Monday, March 23, 2015

Lir Gumanti – Rejeki Lungsuran



Entah apa maksud Tuhan yang telah memberi saya sifat suka menerima barang lungsuran (bekas pakai). Serius, saya tidak sedang membual. Barang yang saya maksud meliputi apa saja, mulai dari pakaian, gadget, peralatan olah raga, atau apapun. Selain itu saya juga gemar membeli barang bekas. Jenis barangnya pun lagi-lagi tak terbatas. Sebut saja jas yang saya pakai waktu menikah. Jas itu dibelikan oleh (calon) kakak ipar di pasar pakaian import bekas di Jambi sana seharga 50 ribu. Lalu beberapa telepon seluler, sepeda buat anak saya, bahkan sepatu pantofel buat ngantor. Saya memang berlangganan sepatu bekas di pasar Taman Puring. Dengan harga 150 ribu saya sudah bisa menenteng sepatu kulit yang masih kinyis-kinyis.

Apa yang melatarbelakangi sikap ini? Tak ada sih. Semata-mata karena kepepet keadaan saja; tak punya cukup uang untuk membeli barang baru berkualitas bagus. Atau mungkin saya memang tak punya ego serta gengsi tampil ala priyayi; yang harus serba wah dan mengundang komentar “Waaaah..” dari para penggemar saya. Sama sekali tidak, saya memang tak punya rasa gengsi dengan penampilan. Orang tua selalu berpesan, hidup jangan mencari sensasi penampilan dan memburu “waah”.

Itu juga yang mendasari sikap saya ketika di penghujung 2005 saya diberi kesempatan menduduki jabatan Koordinasi Pelaksana di Dit. Penyuluhan Kantor Pusat. Saat itu saya duduk sebagai verifikator di Seksi PPh Pot. Put KPP Tanjung Priok. Banyak teman yang menyayangkan langkah saya ini, karena meski naik jabatan posisi tersebut “tak menjanjikan apa-apa”. Apa lacur? Setahun kemudian saya malah di-grounded menjadi pelaksana karena modernisasi Ditjen Pajak. Menyesal? Tidak. Mengumpat? Nggaklah, wong itu pilihan saya sendiri karena saya malas jadi AR.

Saya tadi mau nulis apa ya? Oh..iya, baru inget, rejeki lungsuran. Tempo hari adik saya berkunjung ke Bandung. Pulangnya saya bawain setas pakaian bekas saya. Pakaian bekas itu terdiri dari kaos, celana panjang, dan kemeja batik. Di keluarga kami memang punya kebiasaan saling melungsurkan pakaian yang masih layak pakai. Ketika kuliah di STAN, saya amat senang di-lungsuri kaos Hammer dari Mas Joko, kakak sepupu yang sudah mapan sebagai supervisor di pabrik rotan. Saya menyesal tak semua pakaian tersebut muat oleh saudara-saudara di Wonogiri karena postur saya yang sungguh ideal ini.

Beruntunglah saya mendapatkan pasangan hidup yang juga nggak hobi ngemol dan bersolek dengan barang mahal. Baginya belanja sayur di pasar Kramat Jati, Pasar Andir, dan Pasar Ciroyom itu sebuah kenikmatan tersendiri. Baginya membeli pakaian di butik itu sebuah pilihan terakhir, ketika toko langganannya di Pusat Grosir Cililitan dan Pasar Baru Bandung sudah tak menyediakan pakaian lagi. Baginya mengenakan pakaian kondangan seharga 60 ribu itu bukan masalah, yang penting warnanya gathuk dan pas di badan. Saya sih seneng-seneng saja, meski imbasnya saya juga harus nrimo dibelikan baju batik produk Thamrin City seharga 100 ribu per 3 buah, atau celana kerja dari Fabric Bajoe seharga 59 ribu.

Pun demikian dengan anak-anak. Kami menanamkan sikap samadya kepada mereka, meski memang tak selalu berhasil. Setidaknya anak sulung saya pede-pede saja menaiki sepeda bekas seharga 300 ribu, atau gitar listrik bekas seharga sejuta setengah. Ketika saya berganti ponsel, maka ponsel lama saya hibahkan ke nyonya, lalu ponsel nyonya dihibahkan ke si sulung, dan terakhir ponsel si sulung dilemparkan ke adiknya. Lir gumanti, silih berganti, saling memberi, demikianlah ajaran orang tua kami. 

Maka ketika teman karib yang berpenghasilan 120 juta per bulan heran dengan kecukupan hidup kami, saya hanya tersenyum lebar sembari berucap, "Kan aku nggak kayak kamu, harus tinggal di komplek mewah, harus rutin makan kepiting lada hitam, harus pakai pakaian bermerk, harus disopiri, dan harus-harus yang lain, fellow." Di ujung pertemuan malam itu, dia berkomitmen membantu cicilan mobil bekas saya. Penak, to?

Saya masih ingat, suatu pagi, seorang teman biasa (saya tak terlalu akrab dengannya) mengirim pesan pendek.

“Met, mau tab bekas?”
“Wah… mau banget, Mas. Tapi saya belum punya anggaran untuk beli, tu?”
“Nggak usah dibeli, aku ganti dengan i-Pad. Merk Cina gpp, kan?”
“Walah, gpp Mas. Merk Tri Windu aja saya mau.. hahahaha”

Tri Windu adalah nama pasar barang loak di Solo sana. Itulah kisah tab pertama dan satu-satunya yang berhasil saya punyai, lungsuran. Saya yakin, tangan Tuhan sedang bekerja lewat Pemangku Jabatan Eselon III di Kemenkeu itu. 
Saya juga masih ingat, tanah Lee Kwan Yu berhasil saya jejak untuk tujuan membezuk saudara yang sedang sakit, juga berkat kebaikan kawan. Tiket dan uang saku sudah dicukupi, bahkan ketika pulang saya masih bisa kemaki nunjuk-nunjuki sisa dollar Singapura.

Dengan segala kabejan (keberuntungan) tersebut apakah saya lantas Cuma bisa ngathong (menengadahkan telapak tangan) mengharap belas kasih orang? Tentang ini, bapak saya berpesan. Orang hidup itu punya sewu dalaning rejeki, seribu pintu rejeki. Bobollah dengan kekuatan niat ingsun-mu. Lelah? Gampang, tengoklah sejenak lek Kadiyo yang begitu keras mengejar sesuap nasi, Pakde Yadi yang menghabiskan hari di ladang, Kang Satimin yang seolah tak kehabisan cucuran keringat. Maka ketika beberapa minggu yang lalu seorang teman sejawat di sini meminta tolong untuk memotret acara reuni angkatan dia, saya iyakan dengan sepenuh hati. Kawan saya itu sampai nggak enak hati karena ternyata saya banyak dikenal di angkatan mereka, melebihi dirinya sendiri. Saya sih santai saja. Bagi saya, menenteng kamera itu mendatangkan pride tersendiri, apalagi pulangnya disodorin 10 lembar ratusan ribu. Pekerjaan kasar apa yang dalam 10 jam mendatangkan uang segitu? Saya rasa tidak banyak.

Maka ketika belakangan nyonya bertanya tentang kenaikan penghasilan bulanan, saya stop dengan satu kalimat, “Sebelum masuk rekening tak usah dibahas. Setelah masuk rekening jangan lantas lupa daratan. Ada hak  orang lain dalam setiap jengkal rejeki kita, itu yang lebih utama.” Nyonya paham, untuk urusan satu ini suaminya memang rada-rada ndeso.

Maka ketika malam Minggu kemarin saya bercengkerama dengan Bapak di Cilebut sana, tiba-tiba saya teringat kenangan masa kecil. Di desa kami, setiap ada kendurian, imam tahlilannya pasti mbah Modin. Dia bukan siapa-siapa saya, hanya kebetulan rumah kami berdekatan. Cucunya seusia dengan saya. Di balik sifatnya yang galak, dia amat perhatian dengan anak-anak kecil. Jangan harap lolos dari sergapannya ketika rambut kami gondrong. Mbah Modin pasti akan segera menggelandang kami untuk dicukur. Pun juga dia amat rajin memeriksa gigi susu kami. Siapapun yang giginya sudah mau tanggal pasti dia copot dengan jurus sekelebatan tangan. 

“Pak, lebaran nanti ingatkan saya untuk memberi mbah Modin sedikit rejeki.”
“Lah ada apa, Le?”
“Gini, Pak. Jaman dulu, waktu saya masih suka ikut Bapak kendurian, uang rokok mbah Modin itu selalu dikasih ke saya?”
“Mosok? Padahal dia kan punya cucu sendiri?”
“Lha ya nggak tau, Pak. Cuma seratus rupiah sih, tapi saya tahu itu amat bernilai saat itu.”

Lir gumanti, silih berganti, saling memberi. Jangan-jangan hidup ini hanya sebatas itu.

Bandung, 23 Maret 2015.
Post a Comment