Monday, July 14, 2014

Cerita Bersambung Bagian 1 - Ketika Zorro Pergi Umroh

Saya menggeser posisi duduk ke meja kecil agar bisa berhdap-hadapan dengan bapak. Beliau duduk di tepi ranjang ekstra. Kamar 1631 hotel Pullman Mekkah ini sedianya memang untuk 2 orang, namun oleh manajemen travel diisi 4 orang sehingga memerlukan tambahan tempat tidur. Pagi itu kami usai melaksanakan Tawaf Wada. Masih ada 4 jam sisa waktu untuk istirahat sebelum meneruskan perjalanan ke kota Madinah. Sebetulnya jadwal Tawaf Wada adalah pukul 10.00 waktu sini, tapi saya memilih mendahului melakukannya setelah sholat Subuh tadi, dengan perhitungan sesudahnya saya bisa istirahat.
“Waktu itu Bapak disuruh sama Mbah Kakungmu untuk menjemputnya pagi-pagi, Le..”
“Lho, Mbah Kakung emangnya menginap dimana, Pak?”
“Mbahmu nginap di rumah salah satu istrinya, di desa seberang.”
Almarhum mbah saya memang pria tak biasa. Bahkan saya sendiri tak hafal siapa saja istri-istrinya. Poligami yang dijalananinya memaksa cucu-cucunya berakrab ria dengan kehidupan yang kadan terasa tidak biasa.
“Yo wis, jadilah pas ayam mulai berkokok, Bapak berangkat njemput Mbahmu, naik kuda.”
Tahun 1960an desa kami masih gelap gulita. Jalanan yang ada hanyalah jalan setapak. Kendaraan bermotor belum mampu merambah desa kami. Mbah saya adalah seorang Kepala Desa. Negara memberinya kendaraan dinas, berupa seekor kuda jantan. Disamping itu, beliau juga memiliki kuda betina. Dua hewan peliharaan tersebut dirawat oleh bapak saya, mulai dari mencarikan pakan, memandikan, merawat bulunya dan mengurusnya ketika sakit. Pekerjaan tersebut membuat bapak amat piawai menunggang kuda. Saking piawainya, kadang beliau menaiki kuda tersebut tanpa pelana, menyusuri lereng-lereng bukit, mengawal mbah meninjau wilayah kerja.
“Hari masih gelap ketika Bapak sudah mencapai desa Nggodang, Le. Kuda itu tak seblaki sekuat tenaga karena Mbahmu marah kalau sampai terlambat dijemput.”
“Bapak nggak takut lewat Watu Platar?”
Watu Platar adalah nama sebuah onggokan batu andesit sebesar tiga kali rumah limasan. Batu itu terletak di lereng bukit, dimana di bawahnya dibikin jalan penghubung dua desa. Konon di daerah situ suka ada penampakan hantu glundhung pringis. Hantu itu berupa kepala manusia yang terlepas dari lehernya, berguling-guling dari puncak batu ke arah jalan sambil meringis menyeramkan. Sampai sekarang cerita itu lekat dengan masyarakat desa kami.
“Walah, kita ini kan makhluk Tuhan yang paling tinggi derajadnya to, Le.. Masak takut sama hantu.”
“Rasa takut itu kan manusiawi, Pak.”
“Lha iya.. Kamu boleh takut, tapi sak madya saja, seukuran, jangan berlebihan. Rasa takut itu hanya ada di pikiranmu, bukan sesuatu yang benar-benar nyata.”
Saya terdiam. Kopi instant itu masih separo mug kecil. Saya memang suka menghabiskan kopi berlama-lama. Sebatang rokok lantas saya sulut. Apa daya, larangan merokok di Tanah Suci ini tak bisa saya patuhi. Di tas saya tersimpan lima bungkus rokok bawaan dari Indonesia.
“Kamu tahu, kenapa Bapak nggak ngrokok?”
Pertanyaan itu amat mengagetkan saya. Sepanjang hidup, saya memang belum pernah menjumpai bapak menghisap rokok. Hal itu sebenarnya amat mengundang rasa penasaran saya, namun entah kenapa saya belum pernah berani menanyakannya.
“Haha... kenapa, Pak? Dulu nggak punya uang , ya?”
“Wah, salah kamu, To. Bapakmu dulu kalo mau ngrokok tidak harus beli. Kan suka dapet jatah setiap nemenin Mbahmu keliling desa.”
“Wah.. gratifikasi itu, Pak.. Hahaha..”
“Lha embuh.. pokoke Bapak nggak pernah nolak setiap dikasih apapun sama rakyatnya Mbahmu. Mereka tulus kok.”
“Lalu apa yang membuat Bapak nggak pernah merokok?”
“Gini, Le.. Waktu itu Bapak disuruh Mbahmu untuk mewakili beliau jagong manten ke dusun Pakelan. Bapak dandan rapi banget, pakai pakaian putih-putih, dan seperti biasa naik kuda.”
Dusun Pakelan adalah bagian dari desa Sidorejo. Letaknya paling timur, berbatasan langsung dengan desa Penggung kecamatan Nawangan Kabupaten Pacitan. Dusun itu berada di atas ketinggian bukit sehingga senantiasa diselimuti hawa dingin. Seumur-umur saya baru sekali ke dusun itu, lebaran tahun lalu. Medannya amat sulit, melewati lereng perbukitan dan jurang di sisi kanannya.
“Bapak berangkat tengah hari karena takut kemalaman, Le. Sampai sana Bapak disuruh duduk di barisan depan, lha wakil Kepala Desa, je..”
“Wah, Bapak naik derajad, dong?”
“Lh iyo, kapan lagi Bapakmu ini bisa duduk di depan. Lha wong biasane kalo ngawal Mbahmu duduknya campur dengan para rakyat jelata itu, je..”
Dalam hati saya berpikir, rupanya bapak ini punya keinginan jadi priyayi juga. Semula saya pikir beliau adalah sosok lempeng tanpa ambisi. Rupanya...
“Nah... pulangnya Bapak dibawain nasi, cemilan, sama dua bungkus rokok yang sudah kebuka kotaknya, Le.. Rokok itu Bapak simpan di saku baju depan. Karena hari sudah sore, Bapak segera pamit ke tuan rumah, takut kemalaman di jalan.”
“Eh, Bapak waktu itu sudah menikah belum, ya?”
“Ya belum... Bapak masih bujangan. Inilah pertama kalinya Bapak disuruh jadi wakil Mbahmu.”
“Apa nggak ngeri naik kuda ke Pakelan, Pak? Jalannya kan curam banget. Lebaran kemarin saya bermotor aja rasanya takut banget.”
“Kuda itu kan tergantung jokinya, Le. Kalau sudah sehati dia kayak ngerti dengan bahasa kita. Ya memang perlu latihan, nggak asal naik.”
Sisa keperkasaan bapak saya memang masih ada hingga kini. Usianya sudah mencapai 72 tahun, namun berdasarkan pemeriksaan terakhir, detak jantungnya amat stabil. Maklumlah, bapak bukan manusia yang suka berdiam lama-lama. Apa saja beliau kerjakan, mulai dari menyapu halaman sampai menggarap ladang.
“Nah, di tengah jalan turun hujan lebat, Le. Karena sudah senja, Bapak nekad meneruskan perjalanan. Pakaian Bapak basah kuyup, termasuk nasi dan lauknya yang dibungkus pakai daun pisang itu.”
“Nggak bawa payung to, Pak?”
“Payung gundulmu.. pernah liat orang naik kuda pakai payung?”
Saya tertawa ngakak. Meskipun saya berbahasa krama inggil ke beliau tak berarti saya merasa segan untuk mencandainya.
“Nah, begitu sampai rumah Bapak baru sadar, rupanya rokok yang Bapak kantongin itu luntur kehujanan. Lunturannya mengenai baju kebesaran Bapak itu. Buru-buru Bapak rendam dan cuci pakai biji klerak. Berulang-ulang Bapak sikat, tetap saja kotorannya nggak bisa ilang.”
“Walah, tragis sekali ya, Pak?”
“Nggak Cuma tragis, Le.. Menyakitkan.. Baju itu Bapak beli dari hasil ngumpulin sedikit demi sedikit selama hampir setahun. Eh, lha kok gara-gara rokok jadi nggak pantes lagi dipakai. Ya sudah, sejak saat itu Bapak bertekad nggak akan nyentuh apalagi ngisep rokok.”
Sebatang rokok yang masih separo ini tiba-tiba terasa hambar di mulut saya. Buru-buru saya matikan di washtafel kamar mandi. Meski hotel ini tidak melarang merokok di dalam kamar, namun manajemen tidak menyediakan asbak di kamar, sehingga terpaksa saya matikan di washtafel.
Saya lirik jam tangan, waktu telah menunjukkan pukul 12.00 waktu Mekkah. Saya bergegas mengajak bapak ke kamar mandi untuk bersuci. Kran toilet saya arahkan ke telapak tangan bapak agar beliau bisa bersuci dari pancuran air. Perlu waktu agak lama untuk menyelesaikan ritual ini. Tubuh renta sang Zorro itu tak kuasa lagi berdiri tegak, bahkan untuk sekedar bersuci.
 Bandung, 14 Juli 2014
####Bersambung#####


Post a Comment