Sunday, March 22, 2015

Takluknya sang Dosen Mlunthuh



Ini adalah hari pertama saya kuliah S2 di Bandung. Ruangan di lantai III itu penuh sesak oleh mahasiswa dan asap rokok. Dengan langkah sedikit ragu, saya masuk ke kelas tersebut, sesuai petunjuk bagian Administrasi Kemahasiswaan. Di dalam kelas, suasananya tak kalah kacau, mirip ruang tahanan penjahat kelas kambing. Ruangan kelas yang harusnya diisi oleh 25 mahasiswa, kali ini dijejali dengan 60 mahasiswa sekaligus. Sekolah tinggi ini memang tengah kebanjiran mahasiswa program Paska Sarjana. Bagian Administrasi Kemahasiwaan tadi memberitahu saya bahwa angkatan ini berjumlah 250 orang. Fastastis.

Setelah celingak-celinguk, akhirnya saya berhasil menemukan satu kursi yang masih kosong di bagian belakang. Di depan kelas, dosen wanita berparas ayu nan mlunthuh itu harus melantangkan suaranya. Dia tak peduli dengan kehadiran saya yang sudah terlambat 45 menit. Saya memerlukan beberapa menit untuk mengerti apa yang sedang dia bicarakan. Aha.. rupanya dia sedang memaparkan topik wawancara dalam proses perekrutan SDM.

Rekan sekantor saya yang sama-sama menempuh studi di sini berbisik kepada saya, “Ati-ati, dia nggak suka sama orang pajak.” Saya tersenyum saja. Lagian sejak kapan orang pajak disukai?

Kabar gembira datang beberapa saat setelah kami menempuh Ujian Tengah Semester. Pihak pengelola sekolah tinggi ini memecah kelas sehingga jumlah penghuninya berkurang separo. Meski masih terasa sesak, bu dosen ayu itu kini tak perlu lagi melantangkan suaranya. Dia juga makin sering berjalan-jalan di lorong-lorong kursi, menyapa kami. Untuk wanita berusia 50an, dia memang masih mempesona.

“Baiklah, sekian dulu untuk hari ini. Minggu depan giliran kelompok pak Slamet yang presentasi. Pak Slamet sudah janji mau membagikan hand outnya kepada kita. Siap, pak Slamet?”

“Siap, Bu,” jawab saya singkat. Saya sengaja menubrukkan pandangan mata ke arahnya. Bisikan teman saya tempo hari membuat saya tertantang. Wanita bergelar doktor ini harus saya taklukkan.

Halaman Pendahuluan dan Landasan teori itu sudah selesai terketik. Tiba-tiba saya merasa tak pas mengambil topik komunikasi internal DJP. Bagi saya hal itu tidak pas saya bicarakan di luar organisasi, meski hanya sebatas ruang kuliah. Delapan lembar tulisan itu segera saya hapus. Saya mengubah haluan. Topik teknik komunikasi DJP melalui iklan menjadi tujuan selanjutnya. Perlu waktu dua hari untuk menyusun makalah dan membuat presentasi tersebut. Beres, saya tinggal gandakan secukupnya.

Hari yang dinanti telah tiba. Seusai memberikan paparan sebentar tentang komunikasi, dosen ayu itu mempersilakan saya maju ke depan kelas. Seperti yang telah terjanjikan, saya membagi hand out presentasi ke seluruh warga kelas. Ini kali pertama warga kelas menerima hand out dari kelompok yang bertugas. Bagi saya pembagian hand out itu penting, agar mereka lebih paham dengan paparan saya. Saya juga membekali diri dengan laser pointer untuk menunjang penampilan.

Hampir sejam kelas itu saya jejali dengan presentasi seputar teknik komunikasi DJP dengan pemangku kepentingannya lewat jalur iklan. Selain itu, saya juga sisipkan hal-hal seputar pentingnya pajak bagi kelangsungan pembangunan Indonesia; tentang pelayanan dan penegakan hukum. Sepuluh halaman hand out itu lantas memancing beberapa pertanyaan beragam. Ada yang setuju dengan konsep yang saya paparkan, ada pula yang menyanggah bahkan membantah, termasuk dari rekan sejawat saya. Tak jadi soal, tujuan presentasi ini memang bukan untuk mendogma mereka dengan satu hal. Saya punya target tersembunyi.

“Demikian pertemuan hari ini. Terima kasih kepada pak Slamet dan kawan-kawan DJP yang telah memaparkan banyak hal. Dari kalian saya menjadi tahu bahwa ternyata peran pajak itu amat penting buat kita. Mulai saat ini saya akan bantu kalian nyebarin info tentang pentingnya bayar pajak.”

Demikianlah... Johan Budi, mantan Jubir KPK, mengajarkan kepada saya, bahwa ketika bicara di depan publik tak usah terlalu peduli dengan pertanyaan mereka. Sampaikan apa yang ingin kita sampaikan meski itu kadang tak nyambung dengan pertanyaannya. Mata kuliah MSDM bagi saya adalah sebuah pertanyaan yang tak harus saya jawab dengan topik komunikasi antar manusia. Saya lebih suka membahas peran DJP di negeri yang katanya loh jinawi ini.

Bandung, 22 Maret 2015
Post a Comment