Saturday, March 14, 2015

Robohnya Dhanyangan Kami



Hari telah beranjak sore ketika saya tiba di bawah pokok beringin tua itu. Nafas saya tersengal-sengal. Jarak dari rumah ke Puleroto, demikian nama daerah itu di dusun kami, sebetulnya tak lebih dari lima ratus meter. Namun jalur yang harus saya lalui seluruhnya berupa tanjakan, bahkan ada yang kemiringannya 45 derajat. Di bawah pokok itu, Kang Saidi dan Mukalim telah menunggu saya. Sore ini kami janjian di tempat ini untuk satu hal, bermain Tarzan-tarzanan. Akar pohon beringin itu menjuntai ke bawah, sebelum akhirnya menghunjam ke bumi. Kami menjadikan akar itu sebagai tempat bergayut, berayun dari satu sisi ke sisi lain, seolah menjelma menjadi Tarzan. Sungguh tak ada keriangan yang bisa mengalahkan permainan sederhana ini.

Belum lama kami bermain di situ, tiba-tiba kami dikagetkan oleh kedatangan sesosok wanita berambut perak. Langkahnya agak terseok seiring usianya yang menua.

“Heh... heh......!!! Jangan main-main di situ, nanti kamu di-kerek setan. Manukmu nanti bujel, nggak bisa disunat.”

Kami terdiam. Wanita tua itu adalah mbah Sur, penghuni rumah tua di sebelah pohon beringin ini. Kami mengenalnya sebagai sosok perempuan yang punya kesaktian tinggi. Saya pernah masuk ke rumahnya yang gelap gulita itu. Di dalam rumah itu tersimpan banyak benda pusaka, mulai dari keris, tombak, parang dan sebagainya. Pusaka itu konon merupakan warisan dari orang tuanya yang memang terkenal digdaya. Selain dari warisan, beberapa pusaka tersebut konon diperoleh secara gaib. Ritual bertapa di tempat wingit dia jalani, sampai kemudian pusaka itu muncul dengan sendirinya.

Pohon beringin itu sendiri sebetulnya bukan sembarang pohon. Tak ada yang tahu berapa tahun usianya. Menilik dari juntaian akarnya, usianya pasti sudah ratusan tahun. Di pangkal batangnya yang berdiameter lebih dari satu meter, terdapat sisa-sisa sesaji. Pohon tua ini memang dikeramatkan oleh penduduk kampung kami. Setiap malam Jum’at Kliwon selalu ada orang datang ke tempat ini. Mereka datang sembari membawa sesaji berupa ayam bakar dan kembang setaman. Di bawah pohon itu mereka lantas duduk bersila sembari membakar kemenyan. Doa-doa dalam bahasa campuran Jawa dan Arab mereka panjatkan kepada penunggu pohon tersebut. Selain malam Jum’at Kliwon, pada malam hajatan pernikahan atau sunatan, pemangku hajat akan datang ke tempat ini juga. Sesajinya sama, ayam bakar beserta urap yang dibungkus dalam anyaman daun kelapa muda berbentuk bakul nasi. Anyaman daun kelapa itu dinamai Panjang Ilang.

Sesaji berupa makanan itu seusai dibacakan doa lalu ditinggalkan begitu saja oleh pembawanya. Maka tak lama kemudian puluhan pasang mata yang sedari awal ritual sudah menunggu dari balik kegelapan akan menyerbu makanan mewah itu. Tahun 80-an kesempatan makan daging itu tak setiap saat datang. Paling banter sebulan sekali, itupun kalau ada yang punya hajat atau saat lebaran tiba. 

Saya selalu dilarang oleh Bapak ketika mau ikut-ikutan jadi pemangsa sesaji. Meski pengin protes, saya tak berdaya ketika Bapak mengemukakan alasannya.

“Sudahlah, Le. Makan di masakan Ibumu wae. Biarlah sajen itu dimakan orang lain. Kasihan mereka kan jarang makan enak.”

Kalau dipikir-pikir perkataan Bapak memang benar. Meski tidak setiap saat Ibu menyajikan menu enak, tapi hampir pasti ada lauk telur di rumah kami. Entah kenapa, sejak kecil saya gemar sekali makan telur. Sebagai anak pertama yang sempat menjadi anak tunggal selama empat tahun, tentu Bapak Ibu amat memanjakan saya. Apalagi kelahiran saya sudah sangat dinanti-nanti oleh mereka, mengingat dua kakak saya umurnya hanya sehari.

Mendengar gertakan mbah Sur, kami bertiga pucat pasi. Tak terbayang tiba-tiba kami kesurupan dan burung kami jadi kerdil gara-gara main di pohon keramat. Kami segera meninggalkan dhanyangan itu, melanjutkan permainan di tempat lain. Kami  tak menghiraukan panggilan sholat yang dikumandangkan Lek Sholihin dari surau kecil yang letaknya persis di depan rumah Mbah Sur.

Yap, persis di sebelah pohon beringin itu memang terdapat surau kecil nan usang. Surau itu sejatinya adalah bekas rumah mbah Kasan Dimejo. Sebelum meninggal dunia mbah Kasan berpesan agar kelak rumahnya ini dijadikan surau. Saat itu di kampung kami hanya ada satu masjid. Masjid itu terletak di bagian atas kampung kami, terpencil dan jauh dari jangkauan warga yang berdiam di bagian bawah. Kehidupan beragama di kampung kami memang masih miskin. Sebagian besar warga kampung belum melaksanakan ritual ibadah apapun, baik sholat maupun puasa Ramadhan. Mereka lebih percaya kepada arwah-arwah penunggu pohon besar dan tempuran sungai. Demikian juga yang terjadi di rumah saya. Kami semua tak mengenal sholat dan puasa. Meski tak punya benda pusaka, Bapak selalu menyediakan sesaji di senthong tengah setiap mengadakan kenduri menyambut datangnya bulan Puasa dan menjelang  Lebaran. Sesaji itu berupa seperangkat makanan lengkap dengan lauk pauknya serta kopi pahit. Selidik punya selidik, hidangan semeja itu rupanya kegemaran almarhum mbah saya.




Bagian luar Mushola setelah direhab. Pohon beringin itu tadinya berada di belakang Mushola ini

Pelan-pelan, seiring dengan transformasi wajah Islam yang mulai ramah dan tingkat pendidikan generasi muda yang makin maju, ritual-ritual tersebut menghilang dengan sendirinya. Orang tua saya sendiri mulai belajar sholat ketika saya duduk di bangku SMA. Sejak saat itu, beliau tak lagi menyediakan sesaji di senthong tengah. Lafadz doanya pun sudah tidak menggunakan bahasa campuran Jawa dan Arab lagi, tetapi murni Jawa namun sudah berbeda makna. Jika dahulu doa penyuwunan-nya dimintakan ke arwah nenek moyang, sejak saat itu berbelok ke Sang Maha Tunggal.

Hukum alam lantas berlaku buat pohon beringin keramat itu. Pohon yang dahulu berdiri gagah, rindang dan seolah tak mengenal uzur, lambat laut meranggas daunnya. Penampilannya kian rapuh. Dahulu tak ada seorang pun yang berani menebang dahannya. Para pemuda desa yang nyantri di pondok pesantren mengambil inisiatif. Mereka mulai memangkas dahan pohon tersebut sedikit demi sedikit. Tak ada kejadian apapun setelah aksi berani itu. Mereka kian yakin bahwa keangkeran pohon besar ini hanyalah mitos belaka. Pada tahun 2010 pokok raksasa itu akhirnya tumbang menghempas bumi. Punah sudah pohon perkasa yang sempat menjadi simbol ketuhanan kami.

Surau yang semula hanya berupa bangunan sederhana itu mulai menggantikan posisi pohon beringin di belakangnya. Dia menjadi dhanyangan baru bagi warga sekitar. Terhitung sudah dua kali bangunan itu mengalami perbaikan. 
Bagian luar Mushola setelah direhab

Tahun lalu kabar gembira sekonyong-konyong mampir ke telinga lek Sholihin. Seorang dermawan menjanjikan uang puluhan juta untuk merehab bangunan itu. Kabar tersebut lantas dia siarkan ke segenap warga. Mereka menyambut dengan antusias. Tanpa pikir panjang mereka segera berhutang material, tak sabar menunggu uang datang. Material tersebut segera digunakan untuk memperbaiki bangunan yang memang sudah tampak reyot itu. Mereka bergotong royong siang dan malam demi mewujudkan mimpi mempunyai dhanyangan yang megah. 

Toko material sudah menagih piutangnya ketika sebuah kabar tak sedap datang di suatu pagi. Jumlah dana yang diterima ternyata lebih kecil dari yang dikabarkan sebelumnya. Warga kelabakan. Setelah dihitung-hitung mereka masih punya utang hampir sepuluh juta ke toko material itu. Akhirnya mereka memilih menghentikan proses rehab yang baru rampung 75% itu. 

Bagian dalam Mushola setelah direhab
Di tengah kegalauan suasana hati, cobaan seolah tak mau mengerti. Seperangkat sistem audio mushola itu raib digondol orang tak dikenal. Lek Sholihin dan warga sekitar hanya bisa mengelus dada. Kabar itu sampai ke tangan saya lewat status FB keponakan saya, Ikke. Saya tak kalah prihatin dengan kabar itu. Sayangnya isi kantong saat itu sedang tak memungkinkan untuk berinfak dalam jumlah besar.

Sampai sekarang rehab dhanyangan baru itu belum bisa dibilang selesai. Proses finishing masih jauh dari sempurna.Rasanya masih banyak dana yang diperlukan untuk membuatnya jadi semegah dhanyangan sebelumnya. 

Monggo Saudara seiman, melalui selarik kisah ini, saya mengetuk keikhlasan hati untuk berbagi sejumput rejeki kepada dhanyangan kami. Dhanyangan yang Insya Allah akan Saudara-saudara jadikan tempat bermain di Surga nanti...aamiin...

Bandung, 14 Maret 2015.

Catatan :
1. Dhanyangan : tempat/benda biasanya berupa pohon besar yang dikeramatkan oleh penduduk sekitar dan menjadi tempat memanjatkan doa.
2. Wingit : angker
3. Di-kerek : dirasuki
4. Manuk : alat kelamin pria
5. Bujel : pendek, kecil, kerdil
6. Panjang Ilang : Anyaman janur kuning berbentuk bakul nasi, dijadikan tempat sesaji
7. Sajen : sesaji 
8. Senthong : kamar, bilik di rumah tinggal 
9. Tempuran : pertemuan antara dua atau lebih sungai menjadi satu
10. Panyuwunan : permintaan

Post a Comment