Monday, March 17, 2014

Supel dan Sumpel - Ketika Bapak Bingung Memilih

Sesosok pria tua itu tampak sedang memegangi lututnya sembari duduk di teras, saat saya menggapai rumah, malam Sabtu lalu. Setelah membuka pagar, saya langsung sungkem dan memeluknya erat-erat.

“Kamu baru pulang, Le?”
“Inggih, Pak. Tadi dari Bandung langsung mampir rumah sakit.”
“Piye kondisinya anakmu?”
“Alhamdulillah sudah stabil, Pak. Bapak sendiri pripun?”
“Sehat... nggak usah jadi pikiranmu..”

Orang tua satu ini memang tidak pernah mau membebani pikiran anaknya dengan kondisi kesehatannya. Padahal jelas-jelas tadi beliau sedang memegangi lututnya yang memang sedang sakit. Diabetes telah menggerogoti fisknya sejak 12 tahun yang lalu. Kedatangan beliau ke Jakarta kali ini utamanya adalah untuk mengecek kondisi kesehatannya.

Setelah melepas sepatu saya bergegas masuk rumah. Heni, sepupu saya, sedang meracik bahan masakan di dapur.

“Ibu mana, Hen?”
“Tu lagi sholat, Mas.”

Saya meneruskan langkah ke kamar tidur, meloloskan pakaian kerja, berganti dengan pakaian hangat. Kondisi badan saya memang sedang menurun. Dua hari ini saya dilanda demam dan pusing. Saya segera kembali teras.

“Ndesa sedang musim apa, Pak?”
“Ini musim tanam padi, Le. Alhamdulillah musimnya bagus sekarang ini. Curah hujannya cukup.”

Tiba-tiba dari balik pintu muncul sosok agung berambut nyaris putih semua, ibu.

“Bhakti saya, Bu...” saya menyalaminya lantas memeluknya erat-erat.
“Lho kok badanmu anget, Le?”
“Inggih, Bu. Agak meriang ini.”
“Yo wes, sini tak keroki. Wong kamu ini dari kecil kalo masuk angin belum dikeroki belum sembuh kok.”
“Iyo lho, To.. Sana biar dikerokin ibumu dulu.”

Sesaat kemudian saya sudah meringis-ringis kesakitan dihajar liukan jemari ibu. Tenaganya tak kuat lagi, namun efeknya sama saja. Sekujur tubuh saya berubah menjadi selembar papan beralur merah menghitam.

“Ini masuk angin kasep, To. Sudah sana pake baju. Jangan begadang sama bapakmu dulu, nanti nggak sembuh-sembuh.”

Larangan kembali terucap. Ibu memang kurang suka melihat kami menghabiskan malam dengan berbincang-bincang di teras rumah. Angin malam itu angin jahat, katanya. Namun apa daya, larangan itu tinggal larangan. Saya sudah duduk di depan bapak sembari menyeruput teh panas di teras.

“Minggu kemarin Bapak didatengi orang dari mBatu, To.”
“Siapa dia, Pak?
“Jadi awal tahun 60an kan Bapak dinas di mBaturetno jadi petugas pembasmi nyamuk malaria. Nah, di suatu desa kecil Bapak disuruh mampir sama orang tua, namanya mbah Mahtal. Rupanya dia orang sakti di situ. Bapak ditanya asalnya dari mana, anaknya siapa, dan seterusnya. Begitu bapak ceritain asal-usul bapak, mbah Mahtal bilang bahwa berarti bapakmu ini masih terhitung cucunya.”
“Lho kok selama ini Bapak nggak pernah cerita ke kami?”
“Lha iya, wong ya Cuma sekali itu bapak ini ketemu sama mbah Mahtal.”
“Nah, minggu kemarin ada orang dateng ke rumah, ngakunya masih sanaknya mbah Mahtal juga. Dia datang untuk menyambungkan kembali silaturahmi yang sudah puluhan tahun terputus.”
“Wah.... hebat orang itu nggih, Pak. Mau-maunya ke ndatengi Bapak.”
“Iyo... aku yo seneng, apalagi pas pulang dia ngasih salam tempel. Begitu tak buka isinya lima puluh ribu rupiah. Lumayan to buat mbeliin pakan ayam.”
“Wah... ada embel-embelnya nggak tu, Pak?”
“Nggak... dia hanya minta doa restu mau nyalon jadi anggota dewan..”

Saya terdiam pilu. Bapak saya rupanya terlalu polos untuk memaknai pemberian itu.

Saya baru sadar, ini adalah tahun politik, dan Maret ini adalah bulan kampanye. Dan hiruk pikuk itu rupanya sampai juga di desa kami, sebuah desa terpencil yang terletak di tepi timur provinsi Jawa Tengah.

“Banyak yang ikut nyaleg to Pak?”
“Wah.. nggak banyak lagi, Le. Bayangin aja, sak kecamatan Tirtomoyo itu calegnya dua puluh sembilan orang.”
“Walah-walah... trus siapa nanti yang mau milih ya, Pak?”
“Itulah Le... Bapak juga bingung. Tapi kan sebenere modal nyaleg itu gampang...”

Wah.... inilah yang saya tunggu-tunggu, teori komunikasi massa dari seorang pensiunan PNS yang tidak pernah baca koran.

“Modale Cuma dua lho, Le...”
“Apa itu, Pak?”
“Satu supel, dua sumpel
“Hahahaha.... Bapak ini bisa aja.”
“Lho lha iyo to? Percuma kamu supel ke semua orang, kalo kamu nggak punya sumpel, mana mau orang milih kamu. Orang pasti akan milih caleg yang ngasih sumpel lebih gede.”
“Saya boleh nanya, Pak?”
“Mau tanya apa?” nada Bapak seolah sudah tahu arah pertanyaan saya.
“Jadi Bapak nanti mau nyoblos siapa? Bapak udah terima sumpel Lho..hahahaha..”
“Hahaha... aku terus terang yo bingung, Le. Lha bu Hartini istrinya pak Agung temen sekerja bapak dulu juga nyaleg. Bapak bingung....”

Air muka bapak mendadak berubah. Dulu pria ini teguh dengan pendiriannya, pokoknya Golkar, pokoknya mbah Harto, titik. Kini sumpel itu telah menggoyahkan keteguhannya.

“Ayooo Pak, anake lagi nggak sehat, jangan diajak begadang, to,” tiba-tiba Ibu menyela kami dari balik pintu.
“Laper Bu. Nggoreng tempe aja, Bu,” rengek saya.

Seperempat jam kemudian obrolan kami sudah berpindah ke depan televisi yang tengah menayangkan indonesian Idol. Sembari mengunyah tempe goreng, saya ngunandiko, gerangan Yahudi mana yang telah memengaruhi bapak saya ini sehingga sekarang doyan nonton tayangan ini. Ah... rupanya tak hanya keyakinan politik, wawasan bapak tentang hiburan pun telah bergeser dari wayang kulit ke idol-idolan... Sumpeeeeeel....

Bandung, 17 Maret 2014
Post a Comment