Monday, June 15, 2015

Tertohok Pria Pengedar Zamzam



Pria Pengedar Zamzam

Lupakan soal pesona jilbob, istilah sarkastis bagi pemakai kedurung tapi tetap megal-megol. Lupakan soal dispute penghormatan terhadap yang berpuasa atau yang tidak. Ini lebih serius dari hal itu, karena menyangkut, katanya, dosa yang tak bakal terampuni, yaitu menyekutukan Tuhan. Parahnya lagi hal ini terjadi di lingkaran Tawaf, tanah tersuci bagi kaum muslim, kiblat bagi segala rupa sholat.
Ini adalah hari ke dua di Mekkah. Kami diberikan kelonggaran waktu untuk mengistirahatkan badan setelah semalam melaksanakan Umroh. Umroh yang seharusnya selesai sebelum Subuh harus mulur waktunya akibat ibu hilang di bukit Marwah.
Seusai sholat Ashar di Masjidil Haram, saya, bapak dan ibu tak pulang ke hotel yang hanya sejengkal dari tempat ini. Jarak yang demikian dekat memang menjadi godaan tersendiri bagi saya. Terbayang empuknya kasur hotel berbintang empat plus kemewahan bisa merokok di dalam kamar. Tapi tidak. Sore itu saya membulatkan tekad untuk satu dua hal.
Setelah mendudukkan kedua orang tua saya di tempat yang saya anggap aman, saya pamit ke bapak. Saya wanti-wanti ke ibu agar tak beranjak se-inci pun dari tempat itu. Kain sarung saya gulung ke atas agar langkah saya ringkas. Tas berisi 3 pasang sandal jepit, handphone dan kamera  tanpa cermin (pinjaman dari Mas Yusan) saya sandang dengan ketat. Saya tahu, medan yang saya hadapi tak akan mudah, bahkan bagi pria setrengginas saya.
Satu putaran melawan arah jarum jam saya gunakan untuk mensurvei keadaan. Cuaca panas, ribuan manusia tak henti memutari bangunan kotak ini. Baiklah, saya segera pasang strategi.
Mendekati Rukun Yamani untuk kedua kali, saya mulai mepet ke kiri. Pertarungan segera dimulai. Puluhan orang berjejal, memperebutkan hal yang sama, mencium Hajar Aswad. Bismillah…. Mantra ajaib segera saya rapal. Mantra itu ternyata tak cukup manjur. Tubuh saya terpental oleh tubuh-tubuh yang lain. Ya sudah, saya meneruskan langkah, bergeser ke kanan agar terhindar dari jebakan mematikan ini. Lolongan perempuan yang terjepit tubuh pria bukan muhrim tak saya hiraukan. Salah sendiri, pikir saya, siapa suruh nekad kayak gitu.
Ah.. saya melupakan satu hal. Multazam. Saya lihat tempat itu malah agak longgar, jauh berbeda dengan hajar Aswad. Mantra segera saya rapal lagi, bismillah… Ah, yang terjadi tak semudah yang tampak. Seorang perempuan bertubuh tambun menutupi langkah saya. Dia tampak kewalahan melawan muntahan arus manusia. Ketika dia menoleh ke belakang, saya langsung tahu bahwa dia berasal dari Indonesia.
“Mau saya bantu, Bu?”
“Boleh, Mas.”
“Maaf ya, Bu…”
Saya segera mendorong, maaf, pantat perempuan itu ke arah dinding Ka’bah. Sekitar dua menit saya tahan posisi tangan saya di pantatnya agar tubuhnya tak terhempas oleh lautan manusia.
“Sudah, Mas.. terima kasih,” ucapnya sembari terisak lalu bergeser ke kanan.
Ruang kosong yang ditinggalkan perempuan itu segera saya isi. Mendadak Ka’bah ini terasa kosong, tak ada seorang manusia pun  kecuali saya. Saya tak mampu mengingat berapa lama saya bertahan dan berdiam di Multazam. Hanya keputusan hati yang menyuruh saya pergi, ada ribuan manusia di belakang saya yang masih mengantri.
Target saya selanjutnya adalah sholat di Hijr Ismail. Bidang yang dipagari setengah lingkarang ini bak kamp pengungsian suku Rohingya. Tak ada sejengkal sudutpun tersisa, bahkan kursi roda pun masuk ke tempat ini. Seorang wanita Hindustan tampak meraung-raung sembari menciumi bibir Hijr Ismail. Dalam hari saya tertawa geli, apa iya dia harus sampai meraung-raung gitu? Okelah, terhanyut perasaan.. tapi masak sampai mencium tembok sedemikian membabi-buta gitu. Saya yang biasanya mudah terhanyut dengan tangis orang, kini berubah sinis.
Kesinisan saya kian berlanjut ketika saya berhasil mendapat tempat di dalam Hijr Ismail. Saya harus menunda sholat karena oleh sepasang muda-mudi  asyik bergantian foto di tempat ini, tepat di depan saya.  Masya Allah… gejala apa lagi ini? Yowes lah, Tuhan mungkin menciptakan beragam cobaan buat saya yang penuh dosa ini. Bahkan untuk sholat pun saya mengalami hal yang tak mudah.
Cukup dua rekaat dan sebaris doa pendek. Doa titipan dari teman-teman yang sudah saya catat di selembar kertas. Saya lalu meneruskan langkah, melangkahi jamaah yang memenuhi tempat ini. Saya masih punya obsesi, mencium batu Aswad.
Sudut Yamani telah lewat, saya kembali merangsek ke kiri. Kali ini saya tak sekedar melafadz niat bismillah. Saya dorong badan sekuat tenaga, menyibak sela-sela tubuh manusia. Sekali gagal, dua kali tubuh saya kian tertolak. Dalam hati saya berpikir, jangan-jangan batu itu tak menerima kehadiran saya. Ah, saya tak mau terlalu lama tenggelam dalam prasangka. Bismillah, celah sempit itu seolah terkuak dengan mudah. Maha Suci Tuhan, Penguasa hidup dan mati seluruh alam. Tangah kanan saya akhirnya bisa menyentuh batu dingin itu. Kesempatan itu hanya sekejap, sebelum akhirnya tubuh saya terhimpit dan tertolak ke luar lingkaran. Saya pasrah, tak melawan , tak pula bersikukuh pada ego. Saya biarkan tubuh langsing ini terbawa keluar dengan sendirinya. Saya tak pedulikan beberapa siku tangan manusia yang menyerempet wajah saya. Saya juga tak kuasa menolong, lagi-lagi, perempuan yang terhimpit badan-badan kekar. Salah sendiri, pikir saya.
Setelah menuntaskan niat, saya beristirahat sejenak di Maqam Ibrahim. Tempat ini menyisakan banyak ruang kelegaan. Saya berdiri menghadap Ka’bah. Bangunan berselimut kain hitam itu saya amati dengan seksama. Tiba-tiba seluruh tempat ini seolah terhenti, semua terhenti pada posisinya masing-masing. Tak ada suara apapun, senyap. Kain kiswah itu jatuh ke lantai marmer, meninggalkan Ka’bah dalam sebentuk bangunan telanjang, kotak, tersusun dari batu hitam. Seluruh mata memandang ke arahnya, tak berkedip. Saya dibawa terbang ke atasnya, mengitari pusaka Ibrahim dalam sekali tarikan nafas.
 Saya memandang ke bawah dengan rasa heran; apa yang dilakukan ribuan manusia itu? Berjalan mengitari bongkahan batu dengan beragam ekspresi penuh taklid, ratap, dan emosi. Bersikutan hanya untuk sekedar memuaskan ego sendiri sehingga tak hirau dengan keselamatan jiwa orang lain, bahkan ketika pemilik jiwa itu adalah sesosok perempuan.   Hati saya ditawar setan. “Met, lihatlah ke bawah sana. Apa bedanya mereka dengan kaum yang suka meratap di Tembok Ratapan? Apa bedanya dengan penyembah Latta dan Udza? Apa bedanya dengan mbahmu yang suka pasang sajen? Apa bedanya dengan penggila selfie di depan Eiffel? Sudah, jangan lama-lama berada di tempat ini, kembalilah segera ke bapak ibumu, mereka sedang membutuhkanmu!!!”
Saya tergagap. Ketika saya membuka mata saya sudah berada di depan orang tua saya. Ibu menyambut saya denga wajah kawatir.
“Kemana saya to, Le?”
Ngapunten, Bu. Tadi ke depan sebentar. Lho ini kok ada air zamzam sama kurma, dapet dari mana, Bu?”
“Itu lho, dikasih sama orang bertopi itu,” ujar bapak sembari menunjuk pria bertubuh gemuk berkaos oblong lusuh. Pria itu sedang berkeliling sembari membagikan segelas air Zamzam yang dia ambil dari kran terdekat.
Saya terkesima. Niat awal untuk minta difoto bareng bapak ibu dengan latar belakang Ka’bah saya urungkan. Dalam hati saya berpikir, jikapun saya tak mampu berbuat seperti pria bertopi itu, saya masih mampu tak selfie di depan Ka’bah.

Bandung, 15 Juni 2015.
Post a Comment