Sunday, February 1, 2015

Berpulangnya Guru Kehidupan Kami

Pekan lalu. Pagi itu berjalan seperti biasa. Pukul 07.00 WIB, pakde Saman sudah selesai dimandikan oleh adik saya, Titik Widianto. Dia dimandikan di teras samping rumah; persis di sebelah kamar tidurnya. Teras itu berupa sebuah lorong selebar dua meter. Dinding lorong itu adalah tembok rumah dan tebing samping rumah. Sudah sebulan ini, pakde dimandikan di teras itu karena kondisi fisiknya tak memungkinkannya berjalan ke kamar mandi. Seperti galibnya hari-hari yang lalu, beliau minta bersuci, wudhu. Meski bacaan dan gerakannya tak sempurna, pakde selalu ingat sholat.
Setelah diberi pakaian, pakde dituntun ke ruang tengah. Ruang itu berada di samping kamar tidurnya. Dia didudukkan di sofa rotan yang usianya seumuran dengan saya. Sepiring nasi berlauk tempe telah tersedia di situ. Dengan telaten Titik menyuapi pria yang sebulan belakangan ini tak mampu berjalan dan makan sendiri. Di usianya yang ke 67, pakde telah menjelma menjadi sesosok pria renta. Sebulan terakhir segala aktifitas kehidupannya dilakukan di tempat tidur, teras samping rumah dan ruang tengah.
Pagi itu di rumah bapak suasana senyap seperti hari-hari lainnya. Ibu masih tiduran di ranjang yang berada di rumah samping. Bapak sedang menyapu lantai di dekat tempat tidur ibu. Sunyi, seakan sesuatu akan terjadi.
Titik heran, mata pakde terpejam. Kunyahannya amat pelan. Suapan itu tak segera dia telan. Titik menyodorkan air putih untuk membantunya memudahkan kunyahan. Sembari mengunyah, mulut pakde melafadzkan nama Allah dengan suara pelan. Seiring dengan kondisi fisiknya yang kian menurun, pakde memang menjadi sosok yang sunyi. Tak ada suara apapun yang keluar dari mulutnya selain kata Allah, dalam lafadz yang cedal dan lemah. Bapak lah yang berhasil memberi dogma tentang ucapan itu.
Suapan kedua berhasil dia telan setelah dibantu dengan dorongan air putih. Tiba-tiba tubuh pakde ambruk ke sandaran sofa. Titik berlari ke bapak dengan panik.
"Paaaak.. Pakde, Pak... Pakde.......". Hanya itu sepenggal kalimat yang mampu dia ucapkan.
Bapak segera berjalan ke ruang tengah. Sebagai pensiunan paramedis dia tahu apa yang harus dilakukan. Dirabanya lengan pakde untuk mengecek detak nadi. Tubuh yang telah lunglai itu lalu direbahkan di lantai, persis di bawah sofa, membujur ke selatan. Tiba-tiba pakde menguap panjang. Sekali lagi bapak mencari detak nadi. Kali ini pangkal leher yang dirabanya. Detak itu telah tiada, menguap bersama jiwa yang kembali ke Khaliknya.
Nun jauh di hotel Fave Gatot Subroto, Jakarta, saya baru saja selesai mandi. Ponsel saya berdering kencang. Kang Giyo, kakak sepupu saya yang menelepon. Ah, tak biasanya dia menelepon sepagi ini.
"Halo, Ri..." suaranya gugup tercekat.
"Opo, Kang?"
"Iki ngene, lek Saman ninggal, baru saja. Tolong anak-anak dikabari"
Hanya segitulah percakapan kami. Saya segera melukar busana. Jam telah menunjukkan pukul 07.20 WIB. Jadwal Rakorsus P2Humas dimulai pukul 08.00 WIB. Sepanjang perjalanan kaki ke Kantor Pusat Ditjen Pajak, saya tak kuasa menahan air mata.
Sosok pakde Saman menggoreskan banyak hal dalam kehidupan saya. Ketika masih kecil, dialah satu-satunya harapan saya akan datangnya oleh-oleh lebaran. Dia adalah satu-satunya anggota keluarga kami yang merantau. Penantian akan datangnya oleh-oleh berupa biskuit dan panganan kecil lainnya adalah hal paling romantis dalam kehidupan masa kecil saya. Tak seperti perantau lainnya yang umumnya menjadi tukang kayu atau pedagang bakso di Jakarta, pakde hanya merantau ke Jatisrono, kota kecamatan yang bersebelahan dengan tempat tinggal saya. Dia juga tidak menjadi tukang batu atau pedagang bakso. Dia ngenger ke camat setempat. Latar belakang pendidikannya menumbuhkan tekad; dia harus menjadi seorang Pegawai Negeri. Ngenger ke pejabat adalah salah satu cara menggapi cita-cita megah itu.
Bulan dan tahun silih berganti. Surat Keputusan itu tak juga menghampiri. Puluhan tahun menjadi tenaga harian di kantor kecamatan harus dia akhiri ketika usianya mencapai batas akhir persyaratan PNS. Selain itu, pejabat yang dia tumpangi juga memasuki masa pensiun. Pakde lantas mengakhiri pengabdiannya, mengubah haluan menjadi buruh pabrik di Palur. Kami sekeluarga menerima kenyataan ini dengan hati pedih. Neneklah yang paling terpukul melihat kenyataan ini.
Kepedihan kami seolah terobati ketika akhirnya pakde menemukan pasangan hidup. Pasangan itu bahu membahu membangun keluarga dari nol. Bude membantu seorang kerabat berjualan di kantin pabrik tempat pakde bekerja.
Kodrat manusia telah tersurat dalam kalam-Nya. Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Siang itu pakde sedang memperbaiki lampu penerangan pabrik. Anak tangga yang menjadi pijakan kaki pakde patah. Tubuhnya terjungkal menghempas lantai. Jari tangan dan tulang punggungnya cedera. Kejadian itu memporak-porandakan bangunan perekonomian rumah tangga yang belum kukuh itu. Setelah sembuh dari perawatan, mereka berdua ditampung di rumah kami.
Nenek bernafas lega ketika akhirnya pasangan itu berhasil membangun rumah di tanah warisan bude. Bude berjualan dawet dan rengginang di pasar Baturetno. Pakde membantu istrinya berjualan di pasar.
Kenyataan itu tak membuat pakde sanggup mengubur cita-citanya. Baju KORPRI yang sering dia pakai ketika menjadi tenaga harian di kantor kecamatan masih dia simpan. Bude bercerita bahwa pakde masih suka mematut diri di depan cermin dengan baju itu. Obsesi yang lama kelamaan menggerogoti jiwanya, membuatnya terpuruk.
Suatu hari di tahun 2013, pakde diantar oleh bude ke rumah bapak. Kondisi fisiknya tak memungkinkan dia ditinggal berjualan. Jadilah dia jadi "pasien" bapak. Gerak tubuhnya sudah lamban ketika itu. Keseimbangan tubuhnya juga lemah. Berulang kali dia terjatuh dan meninggalkan jejak luka di sekujur tubuhnya. Kondisi ini membuat kami semua prihatin sekaligus bersatu, bahu membahu merawatnya. Bapak dan Titik lah yang berperan utama melakukan semua itu, memandikan, merawat luka; membersihkan kotoran dan menjaganya agar tak kabur dari rumah. Sementara kami, keponakan-keponakan yang berada di perantauan hanya bisa membantu dengan doa. Saya paham, beban di rumah tidak ringan. Ibu baru saja terserang stroke. Jadilah bapak dan Titik mempunyai dua "pasien" manula di tengah kondisi fisik bapak sendiri yang sudah tidak bugar lagi. Diabetes yang bersarang di tubuhnya sejak tahun 2002 membuat fisik bapak tak segagah dulu lagi.
Menghadapi situasi seperti ini bapak hanya bisa bersabar. Baginya ini bukan pengalaman pertama merawat orang sakit. Meski sesekali kesabarannya berkurang, bapak selalu minta maaf kepada kakak iparnya itu. Baginya, pakde Saman adalah guru kehidupannya, mengajarkan kesabaran dan keteguhan menggantang obsesi sepanjang hidupnya. Dalam setiap kesempatan berbagi hati dengannya, saya membesarkan hati bapak dengan kalimat seperti ini, "Pak, sabar nggih. Itu sudah rejeki Bapak. Ndak semua orang punya kesempatan berbuat seperti yang Bapak lakukan."

Malam ini kami menggelar tahlilan di rumah bapak. Sepekan sudah guru kehidupan itu berpulang.  Senthong kulon itu telah kehilangan penghuninya. Kembali kosong melompong seperti sedia kala, sama seperti ketika saya tinggalkan selepas lulus SMA. Kaligrafi bertuliskan Allah yang saya goreskan di dinding senthong itu masih berada di sana. Dzat yang namanya senantiasa dilafadzkan oleh pakde hingga ujung hayatnya.
Post a Comment