Sunday, March 2, 2014

Semobil dengan Temannya Gayus

Pembukaan penerbangan sipil dari bandara Halim Perdana Kusuma ini sungguh menguntungkan saya. Jarak rumah saya dengan run way bandara hanya seperlemparan tombak, terselang dua ruas jalan dan sebuah sungai buatan. Meski demikian, untuk menuju bandara tersebut, saya harus memutar, tapi hal itu hanya perlu waktu 15 menit.
Penerbangan Citilink jurusan Yogya pagi itu terjadwal tepat waktu. Pukul 10.50 WIB kami sudah boarding. Pemeriksaan fisik di bandara ini terasa lebih ketat jika dibandingkan dengan pemeriksaan fisik di Soekarno Hatta atau bahkan di Changi sekalipun. Sebagai warga kampung yang berdampingan dengan bandara ini, saya maklum. Kawasan ini adalah ring I. Saya masih ingat ketika Goergo W. Bush berkunjung ke Indonesia, seharian telepon seluler kami tidak bisa digunakan karena sinyalnya diacak.
Ketika ceck in saya berharap mendapat tempat duduk di seat F, atau jendela kiri. Saya hafal, take off dari Halim Perdana Kusuma ini nyaris selalu ke arah barat. Dengan duduk di sebelah kiri, berarti saya bisa memotret rumah saya dari ketinggian, karena letak rumah saya berada di sebelah selatan bandara. Sayangnya sistem pembagian kursi dilakukan secara otomatis, sehingga hanya keberuntungalah yang saya tunggu. Kali ini saya sama sekali tak beruntung, karena mendapat jatah seat di 25 B. Tempat yang sama sekali tidak ideal untuk memotret.
Deru mesin Airbus A320 membelah kesunyian pagi yang temaram karena mendung. Take off berlalu dengan mulus. Sensasional rasanya terbang dari sebelah rumah. Majalah yang tersaji di pesawat ini terlalu kecil ukuran hurufnya, membuat mata saya lelah. Saya lantas terbenam dalam kantuk. Rasanya saya baru saja terlelap, ketika tiba-tiba pesawat berguncang. Rupanya pilot sudah mengurangi ketinggian karena sebentar lagi akan melakukan pendaratan. Jam tangan saya menunjukkan pukul 12.10 WIB. Saya rada heran, kenapa pilot sudah menurunkan ketinggiannya, mengingat waktu pendaratan sesuai jadwal tadi masih 20 menit lagi? Rupanya kepadatan jalur ini yang menjadi penyebabnya. Pesawat berputar-putar di atas kota Yogya dan Klaten beberapa kali sebelum akhirnya mendarat dengan enak di Adi Sucipto. Selamat datang di Yogyakarta, everyday is Sunday, demikian kata orang sini.
Saya bergegas menyusul berdiri ketika penumpang sebelah saya sudah beranjak dari tempat duduk. Di kabin saya membawa dua tas, tas kamera dan tas laptop, sementara tas pakaian saya titipkan di bagasi. Belum genap lima langkah ke pintu belakang, pandangan saya bersirobok dengan mantan teman seruangan di kantor lama. Ah, Heni... Dia adalah panitia acara yang akan saya ikuti. Kebetulan tempat tinggalnya di komplek perumahan TNI Angkatan Udara Halim Perdana Kusuma, sehingga terbang dari Halim adalah pilihan utama.
“Ke hotel naik apa, Hen? Naksi bareng aja, yuuuk”
“Lho, kan ada fasilitas jemputan, maSla.”
Ah.. saya benar-benar beruntung bersua. Selama ini saya tidak pernah peduli dengan fasilitas penjemputan hotel, sampai-sampai sehari sebelumnya saya sibuk bertanya ke teman-teman, mas Eko dan mas Rindhang, tentang angkutan umum dari bandara ke Malioboro.
Setelah mengambil tas di ban berjalan, saya dengan Heni bergegas keluar terminal kedatangan. Seorang pemuda berbadan kurus tampak memegang kertas putih bertuliskan “Mrs. Heni, Jakarta. Hotel Inna Garuda”. Itulah penjemput kami.
Rupanya selain kami berdua ada dua penumpang lain di mobil kami. Mereka adalah sepasang suami isteri. Saya mengambil posisi duduk di sebelah pengemudi, sementara Heni dan suami istri itu duduk bertiga di bangku tengah.
Kami langsung terlibat obrolan akrab dan bertukar informasi profesi masing-masing. Sang suami adalah seorang pria berusia 50-an. Penampilannya perlente. Sang istri adalah seorang wanita berusia 45-an dengan dandanan rapi dan hijab modis. Mereka adalah pengusaha jaket kulit kelas premium yang sedang berencana membuka outlet di hotel Inna Garuda.
“Boleh pak Slamet, murah kok...”
Saya membayangkan harga jaket kulit buatan Garut.
“Berapa kisaran harganya, Pak?”
“Mulai dari tiga setengah juta sampai delapan juta, Pak.”
Saya tercekat. Dipikirnya siapa saya ini kok orang ini dengan percaya diri menawarkan sesuatu yang nyaris sebesar gaji saya sebulan. Padahal jelas-jelas saya tadi mengatakan bahwa kami bekerja di Ditjen Pajak.
“Wah, pak Slamet ini merendah. Orang pajak kan remunerasinya sudah 100%, Pak.”
“Justru itu, artinya Bapak tahu berapa penghasilan saya, kan?”
Lalu dia bercerita panjang lebar tentang lompatannya ke kuadran pengusaha. Awalnya dia adalah seorang karyawan perusahaan swasta. Jenuh dengan pekerjaan yang itu-itu saja, akhirya dia banting setir menjadi produsen jaket kulit.
“Pajak sempat goyah gara-gara kasus Gayus, ya Pak?”
Inilah saatnya..
“Kalau dari kaca mata kehumasan sih hal itu merupakan sesuatu yang wajar, Pak.”
“Lho, kenapa begitu, Pak?”
“Ditjen Pajak itu punya tiga puluh dua ribu pegawai, Pak. Kami telah mereformasi organisasi sejak tahun 2001 sampai tahun 2007. Remunerasi, seperti saya sampaikan tadi, sudah kami terima 100%, tidak seperti teman-teman TNI dan Polri.”
“Nah, berarti gajinya sudah besar dong, Pak. Kok masih ada Gayus?”
“Begini, Pak. Ijinkan saya jelaskan hal mendasar dari sebuah perselingkuhan. Gayus tak main sendiri, ada pihak lain yang terlibat di sana, yaitu perusahaan yang menyuapnya. Atasan saya mengistilahkan it takes two to tango, nari tango itu harus melibatkan dua orang. Dan orang kedua yang menjadi pasangan selingkuhnya Gayus itu ya pengusaha, temen-temen Bapak itu..hahaha”
Saya melirik ke belakang, melihat reaksi pasangan suami istri itu. Saya tak berharap apa yang saya sampaikan barusan merusak pertemanan yang baru saja terjalin. Rupanya kekawatiran saya tidak terjadi.
“Iya, pak Slamet. Teman-teman pengusaha memang sekarang jadi malas bayar pajak lho, takut uangnya dikorupsi Gayus.”
Ah, saya berkesah. Rupanya Gayus sudah menjadi merk generik sebuah kejahatan, sama dengan Aqua yang menjadi merk generik air dalam kemasan, Honda untuk sepeda motor dan Kodak untuk kamera.
“Pak... selama ini Bapak bayar pajaknya kemana?”
“Ke bank, Pak. Saya kan punya rekening giro.”
“Nah, apa mungkin saya bisa mencuri uang pajak yang Bapak bayar itu?”
“Menurut saya sih susah, Pak. Kecuali pak Slamet bisa mbobol sistem perbankan.”
“Yap. Sesederhana itu, Pak. Uang yang Bapak bayar itu masuk kas negara. Nyaris mustahil untuk dicuri, kecuali dengan cara lain.”
“Apa itu, Pak?”
“Melalui proyek Hambalang, Pak.. hehe..”
“Wah, pak Slamet ini pinter meyakinkan orang ya...”
“Makasih, Pak. Kebetulan saya kerja di Humas, jadi memang harus bisa menghadapi orang-orang seperti Bapak.”
Mobil yang membawa kami telah memasuki tikungan terakhir, masuk ke jalan Malioboro. Hotel ini kebetulan berada di ujung utara jalan ini, sehingga selepas tikungan, mobil langsung belok ke halaman hotel. Begitu mobil berhenti di depan lobi, saya bergegas membuka pintu dan menurunkan bawaan. Pria perlente itu mendekati saya.
“Pak Slamet, saya serius lho dengan ucapan saya tadi.”
“Yang mana ya, Pak?”
“Pak Slamet kayaknya cocok jadi marketer. Kalo memang bersedia, saya berani ngasih imbalan sepuluh juta per bulan.”
“Hahaha.... Bapak ini bisa aja. Gini deh, Pak. Mari kita mulai dengan saling bertukar nomor telepon. Selanjutnya biarlah waktu yang bicara.”
Kelar bertukar nomor telepon, saya segera menuju lantai dua. Jam tangan sudah menunjukkan pukul 13.00 WIB. Tempik sorak teman-teman yang sudah lebih dulu tiba menyambut kedatangan saya.
“Horeeee.... pak kasi dataaaang...!!!”
“Berisik ah.... ni ada promo jaket kulit, baca brosurnya ya, kalo tertarik hubungi aku,” ujar saya sambil membagi-bagikan beberap lembar brosur yang saya peroleh dari rekan seperjalanan saya tadi.

Kampung Makasar, 2 Maret 2014.


Post a Comment