Wednesday, June 17, 2015

Ganteng Maksimal


Abiyyu dengan bukan bapaknya, tapi omnya

Sudah menjadi tekad kami berdua, sebisa mungkin anak-anak kami menempuh pendidikan di sekolah plat merah. Pertimbangannya tentu ada, efisiensi biaya, kelengkapan fasilitas dan yang paling penting adalah nrimo dengan keadaan yang sebenarnya. Konsep nrimo memang senantiasa kami pegang dalam kehidupan ini.  Nrimo ing pandum (menerima dengan keiklhasan) adalah pitutur Jawa yang meletakkan kecukupan menjadi sebuah keputusan, bukan sebuah kondisi.
Seperti jamaknya sekolah negeri, SMA tempat anak saya menempuh pendidikan menganut sistem pengelolaan sekolah tanpa biaya. Namun apa daya, karena BOS dari pemerintah tak cukup dan pemerintah daerah setempat tak mampu pula menyubsidi kekurangan BOS, maka siswa masih dipungut SPP. Tak apalah, toh jumlahnya juga masih manusiawi, “hanya” 300 ribu per bulan.  Jumlah yang menurut saya masih dalam ukuran wajar dan mampu saya tanggung.
Tentu bukan hanya soal bayaran yang menjadi sorotan saya kali ini. Kita semua tahu lah, secara umum sekolah negeri memang sarat dengan aroma birokrasi yang serba lamban, gemuk dan kurang terurus. Seperti kejadian Senen lalu, ketika kami mendapat undangan untuk mengambil raport semester II. Dalam undangan jelas-jelas tertera pukul 10.00 WIB. Ketika kami, saya dan nyonya, datang ke sekolah pukul 10.30 WIB, ruangan kelas sudah kosong. Teman sekelas anak saya yang sedang nongkrong di depan kelas mengatakan bahwa pembagian raport dimajukan ke pukul 08.00 WIB karena sudah banyak orang tua yang datang. Bagus sih, tapi mbok iyao kami yang datang sesuai undangan ini tetap dinanti. Tak apalah, bukankah kami harus nrimo? Akhirnya kami diantar menuju ke ruang guru untuk mengambil raport anak saya.
Ruang guru itu terletak persis di samping ruang Kepala Sekolah. Saya menduga ruangan ini dulunya adalah ruang belajar, mengingat ukuran dan rancangan arsitekturnya tak beda dengan ruang kelas yang ada. Yang membedakannya adalah suasana di dalamnya. Nyaris tak ada tempat kosong bagi tamu untuk duduk. Ketika wali kelas itu mempersilahkan kami duduk, hanya saya yang bisa duduk, itupun di bangku guru lain yang kebetulan sedang tidak berada di tempat. Nyonya saya suruh berdiri dulu saja.
“Gimana nilai anak saya, Pak?”
Seperti biasa nyonya selalu penasaran dengan nilai anak-anaknya. Saya malah sibuk menutupi baju putih yang terkena tinta pena tanpa sadar di kantor tadi. Asem tenan, nggak jadi ganteng maksimal deh…
“Secara umum bagus kok Bu. Abiyyu naik kelas. Hanya saja ada satu nilai yang kurang memenuhi KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal)...”
“Waduh, gimana dong, Pak? Mata pelajaran apa?”
“Bahasa Inggris lintas minat, Bu. Saya juga heran, ini kok kecil sekali, apa Biyyu nggak pernah masuk ya? Masak nilainya nggak sampai poin 1…”
Kalimat terakhir itu merisaukan saya. Bukan soal nilainya, tapi soal attitude anak saya.
“Pak, kalo boleh tahu, bahasa Inggris lintas minat ini jadwalnya di luar jam sekolah apa masih dalam range jam sekolah?” saya menukasnya dengan segera.
“Oh, masih dalam lingkup jam sekolah kok, Pak.”
Saya tenang. Senakal-nakal Abiyyu, dia bukan tipe pembolos seperti bapaknya.
“Baik, Pak. Apa mungkin ada kesalahan pencantuman nilai atau kesalahan teknis lain?”
“Bisa jadi, Pak. Jangan-jangan malah tertukar dengan nilai temannya. Karena untuk mata pelajaran yang sama yang bukan lintas minat, nilainya bagus banget kok. Ini pasti ada yang salah..”
Glek….. nrimo, Met… nrimo.
“Jadi gimana dong solusinya, Pak? Misal nilai Biyyu di atas ini berarti dia kan nggak ranking 15, kan? Bisa-bisa jadi ranking 3,” ujar nyonya dengan semangat. Saya tersenyum simpul. Meskipun telah menjalani pernikahan selama 17 tahun ada perbedaan yang tidak pernah bisa dan kami niatkan bisa diselaraskan.
Wali kelas itu menyarankan kami untuk menghubungi guru yang bersangkutan. Kami mengiyakannya. Sayangya guru yang dimaksud sedang tidak berada di kantor.
“Satu lagi, Pak. Gimana sikap dan perilaku anak saya?”
“Owh.. Abiyyu mah anaknya baik, Pak. Tidak aneh-aneh. Hanya kadang terlalu pendiam, kayak cuek gitu dengan keadaan sekitar..”
Haha.. saya tergelak dalam hati. Bapaknya banget… Lho iya, sebelum mentertawakan pernyataan saya tersebut, saya mau mengakui sesuatu. Sesungguhnya saya ini pria pemalu, inferior, introver, soliter, dan enggan bergaul. Keadaan lah yang kemudian mampu membuat saya seperti sekarang ini, percayalah.
Jawaban wali kelas itu amat melegakan saya. Bagi saya, prestasi akademis itu non-sens jika tanpa pondasi attitude. Pinter tapi gemar minteri, atau pinter tapi suka keminter jelas bukan sifat yang terpuji. Bagi saya penilaian terhadap sikap jauh lebih penting daripada penilaian prestasi akademik hitam di atas putih. Anda hanya harus lihai menyontek teman sebelah untuk bisa mendapat nilai A, tapi percayalah, kekuatan akting Anda untuk bersikap baik tak akan bisa bertahan lama.
Ketika akhirnya kami sampai di rumah, ucapan selamat langsung kami hamburkan kepadanya. Ada waktu sejam sebelum harus kembali ke kantor, dan saya manfaatkan untuk menyambangi tanaman sayur yang agak kelirwan semenjak bapak saya pulang kampung. Saya sapa dan sirami bayam, pokcoy dan sawi itu sembari mendengarkan campur sari Manthous.
Tiba-tiba Abiyyu mendatangi saya. Dia pamit mau ke sekolah untuk menemui guru bahasa Inggris lintas minat. Aha… pasti di dalam rumah tadi mamanya langsung menginstruksikan hal tersebut. Saya yakin karena hafal dengan tabiat dan karakternya. Jangankan ngurus nilai, ketika gitarnya dirusak oleh temannya saja dia tak berani menuntut ganti rugi. Saya kembali asyik dengan petakan kosong di sebelah rumah dinas ini.
Beberapa jam kemudian ketika saya sudah di kantor, nyonya mengabari saya lewat pesan pendek. “Pak, nilai kakak sudah diralat, jadi 3,5”. Saya balas pesan itu dengan kalimat pendek, “Syukurlah, Ma.” Dalam hati saya berguman, “Mama sih nggak percaya sama aku, urusan prestasi akademik mah nggak usah diragukan, pasti bagus kok, kayak bapake.. Udah ganteng, pinter lagi…”

Bandung, 16 Juni 2016
Post a Comment