Tuesday, July 15, 2014

Cerita Bersambung Bagian ke 2 - Ketika Zorro Pergi Umroh

Kiri ke kanan : Pak Anas, Bapak, Ibu seusai Umroh ke dua
Cerita bagian I ada di sini
 
Tepat pukul 14.00 waktu Mekkah bus kami berangkat ke Madinah. Seperti biasa cuaca amat panas. Pendamping kami, pak Ansori, dengan semangat mulai berkisah tentang tempat-tempat yang kami lalui. Pria asal Semarang ini mengajak kami untuk senantiasa melantunkan shalawat nabi.
Saya duduk di bangku paling belakang, di belakang bapak dan ibu. Sembari bershalawat, saya memotret suasana kota Mekkah. Sejenak kemudian saya menemukan hal ganjil. Bus ini seperti berputar-putar di jalan yang sama. Pak Ansori bahkan berkata dengan intonasi meninggi kepada pengemudi bus bahwa kita salah jalan. Perkiraan saya ternyata tidak meleset, bus ini tersesat di kota Mekkah.
“Kenapa, To”, bapak rupanya menangkap kegelisahan saya.
“Itu sopirnya nggak tahu jalan, Pak”
“Lha terus gimana?”
“Coba sebentar saya ke depan, Pak.”
Saya beranjak ke samping pengemudi. Pak Ansori disibukkan oleh dua urusan sekaligus, membimbing jamaah dan mengarahkan rute bus.  Saya menawarkan bantuan.
“Pak, gimana kalo sopirnya saya aja yang ngarahin, Bapak konsen saja sama jamaah.”
“Lho, pak Slamet hafal kota Mekkah?”
“Nggak sih, Pak. Kan ada GPS,” ujar saya sembari menunjukkan ponsel pintar yang udah saya pasang aplikasi Waze.
Telepon seluler itu segera saya pasang di dashboard. Dengan bahasa Tarzan saya suruh sang pengemudi mengikuti petunjuk yang tertera di sana. Kemampuan bahasa Inggris saya yang tak seberapa ini sama sekali tak berguna karena pengemudi asal Afrika ini tak bisa bahasa Inggris sama sekali. Dia hanya bisa bahasa Afrika dan bahasa Arab.
Akhirnya bus berhasil menemukan rutenya. Jalan bebas hambatan terbentang di depan kami. Speedometer menunjukkan angka 120 kilometer per jam, stabil, nyaris tak berubah, tak seperti jalanan di Indonesia. Sembari menikmati kegersangan suasana perjalanan, saya lantas teringat pada kejadian dua hari lalu.
Kami mendarat di bandara Jeddah pukul 16.30 waktu setempat. Setelah membereskan semua urusan administrasi, bus berangkat ke kota Mekkah lepas Magrib. Perjalanan ke kota Mekkah memakan waktu hampir dua jam. Kami sudah berpakaian Ihram sejak di pesawat terbang, karena begitu tiba di Mekkah kami akan segera menunaikan ibadah Umroh.
Pukul  20.00 waktu setempat, bus tiba di Mekkah. Maha Suci Allah... kota ini begitu berbinar cahaya. Kami langsung diarahkan ke lobby hotel Pullman, tempat rombongan kami menginap. Pak Ansori memberi pengumuman bahwa jamaah diharap berkumpul di lobby ini pukul 23.00 waktu setempat untuk bersiap menunaikan Umroh. Pemilihan waktu tengah malam ini didasari pada pertimbangan kondisi cuaca semata, meskipun di sisi lain disadari pula bahwa pada kisaram jam segini Masjidil Haram akan penuh sesak oleh jamaah lain.
Setelah menerima kunci kamar, kami bergegas menuju kamar masing-masing. Saya sekamar dengan bapak dan dua jamaah pria lain. Pria pertama bernama Cucu berusia 60an, berasal dari Garut, sedangkan pria ke dua seorang kakek-kakek bernama Anas, berusia 78 tahun, berasal dari Cirebon. Manajemen biro perjalanan memang menempuh kebijakan bahwa jamaah yang telah berumur akan dipasangkan dengan jamaah yang berusia relatif muda agar bisa saling membantu. Ibu saya sekamar bertiga dengan dua jamaah lain. Alhamdulillah kamar kami berdekatan sehingga memudahkan komunikasi. Orang tua saya memang tidak saya bekali dengan telepon seluler karena percuma saja, mereka tidak bisa menggunakannya.
Koper kami masih diurus oleh pihak biro perjalanan, sehingga kami tak membawa apa-apa ke dalam kamar. Bawaan saya hanyalah tas pinggang berisi kamera dan buku petunjuk ibadah Umroh. Setiba di kamar, saya segera berpesan kepada ibu agar sewaktu-waktu bersiap nanti untuk bersama-sama menunaikan ibadah Umroh.
“Le, aku pengin mandi, boleh kan?” tanya bapak kepada saya setiba di kamar. Bapak saya ini memang amat tidak tahan dengan hawa panas. Ketika menginap di Jakarta, beliau sering tidur di lantai jemuran saking tak tahannya dengan hawa lembab Jakarta.
“Boleh, Pak. Monggo saja, yang penting jangan pakai sabun.”
Bapak segera masuk kamar mandi, tapi tak lama kemudian beliau keluar lagi.
“Ini gimana cara mandinya, Le? Kok nggak ada gayungnya..”
Saya baru sadar, kamar mandi hotel ini berbeda dengan kamar mandi rumah kami. Yang tersedia di dalamnya adalah bath up dan pancuran, tanpa bak air dan gayung. Saya berpikir keras. Lantai bath up ini amat licin. Kondisi yang jelas-jelas berbahaya bagi bapak yang sudah tidak kukuh berdirinya. Akhirnya saya putuskan agar bapak mandi menggunakan kran toilet. Sebuah pilihan sulit, dan mengandung konsekuensi bahwa saya harus mengeringkan lantai kamar mandi agar air tak menggenang. Untunglah manajemen hotel sudah mengantisipasi beragam tipikal jamaah tamu mereka. Di kamar mandi tersebut telah tersedia alat penggiring air seperti yang banyak terdapat di Indonesia.
Seuasai mandi, saya kembali membantu bapak memakaikan pakaian Ihram. Tubuh kukuh itu kini mulai renta. Bapak yang dahulu kondisi fisiknya amat perkasa, pemain bulu tangkis handal, petani tulen, kini telah memasuki usia senja. Saya hampir menangis ketika memakaikan pakaian Ihram itu. Terbayang suatu saat nanti saya membungkusnya dengan kain kafan.
Waktu telah menunjukkan pukul 22.30. Saya segera mengajak mereka bertiga turun ke lobby. Tak lupa saya ketok kamar ibu untuk berangkat umroh bersama kami. Sebetulnya bisa saja saya titipkan beliau ke dua teman sekamarnya, tapi sudah menjadi tekad saya bahwa mereka harus senantiasa berada di samping saya selama di sini.
Setiba di lobby jamaah sudah ramai berkumpul. Kami dikelompokkan sesuai rombongan bus kami. Total ada 8 kelompok yang masing-masing beranggotakan 45 jamaah. Pak Ansori memegang bendera kecil berwarna biru sebagai patokan agar para jamaah tidak terpisah.
Akhirnya secara bertahap 8 kelompok itu berangkat ke Masjidil Haram. Jarak dari hotel kami ke pintu King Abdul Aziz hanya seperlemparan tombak, karena hotel tersebut terletak di Zamzam Tower. Begitu mendekati pintu Masjidil Haram, kami segera melepas alas kaki. Subhanallah, ujian mulai saya hadapi. Saya tidak pernah membayangkan bapak perlu waktu sekian lama untuk melepas alas kakinya. Sementara itu rombongan kami sudah mulai melangkah masuk ke dalam Masjidil Haram. Selain orang tua saya, Pak Cucu dan Pak Anas turut bersama dalam rombongan kecil saya, sehingga total saya harus membantu 4 jamaah manula.
“Gimana ini, Le? Kita ketinggalan rombongan tu..”
“Nggak apa-apa, Pak. Kita berlima tetap bersama-sama. Insya Allah saya bisa mengimami bacaannya.”
“Mas Slamet, ayo cepetan, kita ketinggalan rombongan,” ujar pak Anas. Saya menghela nafas dalam-dalam. Kalimat saya barusan ternyata tidak dia dengar karena memang pak Anas sudah berkurang jauh pendengarannya.
Dengan senyum tipis saya jelaskan ke beliau bahwa saya akan memimpin rombongan kecil ini. Lima pasang alas kaki ini saya masukkan dalam tas kecil saya. Saya tidak terpikir lagi untuk berfoto dan sebagainya. Pertarungan sudah di depan mata.
Gebang Abdul Aziz segera kami masuki. Saya mengambil posisi di tengah-tengah mereka. Ibu saya gandeng dengan tangan kanan, bapak dengan tangan kiri. Pak Anas dan Pak Cucu memegangi pundak saya dari belakang. Berbekal buku panduan Ibadah Umroh, saya mulai membaca lafadz-lafadz yang diajarkan. Lautan manusia ini bergerak berlawanan dengan arah jarum jam, mengitari situs peninggalan nabi Ibrahim. Langkah saya terseok-seok, terseret ke kiri dan ke kanan, kadang nyaris terjeremban kena serudukan jamaah lain. Saya berbagi tugas. Pak Anas saya suruh menghitung jumlah putaran tawaf, karena daya ingatnya meyakinkan.
Pada putaran ke 6 saya menawarkan anggota rombongan saya untuk berjuang menyentuh rukun Yamani. Kepada mereka saya beritahu bahwa sudut ini cukup disentuh, tidak perlu dicium seperti Hajar Aswad. Atas ijin Allah, kami berhasil menyentuh salah satu sudut Kabah itu. Pak Anas bersikeras ingin mencium Hajar Aswad, tapi dengan terpaksa saya tidak perbolehkan. Hal ini  semata-mata didasari pada kondisi di sana yang menurut saya amat berat bagi orang seumuran beliau. Syukurlah beliau mengerti dengan penjelasan saya.
Jauh-jauh hari adik saya sudah mengantisipasi jika kondisi bapak tidak memungkinkan tawaf dan sai dengan jalan kaki, agar dicarikan sewaan kursi roda. Alhamdulillah sejauh ini bapak kuat menjalani tawaf hingga putaran ke enam.
“Masih kuat, Pak”
“Masih, Le... tinggal satu putaran lagi, kan”
“Inggih, Pak.”
“Wis, to.. nggak usah pikiran kondisi Bapak, mati di sini pun Bapak siap.”
Dalam hati saya berguman, bapak mungkin ikhlas mati di sini, tapi mbok ya anaknya ini ditanya, ikhlas nggak ditinggal mati bapaknya di Mekkah.
Alhamdulillah akhirnya ritual Tawaf berhasil kami lalui dengan baik. Setelah menunaikan sholat sunnat di Maqam Ibrahim dan minum air zamzam, kami beristirahat. Saya mempersilahkan rombongan kecil saya untuk tiduran di lantai masjid, mengingat dari indonesia kami relatif belum istirahat. Tak berapa lama teman serombongan kami mulai berdatangan. Rupanya kami menyelesaikan Tawaf lebih cepat dari pada mereka, ajaib.
Setelah dirasa cukup beristirahat, saya mengajak mereka berempat untuk melaksanakan rukun Sai. Jam telah menunjukkan pukul 02.00 waktu setempat. Dengan formasi sama persis dengan formasi Tawaf tadi, saya mengajak mereka menuju bukit Safa.
Setibanya di sana, kami segera mulai Sai. Saya ajak mereka berempat melalui rute khusus jamaah berkursi roda agar jarak tempuh kami efisien. Sekali lagi pertimbangan saya adalah kondisi fisik bapak.
Pada putaran ke tiga ibu mulai lepas dari pegangan saya. Kondisi fisik beliau memang masih prima. Di kampung sana, ibu masih biasa jalan kaki berkilo-kilo meter jaraknya. Bapak sebenarnya mewanti-wanti saya agar tetap menggandeng ibu, karena meski fisiknya masih prima, ibu sudah amat pelupa. Namun akhirnya saya tak tahan juga. Pikiran saya toh rute Sai ini hanya memutar dan kalaupun ibu jalan duluan, kami nanti akan saling bertemu di tengah-tengah perjalanan.
Benar saja. Kami sedang menuju bukit Safa pada putaran ke enam ketika berjumpa ibu yang sudah dalam perjalanan menuju ke bukit Marwah untuk terakhir kalinya. Saya hentikan langkahnya di tengah jalan. Kepadanya saya berpesan agar menunggu kami di bukit Marwah, jangan kemana-mana.
Setiba finish di bukit Marwah, saya segera mencari tumpangan untuk bertahalul. Kami tidak membawa gunting sendiri karena masih berada di kopor. Selesai menuntaskan rukun Umroh, saya segera mendudukan bapak, pak Anas dan pak Cucu di sebuh sudut ruangan. Saya bergegas menuju puncak bukit Marwah untuk menemui ibu di sana.
Puncak bukit itu kini lebih menyerupai gundukan batu kecil. Dasarnya sudah tenggelam oleh lantai masjid. Ratusan orang berkumpul di sana. Ada yang tiduran, ada pula yang duduk sembari membaca Al Qur’an. Saya kitari puncak bukit itu berulang kali, tapi tak saya temui ibu di sana. Pencarian saya lebarkan ke sudut-sudut kawasan Marwah, namun hasilnya tetap nihil. Ibu seakan lenyap ditelan Marwah.
Saya kembali ke tempat rombongan kecil berada, berharap ibu sudah ada di situ. Wajah bapak cemas menyambut kedatangan saya. Ibu tak ada di sana.
“Ibumu belum ketemu, Le?”
“Belum tu, Pak. Coba saya cari lagi deh..”
Pencarian saya lanjutkan ke arah bukit Safa. Sepanjang perjalanan mata saya melotot ke setiap sudut. Hasilnya nihil. Saya kembali ke bukit Marwah dengan putus asa. Betis saya mulai terasa sakit. Wajah bapak kian cemas melihat kedatangan saya yang masih sendirian.
“Ibumu ki ngeyel sih, disuruh nggandeng anaknya kok maunya cepet-cepet,” bapak mulai menggerutu.
“Sabar nggih, Pak. Saya coba cari lagi ke toilet.”
Di usia mereka, ritual buang hajat kecil memang lebih sering terjadi dibandingkan dengan usia saya. Perkiraan saya satu, ibu berada di toilet wanita. Dengan langkah cepat, saya menuju area toilet wanita. Semula saya sempat dilarang oleh jamaah wanita dari TimurTengah ketika mau masuk ke toilet wanita. Namun setelah saya jelaskan maksud kedatangan saya, dia memperbolehkan saya masuk ke toilet wanita dengan pengawalannya.
Nama ibu saya panggil berulang-ulang dari luar toilet. Tak ada sahutan satupun. Saya kian lemas. Gusti, dimana Ibu saya? Gimana jika terjadi apa-apa dengannya?
Kumandang adzan Subuh terengar dengan merdu. Masya Allah, tak terasa, pencarian saya telah memakan waktu hampir dua jam lamanya. Astaga, saya baru menyadari satu hal. Kenapa dari tadi saya tidak menghubungi pak Ansori pembimbing kami, ya?
Dengan terburu-buru saya memanggil nomor ponselnya. Panggilan pertama tidak dia jawab. Barulah pada panggilan kedua telepon itu diangkat. Suaranya berat, pertanda baru terjaga dari tidur.
“Asalamulaikum, Pak. Saya Slamet. Ibu saya hilang, Pak”, ucap saya terbata-bata.
“Nama ibunya siapa, Mas?”
“Bu Lasiyem, Pak.”
“Oh.. bu Lasiyem to. Tuh sudah saya antar ke kamarnya, tadi saya temukan di Marwah, Mas. Saya pikir memang ketinggalan rombongan, makanya saya ajak pulang ke hotel.”
Saya tak menjawab apa-apa lagi. Kaki ini seolah tak mampu menopang tubuh saya. Dengan langkah tertatih, saya kabarkan berita ini ke bapak. Muka cemasnya sirna seketika, berganti dengan keceriaan tiada tara. Baru kali ini saya melihat ekspresi cinta bapak ke ibu sedemikian dalam.

Bandung, 15 Juli 2014
#####Bersambung#####
Post a Comment