Wednesday, April 1, 2015

Ngaplo bin Ndlongop



Saya baru saja melangkah ke dalam Gerai Telkomsel Bandung, ketika ponsel di saku berderak dan berdering keras.

“Jadi cuma sebatas ini pertemanan kita?”

Ponsel Samsung G-Note I yang saya beli dalam kondisi bekas dua tahun lalu itu saya jauhkan dari telinga. Saya ragu dengan nama yang terpampang di situ setelah mendengar kalimat barusan. Ah, tak ada yang salah. Pak Pulung, sohib di Kanwil Jawa Barat I, demikianlah nama yang muncul di layar itu.

“Ya, Pak. Ada apa ya?”
“Masak bagi-bagi batu saya ndak kebagian. Tipislah pertemanan kita selama ini.”
“Hahahahahaha….. siap pak Pulung. Untuk Bapak masak saya kasih batu itu. Nggak level-lah. Masih ada kok, Pak..”

Batu ini memang bikin kami semua gila. Setiap hari ruang-ruang waktu kami selalu diisi dengan pembicaraan mengenai per-batu-an. Saya yang selama ini sama sekali tak tertarik dengan batu tiba-tiba jadi penggila. Beberapa koleksi batu yang sudah saya gudangkan sejak puluhan tahun silam kini saya keluarkan dari laci. Pun ketika ada cukong nawarin batu yang warnanya menarik, saya tak segan menyisihkan uang rokok untuk menebus maharnya. Gila….

Sepulang dari Gerai Telkomsel hari telah memasuki waktu Ashar. Seusai sholat di masjid kantor, sekumpulan pria tak langsung kembali ke ruangan. Mereka, termasuk saya, ngobrol di sudut gedung. Sudah tentu topik obrolan kami adalah batu, sambil menggosok-gosokkan batu kepunyaan masing-masing ke celana kerja.

“Jadi mana bagian saya, mas Slamet?” pak Pulung langsung menagih janji.
“Bagian apa. Nih? Jangan main belakang dong!!” uda Edral, Kasi sebelah ikut-ikutan menyela.
“Naaah.. Uda nggak dikasih juga sama mas Slamet? Wadoooh, paraaaah…” pak Pulung kian kalap.
“Wasyuuuuu…. Matek aku. Gara-gara secuil batu kok saya jadi orang hina gini yak…”
“Hahahaha…. Makanya jangan pelit berbagi, mas Slamet. Udah mana batunya, kita belah di sini. Nanti suruh Tommy aja yang bawa ke tukang asah.’

Demikianlah akhirnya. Sebongkah batu kiriman “sedulur sinorowedi” dari Bangko itu sah menjadi bancakan penyembah berhala kantor kami. Tommy senyum-senyum saja mendapat titas membawa batu itu ke tukang asah.

“Pokoke minggu depan kita sepakat pakai batu dari mas Slamet yaaa….”

Edaan… batu sudah membuat kami gila.

Hari berganti minggu. Sore tadi sesuai Ashar, kelompok penyembah batu kembali berkumpul di tempat biasa.

“Asem tenan, barusan dapet sms dari Mandiri, jebule TC-ku turun sejuta lebih. Padahal absenku penuh. Baru inget kalo turun grade,” ujar pak Pulung sambil bersungut-sungut.

Kemarin beberapa dari kami memang dilantik dalam jabatan baru sesuai aturan mengenai reorganisasi DJP. Saya termasuk di dalamnya. Seksi Humas berubah nama menjadi Seksi Kerjasama dan Hubungan Masyarakat. Keramas adalah akronim pertama yang muncul di benak saya. Pak Pulung juga mengalami hal yang sama dengan saya. Bedanya adalah dia turun grade dari 15 ke 14, sedangkan saya tetap di 14.

Wis to Mas, rejeki nggak akan tertukar,” ujar mas Eko. Fungsional penyidik itu sebetulnya bukan penggemar batu, namun sesekali dia bergabung bersama kami. Pria asal Semarang itu kembali ke ponselnya, tak hirau dengan reaksi ucapannya barusan.

“Lha inggih lah, mas Eko. Rejeki grade 15 mah nggak akan tertukar dengan grade 14…hahahaha”

Sahutan saya memancing gelak tawa anggota per-akik-an ini.

“Jadi kalo dikaitkan dengan kenaikan Tukin nanti, berapa potential loss pak Pulung?” tanya uda Edral denga senyum sinis. Dasar orang Minang, rasanya tak puas kalo semua persoalan tidak dihitung untung ruginya dari sisi uang. Pak Pulung seolah kehilangan kata-kata. Lulusan STAN 92 itu memilih ngelus-elus bacan yang tersemat di jari manis kanannya.

“Dua setengah juta, pak Pulung. Setahun berarti tiga puluh juta. Bisa beli bacan berapa tuh?”

Tawa kami kembali pecah. Seorang wanita berseragam Bea dan Cukai yang kebetulan tengah melintas sampai menoleh ke arah kami.

“Ngomong-ngomong Tukin jadi nggak sih?”
“Sudahlah pak Slamet. Nikmati saja yang ada. Pak Slamet nggak turun grade, kan?”
“Nggak, Da. Dan Alhamdulillah saya sekarang nggak minder lagi. Di komunitas ini ada dua orang yang grade 14, saya dan pak Pulung.. hahahaha.”

Pak Pulung kembali tertohok. Dia ngeloyor ke kios rokok mang Ajo. Sebotol minuman dingin dia tenggak di depan kami.

“Uda tahu nggak, kemarin-kemarin pak Pulung tuh minumnya Pocari, lho. Kok hari ini minumnya teh botol doang, ya?”
“Masak pak Slamet nggak tahu. Grade, Pak… gradeeeee….”

Kembali sore ini seolah mau meledak oleh derai tawa kami.

“Makanya, Da. Kalo ada idle cash tahan dulu deh, kayaknya sebentar lagi ada yang jual batu murah nih…hahahahaha…..”
“Betul pak Slamet. BU CPT (butuh uang cepat).. huahahahaha….”
“Ngomong-ngomong Tommy kemana ya, Da?” Kebetulan uda Edral adalah atasannya.
“Lagi cuti, mas Slamet. Minggu depan baru masuk,” sergah pak Pulung seolah menemukan celah pengalih topik.
“Lha trus urusan pesanan batu kita gimana dong?” saya mulai was-was.
“Yaah… gimana lagi. Kita tunggu aja sampai dia masuk, Mas.”
“Walaaah.. kacau nih. Ngaplo bin ndlongop (kecewa) deh kita. Aturan udah bisa kita pake rame-rame kok malah cuti bocah iku.. Ngomong-ngomong kok urusan batu ini seolah nyindir kita ya? Tukin yang diarepin, turun grade yang malah dateng…hahahahahaha……!!!!!!”

Tawa keras kami berlanjut di perjalanan kembali ke ruangan masing-masing. Kami, empat pria berumur ini, berjalan beriringan. Pak Pulung merangkul pundak saya.

“Sama-sama grade 14 jalannya bareng ya, Le…Hahahahaha”

Bandung, 1 April 2015
Post a Comment