Tuesday, March 18, 2014

Penghuni Pantai Parang Kusumo


 
Langkah saya dan Cupez terhenti sejenak di punggung gumuk pasir itu. Di depan kami tersembul atap terbuat dari terpal plastik warna biru.
“Kok kayak ada rumah, ya Pez..”
“Iyo tu,Mas…”
Belum genap kebengongan kami dengan pemandangan ganjil ini, saya melihat seseorang berjalan rada tertatih dari arah pantai menuju bangunan itu. Saya kian penasaran.
“Wah, obyek human interest iki, Pez”
Kami bergegas mempercepat langkah ke arah bangunan itu, tanpa memedulikan sengatan duri perdu di kaki. Kian dekat bangunan itu kian nyata, tak terhalang lagi oleh gundukan pasir. Rupanya selain bangunan beratap biru tadi ada bangunan lain di depannya. Namun karena ketinggiannya lebih rendah, maka bangunan ke dua ini tadi tidak tampak sama sekali.
Langkah kami sudah mencapai jalan setapak menuju bangunan itu. Saya segera belok kanan ke arah bangunan itu tanpa memedulikan lagi keberadaan Cupez yang rupanya belok kiri ke arah bibir pantai. Anak muda separo Jawa kelahiran Kalimantan itu rupanya tak tertarik dengan obyek ini. Dia memilih memburu matahari yang sebentar lagi akan tenggelam.
Hati saya agak ciut ketika langkah sudah mencapai semacam gerbang bangunan itu. Pemandangan di depan saya agak menyeramkan. Tampak dua pria sedang duduk di pasir beralaskan seadanya. Namun saya bismillah saya, toh niat saya tidak banyak dan macam-macam, hanya ingin bertamu ke mereka, syukur-syukur boleh memotretnya. Masih terngiang ucapan om Darwis Triadi kemarin siang yang mensyaratkan pemanusiaan manusia, kecuali kita motret cicak.
“Assalamualikum wr wb. Kulo nuwun, Pak.”
Bagi orang Jawa, kulo nuwun itu salam wajib, bahkan dulu kedudukannya melebihi salam yang diwajibkan bagi seorang muslim.
“Weh… monggo… monggo mas. Silahkan mampir,” sambut pria yang duduk di halaman bangunan itu.
Dia sedang asyik membongkar tas lusuh dan beberapa buntal kantong plastik. Seekor kucing berwarna telon tampak asyik mengitari pria itu. Saya segera mendekat untuk bersalaman dengan mereka.
“Dari mana, Mas?”
“Saya asli Wonogiri, Pak.. tapi tinggal di Jakarta.”
“Wah, jauh ya. Kameranya Nikon apa Canon, Mas?”
Saya yang sudah jongkok di depan pria itu nyaris terjengkang. Pertanyaan yang keluar dari mulut pria tua ini amat mengagetkan saya.
“Nikon, Pak. Jangan-jangan Njenengan ini fotografer juga?”
“Kata orang bagus Canon, ya Mas?”
Nah… lagi-lagi saya kaget. Ke lima indera segera saya pasang kuat-kuat. Dua pertanyaan itu cukup untuk membuat saya meningkatkan kewaspadaan. Segala kemungkinan bisa terjadi.
Sembari berfikir untuk menjawab pertanyaan pria itu, padangan mata saya kitarkan ke sekeliling bangunan ini. Di depan saya tampak bangunan yang konstruksinya terbuat dari bilah bambu. Dinding dan atapnya terbuat dari bekas spanduk digital. Kondisinya sudah compang-camping dan ditambal dengan lembar lain di sana-sini. Tingginya hanya sekitar 160 cm sehingga secara umum tak mungkin berdiri di bawahnya. Bangunan itu terbagi menjadi dua, bagian depan difungsikan sebagai ruang tamu ala kadarnya. Sementara itu bagian belakangnya ada semacam kamar berpintu kain. Saya menduga itu adalah kamar tidur.
Seorang pria yang saya taksir berusia di atas 60 tahun tampak duduk bersandar di dekat pintu kamar itu. Kulitnya yang sawo matang tampak relatif bersih. Dia tak banyak bicara.
“Sama saja kok, Pak. Monggo pak, rokok,” ujar saya. Saya tak mau terjebak dalam diskusi merk kamera dengan pria ini.
“Matur nuwun, Mas. Ni, Pak.. dapet rejeki rokok,” ujar pria itu sembari melempar bungkus rokok kepada pria yang sedang bersandar tadi.
Tiba-tiba terdengar suara pria lain berdehem dari dalam ruang tamu. Saking rendah dan gelapnya ruang tamu itu, saya tidak menyadari bahwa ada manusia lain di bangunan itu.
“Tu, mas.. rokok,” saya menawarkan rokok kepada pria yang masih relatif muda dan bertopi itu.
“Suwun, Mas.. rokok saya lain.”
“Ke sini sendirian, Mas”
“”Enggak, Pak. Kami berempat, yang lain lagi pada motret di pantai.”
“Nggak motret orang lomba paralayang, Mas?”
“Mboten, Pak. Kami lebih suka motret pemandangan.”
Sembari berbincang, tangan kanan pria itu sibuk membongkar kantong plastic lusuh. Rupanya ada beberapa makanan sisa di sana, beberapa potong ayam goreng dan tulang ayam bakar. Tulang ayam diberikan ke kucing, sedangkan potongan ayam goreng yang masih utuh disimpan lagi. Ingatan saya terbang ke anak bungsu, Abyan. Tuhan menganugerahkan kesensitifan hati kepadanya, terutama ketika berhubungan dengan kehidupan satwa. Dia pernah merengek ke mamanya agar boleh membawa pulang seekor kucing yang tampak tak terurus di pasar Kramat Jati. Tangisnya juga pecah ketika saya dengan terpaksa menyembelih kelincinya yang sekarat tak kuat melawan penyakit. Yang agak menggelikan, suatu hari, dia membeli anak burung di sekolahannya seharga tiga ribu rupiah. Bukannya dipelihara, burung itu kemudia dilepaskan ke alam bebas.
Hati saya berdesir melihat pemandangan ini. Desirannya kian kuat ketika pandangan mata saya tertuju pada lengan kirinya. Rupanya yang selama ini saya anggap normal, pria ini hanya berlengan satu. Lengan kirinya ternyata palsu.
“Aslinya mana, Pak?”
“Saya dari Gampingan situ, Mas.”
Gampingan adalah nama sebuah daerah di kota Yogyakarta. Letaknya hanya sekitar 40 kilometer dari sini.
“Saya boleh foto kucingnya, Pak?”
“Monggo, Mas. Tapi jangan cuma kucingnya, sekalian sayanya dong..”
Inilah momen terindah bagi seorang penggemar fotografi manusia. Komunikasi yang membuahkan hasil berupa keleluasaan hati dari obyek foto. Hal ini tidak berhasil saya temui selama beberapa kali motret di jalan Malioboro.
Ketika senja mulai tiba, saya beranjak pamit kepada mereka bertiga. Pria berlengan satu itu mengantar saya sampai ke bibir pantai, tempat Cupez, mas Deddy dan Fath sedang asyik memburu matahari.
Post a Comment