagi yang belum pernah melakukannya memang perlu waktu untuk belajar.
Syukurlah, setelah melalui proses tutorial singkat lewat sarana chatting, Hendra dapat menyelesaikan pekerjaan ini dengan baik. Dia sempat mengalami kesulitan ketika software tidak mengenal sinyal suara dari microphone. Ternyata dia tahu apa yang harus dilakukan tanpa instruksi dari saya, cukup dengan me­-restart software tersebut; semudah itu. Saya sangat senang hal yang mungkin dianggap susah mejadi sesuatu yang mudah dilakukan.
Jum’at sore lalu, pada kesempatan terakhir ngobrol dengan Arief, sekondan saya di P2Humas, dia juga menanyakan hal-hal seputar pengolahan file multi media. Dia juga terhenyak ketika mendapat mandat penyimpanan seluruh peralatan dokumentasi milik P2Humas. Siang itu seluruh barang tersebut telah saya serah terimakan ke atasan saya. Saya sendiri juga kaget ketika menyadari bahwa selama ini saya mengelola 45 jenis barang sarana dokumentasi kegiatan kehumasan.
Sekian tahun bertugas di sini, bidang pekerjaan saya memang tak lepas dari urusan multi media. Saya memang mengawali semua ini dengan fotografi, tapi dalam perkembangan selanjutnya tugas saya melebar ke hal-hal yang tak hanya sebatas fotografi.
Setahun yang lalu saya diberi tugas untuk membuat video tutorial pelayanan NPWP dan Starter Kit, sebuah produk baru direktorat kami. Sejak awal saya sudah membayangkan lingkup pekerjaan tersebut. Saya pasti akan menjadi seorang pembuat skrip, lightingman, sound master, kameramen, sekaligus sutradara dari proyek itu. Dan benar, itulah yang terjadi.
Saya menyadari bahwa saya sering memborong sebuah peran dalam suatu pekerjaan. Hal yang sebenarnya tidak sehat dalam tim kerja. Namun saya melakukannya bukann tanpa alasan. Kedudukan saya dalam sebuah tim ya hanya sebagai anggota. Jabatan struktural saya pun juga sama dengan anggota tim lain, sehingga saya merasa tidak punya hak untuk memerintah anggota tim lain.
Sebenarnya saya menyadari dan mengenali dengan baik potensi masing-masing teman yang pernah bekerja bareng dengan saya. Hendra, teman yang saya sebut tadi adalah seseorang yang jago desain grafis. Febri Eriyanto adalah teman yang semangat belajar hal baru patut diacungi jempol. Anaknya tambeng, tak pernah kesal meskipun sering saya perlakukaan dengan omongan kasar dan bernada mengejek. Saya memang punya prinsip, belajar dengan saya tidak pernah bayar, asal rela dihina. Arief adalah alumni SMU Taruna Nusantara yang punya kepatuhan komando amat tinggi. Tak kata tidak yang keluar dari mulutnya setiap saya meminta sesuatu. Di samping mereka bertiga masih banyak teman lain yang masing-masingnya talenta dan etos kerja yang luar biasa. Ada Ramzu, Lukman, Haris, Hendra Kuwu dan banyak nama lainnya.
Kejadian sore tadi lantas mengusik pikiran saya. Jangan-jangan selama ini saya telah merampas kesempatan mereka untuk berkarya...

Bandung, 17 Februari 2014.
Post a Comment