Wednesday, April 8, 2015

Orok Berbaret Orange



Bulik Win hanya bisa tersenyum kecil. Dia duduk sembali menyelonjorkan kakinya ke bangku kecil. Kandungannya telah memasuki bulan ke tujuh. Kondisi badannya sedang meriang. Wanita kelahiran Bantul itu tak bisa membantu suaminya mengemas pakaian.

“Kira-kira berapa lama di Aceh, Pak?”
“Belum tahu lah, Bu. Aceh anget lagi.”
“Yo wes, Pak… Moga-moga bisa nungguin lairan anakmu.”

Lek Medi sibuk mengeluarkan beberapa lembar pakaian dari lemari usang itu. Dua setel PDL telah terlipat rapi di ransel loreng kapasitas 20 kilogram. Ruang tas yang tersisa tinggal buat pakaian harian, tak lebih dari tiga potong.

“Wis yo Bu. Aku berangkat dulu.”
“Iya, Pak. Mugo-mugo slamet. Doakan anakmu sehat di dalam sini,” ujar bulik Win sembari mengelus perutnya. Langkahnya rada tertatih ketika mengantar kepergian suaminya ke pintu rumah.

Lek Medi segera meloncat ke truk pasukan yang telah sedia di perempatan komplek. Tak ada lambaian tangan, pun ucap perpisahan dari tetangga kiri kanan. Sore itu berlalu seperti biasa di jalan Dakota, Halim. Penghuni komplek tak hirau dengan linangan air mata bulik Win ketika memandangi punggung suaminya.

Demikianlah akhirnya, sampai kelahiran anak pertamanya, lek Medi belum pulang dari Aceh. Kabar kelahiran diterimanya lewat pesan dari petugas jaga. Tugas patroli di kawasan Takengon ini tetap harus dijalankan, tanpa peduli kondisi batin anggota pasukan.

Ketika akhirnya masa penugasan itu berakhir, jabang bayi itu telah berumur hampir setahun. Anak pertama pasangan itu diberi nama Sabrina Intan Kinanti.
 
Mbah Medi, Adel, Intan, Bulik Win
*****

Perjalanan seregu prajurit Khas itu tiba-tiba terhenti. Komandan regu memerintahkan anggotanya lekas menyebar. Rumah yang disasar tinggal setengah kilo lagi. Hari telah diselimuti senja di sebuah kampung di pedalaman Aceh.

Praka Medi diperintahkan sebagai pendobrak pintu rumah. Tugas ini tak bisa dipandang sepele. Seorang pendobrak menghadapi resiko kematian yang amat tinggi, karena posisinya paling depan dan tanpa perlindungan sama sekali.

Rumah berdinding kayu itu terletak di sudut kebun. Tak ada cahaya penerangan apapun dari dalam rumah, gelap gulita. Desa ini memang belum dialiri listrik PLN. Warga desa mengandalkan penerangan seadanya.

Praka Medi berjalan mengendap. Senapan SS1 sudah terkokang di tangan. Dengan sekali tendangan, pintu kayu itu jebol. Tak ada siapa-siapa di dalam situ. Senyap mencekam.

Tiba-tiba ada seberkas cahaya muncul dari balik dinding ruangan. Praka Medi menajamkan mata. Seorang perempuan tua berjalan terbungkuk-bungkuk membawa dian. Nyala dian itu hampir padam oleh hembusan angin yang masuk dari pintu yang telah terdobrak tadi. Keadaan itu membuat seisi ruangan nyaris tanpa cahaya.

Praka Medi baru saja mau mendekat ke perempuan tua itu, ketika tiba-tiba dia merasakan panas di paha kananya. Langkahnya terhuyung, jatuh ke lantai rumah. Darah mengucur deras dari balik pakaiannya. Dua prajurit yang berada di belakangnya segera memburu ke arah wanita itu. Percuma, tak ada siapapun di sana. Sniper itu telah menghilang lewat pintu belakang.

Melalui radio komunikasi, komandan regu memerintahkan pengejaran ke arah kebun belakang rumah. Sisanya diperintahkan segera mengevakuasi Praka Sumedi. Pendarahan itu harus segera dihentikan.

Tiga minggu kemudian Praka Medi diperbolehkan pulang ke Jakarta. Dia diterbangkan dari Medan, setelah menjalani operasi penyembuhan luka tembus di paha kanan.

*****

Pagi itu saya minta ijin kepada atasan untuk terlambat datang. Bekas luka operasi usus buntu nyonya saya harus diperiksakan ke dokter. Saya mengambil rute melewati komplek TNI AU Halim Perdanakusuma untuk menghindari macet di jalan Kerja Bakti. Mobil saya lolos dari pemeriksaan Provost berkat stiker sakti yang menempel di kaca depan. Tanpa stiker tersebut jangan harap bisa melewati pos penjagaan. Provost itu bahkan memberi hormat kepada saya. Punya tampang mirip serdadu itu selain ditakuti preman terminal, juga dihormati provost, hahaha…...

Di lapangan sebelah bandara, tampak puluhan tenda pasukan terpasang rapi. Ratusan prajurit sedang senam pagi. Mereka adalah anggota Kontingen Garuda yang akan diberangkatkan ke Yordania.  Menilik tampangnya, saya yakin mereka belum genap berumur 25 tahun. Tak ada gurat kesenduan sedikitpun terpancar dari sorot mata mereka. Senam senjata itu diperagakan dengan sikap sempurna, tanpa cela.

Selepas melewati barak lapangan tersebut, saya harus memelankan laju mobil. Di sebelah kanan jalan adalah markas Paskhas 461. Bangunan bercat hijau itu tampak angker. Pasukan khusus ini memang bukan sembarang pasukan. Hanya prajurit terpilihlah yang berhak menyandang baret orange.

Dari kejauhan tampak dua orang prajurit sedang memotong rumput di sebelah kiri jalan, tepat di seberang gerbang markas. Saya hafal dengan sosok salah satu pemotong rumput itu.

“Woooi….Mbah Medi…. Sarapan dulu….. pagi-pagi udah motong rumput ajaaa….” seru saya sambil tetap melajukan mobil.

Saya memang memanggilnya dengan sebutan “Mbah” bukan “Lek”, semenjak saya punya anak. Hal itu sebagai bahan pengajaran kepada anak saya, bahwa dia harus memanggil “Mbah” ke pria ini. Pria berkaos loreng itu hanya melambaikan tangan ke arah kami lalu kembali asyik mengarahkan mata pisau mesin pemotong rumput. Luka tembak di paha kanannya telah membatasi aktifitas kemiliterannya. Meski masih aktif sebagai anggota pasukan khusus, dia sudah tidak lagi diterjunkan ke daerah operasi militer. Sebagai gantinya, dia lebih sering mengokang mesin pemotong rumput dibanding senapan serbu. Saya kadang bertanya-tanya, di markas tentara ini sebenarnya punya tenaga kebersihan nggak, sih? Masak tentara disuruh motong rumput. Saya tidak bisa membayangkan jika disuruh membersihkan kantor, saya pasti  misuh-misuh. Lha wong disuruh pulang jam 7 malam saja serasa disiksa dunia akherat.

“Le, kapan sih mentrimu naikin remun kami?  Kamu kan sering moto dia, mbok kamu tanyain, to. Mosok sudah 3 tahun nerima cuma 30% terus?” tanyanya suatu sore.
“Hehe… nggih Mbah… nanti tak tanyain yaaa…”

Hanya kalimat itu yang bisa saya utarakan. Saya lalu mengalihkan topik pembicaraan ke urusan lain.

Bandung, 8 April 2015.
Post a Comment