Monday, December 15, 2014

Serumah dengan Bencana



Bapak sedang menguras genangan air di pekarang belakang rumah. Lokasi inilah yang dahulu tertimbun longsoran dari lereng bukit di belakang rumah. Foto diambil Desember 2013.
Tidur saya belum lelap benar malam itu. Lantai ubin ini terasa dingin. Maklum alas tidur saya hanya selembar tikar mendong. Selembar sarung yang saya pakai untuk sholat Isya tak saya lepaskan. Tubuh saya meringkuk dirundung gigil.

Di luar sana hujan masih ngrecih dari sore tadi. Nyala lampu uplik sekarat di ujung ruangan. Dian itu digoyang hembusan angin yang menerobos celah dinding rumah yang terbuat dari anyaman bambu.  Percikan air hujan sesekali juga membasahi tubuh saya.

Krrrosssssoooooookkkk…….!!! Braaaaak……..!!!!  Suara keras berderak, terdengar dari belakang rumah. Saya segera berlari ke sentong tempat orang tua dan ketiga adik saya tidur. Belum sempat pintu saya ketuk, bapak sudah membukanya. Meski mudah tidur, bapak mudah pula terbangun.

Ana apa, Le?
“Kayaknya longsor, Pak”

Kami segera menuju sumber suara dengan penerangan lampu uplik. Sampai di sentong tengah suasananya amat mengerikan. Ruang keramat tempat penyimpanan benda pusaka ini berantakan. Dindingnya ambrol dihantam longsoran dari tebing di belakang rumah kami. Lemari tua, grobogan tempat menyimpan beras, peralatan masak dan bertani saling tindih menjadi satu. Lemari kayu tempat menyimpan perabot dapur ikut terjungkal menimpa tumpukan buku saya.

“Bangunin Ibu sama adik-adikmu, To. Suruh mereka pindah ke omah ngarep.”

Rumah kami memang berjajar dua, depan dan belakang. Rumah belakang ini pemberian nenek ketika orang tua memutuskan untuk mandiri. Hanya berselang dua meter dari dinding belakang, menjulang tebing curam setinggi pohon kelapa. Struktur tanahnya berupa tanah padas yang mudah longsor. Kami tak berdaya menghadapi keadaan ini, karena tebing tersebut bukan tanah kami. Yang bisa kami lakukan hanyalah pasrah sembari menyingkirkan tanah longsoran.

Sedangkan rumah depan dibeli bapak dari Wo Sukimin. Rumah itu masih berupa pendopo luas tanpa dinding sama sekali. Bukannya mau bergaya ningrat dengan pendopo terbuka luas, ketiadaan dinding tersebut semata karena bapak belum punya uang menembok rumahnya.

Dengan menahan kantuk, ketiga adik saya segera ngungsi ke rumah depan. Mereka tidur sekenanya di kursi rotan yang terletak di tengah rumah.

Kelar membangunkan adik-adik, saya menyusul bapak yang sudah berada di belakang rumah. Kami tak harus jalan memutar lewat dapur karena dinding yang jebol ini bisa kami jadikan jalan pintas. Kondisi belakang rumah ini lebih mengerikan. Tumpukan longsoran seolah akan menelan rumah kami.

Pripun, Pak?”

Malam masih panjang.  Hujan belum juga berhenti. Saya takut membayangkan apa yang akan terjadi.

“Ambilin pacul di kandang, To. Bapak bikinin parit secukupnya dulu, biar air nggak ngalir ke dalam rumah.”

Saya segera menuju kandang kambing di samping dapur. Cangkul keprek merk “Ayam Jago” itu saya bawa ke bapak. Dalam siraman hujan, bapak segera mencangkuli tanah berair itu. Tubuhnya basah kuyup, tapi dia sama sekali tak menggigil.

Tak berapa lama, ibu muncul di belakang saya.

Mbok besok aja to, Pak. Hujan-hujan gini kok nekad macul.”
“Kalo nunggu besok, rumah tambah banjir, Bu. Ujung-ujungnya Bapak juga yang harus ngerjain.”

Tanpa berkata apapun ibu menghilang di kegelapan rumah. Saya duduk di atas lemari yang rubuh tadi. Pekerjaan yang semula akan selesai dalam waktu singkat, ternyata memakan waktu yang lama. Tanah padas itu telah berubah menjadi adonan lumpur. Cangkulan bapak sekejap kemudian tertutup lagi oleh longsoran bubur tanah itu.

“Orang hidup itu ya begini ini, To. Harus siap dengan segala resiko yang nggak kita tahu kapan datengnya.”
“Kenapa Bapak beli tanah ini? Kenapa nggak beli di tempat rata?”
“Bapakmu punyanya cuma tekad, Le. Lha mbahmu itu nggak mewariskan apa-apa. Duitnya habis buat nyekolahin anak-anaknya.”
“Berarti mending nggak usah nyekolahin anak dong, Pak. Nanti Bapak dapet warisan sawah dan tanah. Nggak seperti sekarang ini, Bapak jadi pegawai negri tapi ya tetap aja kalah sama kang Yatno yang sapine guede-guede warisan dari Wo Sariyem.”

Rumah kandang tadi memang megah, namun isinya sungguh kontras. Penghuni kandang itu hanya dua ekor kambing dan beberapa ekor ayam. Kandang sebesar itu harusnya muat tiga ekor sapi.

“Kamu mau hidupmu kleleran nanti? Kamu mau tiap sore Bapak suruh nyari pakan sapi? Jaman sudah berubah, Le. Sekolah memang ndak njamin kamu jadi orang kaya. Tapi sekolah akan membuka pikiranmu. Eling yo, Le… Pinter sama ngerti itu beda. Wong pinter itu kerjane minteri orang lain, kalo orang ngerti itu nularkan pengertiannya ke orang lain. Sekolah mendidik kamu jadi orang ngerti, bukan orang pinter.
“Wis…wis… malem-malem Bapakmu iki kok malah mejang, to Le. Tu tak bikinin teh sama ada singkong rebus sisa tadi sore. Terusin besok wae, Pak. Wis wengi. Nanti kalo Bapak sakit, aku juga yang repot ngeroki…”

Bak kerbau dicocok hidungnya, kami berdua manut dengan sabda ibu yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang saya.

Bandung, 15 Desember 2014.
Post a Comment