Saturday, March 14, 2015

Disambangi LSM dan Wartawan Analgetik



Senen, 9 Maret 2015

Saya sedang berbincang dengan staf, ketika sebuah nama muncul di panggilan ponsel saya. Semula saya mengira yang menelepon adalah salah satu Kepala Seksi Humas Ditjen Pajak, karena di belakang namanya tertera “Kasi Humas..”. Sayang, frasa setelah tulisan “Kasi Humas” tersebut tidak bisa tampil karena keterbatasan lebar layar ponsel saya.

“Halo, Kang Slamet. Akang ada di kantor?” Logat Sundanya amat kental. Ah.. saya salah duga. Saya segera ingat, rupanya dia adalah kolega saya di Kejaksaan Jawa Barat.
“Siap, ada Pak. Bisa dibantu?”
“Ini Kang. Ada temen dari LSM dan media pengin nanya-nanya masalah pajak. Akang langsung ngobrol sama dia aja, ya?”
“Boleh, Pak.”

Suara kemeresek terdengar di ujung sana, menandakan ponsel sedang berpindah tangan.

“Siang Pak Slamet. Saya Her** dari LSM XXX. Ada beberapa hal yang ingin saya konfirmasikan ke Bapak. Kapan saya bisa merapat ke kantor Bapak?”
“Siang Mas. Silahkan dateng hari ini. Kantor saya di Asia Afrika, seberang hotel Preanger.”
“Baik, Pak. Jam 2 kami ke sana. Saya bawa dua orang dari media, Pak.”
“Monggo, Mas. Saya tunggu.”

Tak berapa lama, adzan Dhuhur bergema dari speaker masjid kantor. Ah.. perasaan Subuh baru saja tertunai, kini Dhuhur telah memanggil.
Seusai sholat, saya segera menuju ke kantin di seberang KPP Madya Bandung. Dapur Hindun, demikianlah nama tempat makan itu. Letaknya berada di gang senggol yang berujung di sebuah rumah. Ketika kita duduk menghadap tembok, niscaya punggung kita akan tersenggol orang yang lalu lalang di gang itu. Saya tak menyarankan pemilik postur berlebih untuk makan di sini. Menunya sederhana, pun demikian harganya. 

Setelah menandaskan sepiring nasi berlauk sop ayam, saya segera kembali ke kantor. Kepada Satpam yang bertugas di lobi gedung K saya berpesan agar mempersilahkan tamu saya yang akan segera datang. Beberapa surat belum saya disposisi. Voice recorder saya siapkan di atas meja. Tumpukan surat saya baca dan corat-coret di lembar disposisinya. 

Berkas di meja saya masih bertumpuk ketika sekonyong-konyong tiga pria sudah masuk ke ruangan saya. Semula saya berencana menerima mereka di ruang tamu Bidang P2Humas, karena ruangan kerja saya hanya muat dua kursi tamu. Namun apa daya, mereka sudah berdiri di depan saya. Saya melambaikan tangan ke arah kang Deni untuk menjejalkan kursi ke tiga di depan meja saya.

“Silahkan duduk, Mas. Maaf, saya rapikan sebentar meja saya.”
Seorang pria berpostur ceking mengenalkan diri sebagai Humas sebuah LSM Anti Korupsi. Di tangannya tergamit sebuah berkas terjilid bersampul merah marun. Dua pria lainnya, keduanya berpostur tinggi besar, mengenalkan diri dari sebuah media. Saya tak berhasil mengenali nama media yang mereka sebut.

“Langsung saja, Pak. Kami membawa hasil Rakorda Kanwil Bapak tahun 2011. Semua ada di berkas ini. Isinya data tunggakan pajak. Saya akan minta data dan tindak lanjut apa yang telah Bapak lakukan terhadap piutang negara ini. Tahun lalu kami sudah membawa ini ke Banggar DPR, saya ketemu dengan Pak MM, namun yah...Bapak tahu sendiri, pak MM tersandera kasus. Jadinya ngambang. Ini kan uang negara yang harus kita selamatkan, Pak.”
“Sebentar Mas. Kita sepakat pembicaraan ini direkam ya.”
Saya segera mengaktifkan alat perekam dan saya letakkan di atas meja. Dua pria dari media itu melakukan hal yang sama, mengaktifkan program perekam suara di ponsel besar mereka.
“Data apa yang Mas perlukan dari kami?”
“Ini lho, Pak. Di berkas ini ada sebuah perusahaan yang bernama PT. IIL. Dia punya tunggakan pajak milyaran rupiah. Saya ingin tahu sudah sejauh mana penagihannya.”

Kang Ijang, OB di ruangan saya melintas di tengah ruangan bidang. Saya lambaikan tangan ke arahnya.

“Mas-mas mau minum apa? Kopi atau teh?”

Pria dari LSM dan salah satu awak media itu memesan kopi, sedangkan pria satunya memesan air putih.

“Begini, Mas. Kami memang mempunyai kewajiban melakukan diseminasi informasi ke publik terkait perpajakan. Namun kami juga punya batasan, karena ada ketentuan yang mengatur rahasia jabatan. Saya kawatir informasi yang Mas butuhkan itu masuk dalam kategori yang harus saya rahasiakan.”
Pria dari media itu angkat bicara, “Kalo begitu apa boleh kami mendatangi perusahaan tersebut, Pak?”
“Oh, silahkan Pak. Itu bukan wilayah kewenangan kami.” 

Kang Ijang datang menyajikan pesanan saya, dua cangkir kopi dan air putih dalam kemasan.

“Ayuk silahkan diminum, Mas. Kalo sudah ngopi gini enaknya kan ngomongin batu, hahaha..” ucap saya sembari ngelus-elus batu Ijo Garut yang tersemat di jari manis kiri. Batu berwarna hijau ini pemberian sohib saya, Kang Dadang yang kini bertugas di KPP Pratama Bandung Cibeunying. Sosok pria ramah itu memang teman yang baik. Ketika saya terserang meriang tahun lalu, dengan telaten dia mengantar saya ke rumah sakit.
“Jadi informasi apa yang bisa saya peroleh dari Bapak?” Tawaran saya untuk beralih topik ke perbatuan rupanya tak mempan.
“Begini Mas. Mas tahu Undang-undang Keterbukaan Informasi Publik? Silahkan pelajari di situ, informasi apa saja yang bisa diperoleh dari kami.”
“Apakah atas tunggakan perusahaan tersebut sudah ada action dari kantor Bapak? Saya lihat perusahaannya masih jalan lho, Pak. Jangan sampai negara dirugikan.”
“Mas, menilai kesehatan perusahaan itu nggak cukup dari penampakan luarnya, lho. Harus dianalisis laporan keuangannya. Bisa saja perusahaan yang tampak meriah dari luar tapi sebetulnya sedang tidak  sehat. Dan untuk menilai hal itu nggak semua orang bisa melakukannya. Harus punya keahlian khusus.”
“Jadi apa yang bisa Bapak infokan ke kami?”
“Begini saja, Mas. Sampaikan surat secara tertulis ke kami tentang hal-hal yang pengin Mas ketahui. Nanti kami jawab sesuai kewenangan yang kami miliki.”

Kopi di cangkir itu tinggal seperempatnya. Alat perekam menunjukkan durasi 56 menit. Desi, staf di P2Humas memberitahu bahwa ada tiga orang siswa SMA ingin mewawancarai saya. Saat yang sama, dua orang dari Radio PR FM sudah menunggu di ruang rapat. Acara kampanye e-Filing hari minggu nanti memerlukan koordinasi dengan mereka selaku partner kantor kami.

“Apa pak Slamet keberatan jika masalah ini saya blow up di media kami?” ujar pria dari media yang memesan air putih itu. Wajahnya lurus namun tatapan matanya tajam.
“Oh... sama sekali tidak, Pak. Silahkan dimuat di media Bapak. Lha wong saya ini penginnya tiap hari di koran itu ada berita tentang pajak, je. Media massa itu kan partner kami dalam menyebarluaskan informasi perpajakan, Pak. Tu, di rak arsip saya ada koran Bisnis Indonesia yang memuat hasil wawancara dengan saya tempo hari.”
“Ya beginilah kerja kami ini, pak Slamet. Tak digaji. Tapi kalau ada rejeki dari Bapak nggak kami tolak kok.”
Saya menimpali ucapan mereka sambil tergelak, “Hahahaha.. sama Mas... saya juga nggak nolak rejeki dari Sampeyan. Batunya bagus tu... boleh deh barter sama batu saya.”

Tak ada reaksi apapun dari pria pemakai batu itu. Mereka lantas pamitan. Ketiganya saya antar sampai pintu ruangan bidang P2Humas. Di sofa ruang tamu, tampak tiga siswa berseragam SMU menunggu saya.

“Saya anter sampai sini ya, Mas. Saya tunggu suratnya.”

Tiga pria itu menghilang di ujung selasar. Saya segera menyambagi tiga pelajar yang seumuran dengan sulung saya itu.

“Ada apa, Dik?”
“Ini, Pak. Kami mau wawacara Bapak tentang arti penting membayar pajak dan apa pajak yang dibayar masyarakat nanti nggak dikorupsi Gayus.”
“Hahaha... okay... aku jelasin tentang Gayus dulu yaaa....”

Detik berikutnya mulut saya menerocos ke tiga pelajar itu. Perlu waktu sekitar lima belas menit untuk menjelaskan perpapakan umum dan kasus Gayus. Ketika mereka pamit, saya iringi langkahnya ke lobi. Hormon endhorphin di otak saya nagih nikotin. Di lobi gedung, tiga siswa itu bergabung dengan 2 siswi lainnya. Kedua siswi itu berparas elok dan mlunthuh.

“Kok kalian tadi nggak ikut masuk?”
“Iya, Pak. Takut keramean, ngganggu Bapak.”
Saya memasang wajah bersungut-sungut.
“Heh, kasih tau temenmu ya, lain kali mereka berdua harus wawancara aku lagi, kalo nggak aku laporin ke guru kalian.”
“Nah lo, Nit... dibilangin bandel sih, pak Slamet orangnya baik kok.”
Saya tersenyum kecut sembari ngeloyor ke ruangan. Sesungguhnya saya tiba-tiba malas harus rapat dengan dua pria dari radio itu.

Bandung, 14 Maret 2015.
Post a Comment