Thursday, September 3, 2015

Sepatu untuk Kiki

Siang itu terik melanda Bandung. Debu beterbangan dari jalan Soekarno Hatta yang membelah kawasan Buah Batu, tempat kami berdiam setahun belakangan ini. Seusai menyiangi gulma di halaman samping rumah dinas, saya leyeh-leyeh sebelum akhirnya tertidur pulas.
Suara obrolan mertua dengan seseorang di teras samping menuntun langkah saya yang masih sempoyongan, mendekat kea rah mereka.
“Nenek ngobrol sama siapa, Ma?” tanya saya kepada nyonya yang tengah menyetrika di ruang tengah.
“Nggak tau, Pak. Caknyo sih suaro budak kecik. Barusan bae kok ngobrolnyo,” ujarnya sambil tetap melakukan pekerjaan rutinnya. Sehari-hari kami memang menggunakan bahasa Palembang ketika bercakap-cakap.
Saya tertegun ketika melihat lawan bicara mertua. Seorang anak laki-laki berpenampilan lusuh duduk di lantai teras. Keringat mengucur deras dari dahinya. Nafasnya tersengal-sengal.
“Ini nah, Met. Dio tadi dikejer uwong, laju loncat lewat pagar tembok itu,” kata mertua sembari menunjuk ke arah tembok pembatas komplek rumah dinas ini dengan jalan Soekarno Hatta.
Komplek rumah dinas Kanwil Ditjen Pajak Jawa Barat I ini memang terletak di pinggir jalan besar nan ramai. Komplek yang terdiri dari 13 rumah ini pintu keluar masuknya hanya satu, langsung menuju jalan besar tersebut. Posisi rumah yang kami huni berada di paling pangkal, sehingga hanya sejengkal dari keramaian jalan tersebut. Pintu gerbangya terbuat dari plat besi. Setiap pukul 22.00 WIB pintu tersebut ditutup dan dikunci oleh penjaga yang ngepos di balik gerbang tersebut. Pagi-pagi gerbang itu dibukanya, dan dibiarkan terbuka hingga malam. Penjaga itu terkadang tidak berada di posnya, sehingga semua orang bebas keluar masuk gerbang tanpa ada pemeriksaan apapun.
Awal-awal tinggal di sini, pintu pagar rumah selalu kami gembok. Lama kelamaan kami bosan dengan ritual keamanan itu. Kami juga berprinsip, pada dasarnya semua orang itu baik, maka kami tak pernah kawatir ada orang yang tak diundang nyelonong masuk. Alhamdulillah sampai saat ini tak ada kejadian buruk menimpa kami.


Kiki bersembunyi di balik mobil dinas kami

“Kamu kenapa?” tanya saya kepada anak itu.
“Dikeroyok temen saya, Om. Mereka mau ambil sepatu saya.”
“Berapa orang yang ngejar kamu?”
“Empat orang, Om. Mereka sempat mukuli saya, trus saya lari ke sini. Tolong ya Om, jangan kasih tau mereka kalo saya ada di sini,” ujarnya dengan nada menghiba, ditengah nafasnya yang masih tersengal-sengal.
“Kamu ini siapa, sih? Rumahmu mana? Trus tadi mau kemana kok ketemu sama mereka?”
“Saya tinggal di Cibiru, Om. Kerjaan saya ngamen di Alun-alun, ini tadi mau ke sana. Di jalan ketemu sama mereka trus mereka ngajak tukeran sepatu. Saya nggak mau, akhirnya mereka mukulin saya.”
Awh… saya terdiam. Anak jalanan rupanya.
“Ya sudah, kamu sembunyi dulu di sini. Coba tak liat ke depan, mereka masih ada di situ nggak.”
Saya ngeloyor ke pinggir jalan. Pemilik bengkel servis dynamo yang kiosnya ada di balik pagar pembatas komplek mendekati saya.
“Nyari siapa, pak Slamet?”
“Ini, Mas.. Di rumah lagi ada anak sembunyi. Katanya habis dikeroyok 4 orang.”
“Oh iya, Pak. Barusan memang ada 4 orang anak-anak tanggung berkeliaran di sini. Karena tingkahnya mencurigakan, akhirnya saya usir. Mereka jalan ke arah Kiara Condong sana.”
Saya lega. Prasangka yang semula menyelimuti pikiran segera sirna. Kiki memang layak dibantu. Saya kembali ke rumah.
Di teras telah tersaji segelas air putih. Nyonya berdiri di samping Kiki.
“Kamu sudah makan, Ki?
“Sudah, Te, makasih.’
“Beneran? Kalo belum tak tak ambilin nasi.”
“Nggak, Te. Makasih, saya sudah makan.”
“Ambilin aja, Ma. Malu dia.”
Tak lama kemudian nyonya kembali ke teras sembali membawa dua tangkup roti tawar yang sudah diolesi selai.
“Ya udah nih, makan roti aja.”
Seperti yang sudah saya duga, anak berusia belasan tahun itu segera menyambar roti tersebut dan melahapnya.
“Kamu nggak sekolah, Ki?”
“Nggak lagi, Om. Dulu di pesantren tapi saya nggak betah.”
“Hahaha…  anak model kamu mana betah di pesantren..hahaha” gelak saya terhenti ketika nyonya menyergah.
“Bapakmu masih ada, Ki?”
“Masih, Te. Sopir angkot jurusan Cadas-Elang.”
Kami terdiam. Sebentuk lingkaran setan terhampar di depan saya. Kemiskinan, melahirkan keterbelakangan, lalu memunculkan kebodohan, sebelum akhirnya mendekatkan pada kemungkaran.
Kiki mencoba sepatu pemberian si Bungsu
Tiba-tiba nyonya memanggil anak bungsunya.
“Dik, sepatu adik ada yang sudah nggak kepake, nggak?”
Byan tergopoh-gopoh mendekat ke kami.
“Ada kali, banyak tu,” jawabnya dengan nada acuh. Anak bungsu kami ini meski agak temparemental tapi tak pelit berbagi. Dia segera membongkar tumpukan sepatu di rak. Tak hanya itu, dia juga menuju lemari pakaian dan kembali dengan bawaan sebuah celana pendek di tangan.
Kiki mencoba celana pendek pemberian si Sulung

“Nih, aku nggak pakai lagi, Ma. Kalo dia mau kasih aja.”
Detik berikutnya Kiki mulai mencoba sepatu dan celana itu. Ternyata ukurannya pas, kebetulan memang mereka seumuran.

“Ya sudah, Ki.. kamu aman kalo mau pulang. Mereka nggak ada lagi di depan.”
“Ya, Pak. Makasih ya Bu, Mas.”
Kami berempat mengiringi kepergian bocah itu dengan perasaan campur aduk. Ketika sosoknya menghilang di balik gerbang, saya segera memanggil anak sulung untuk bergabung bersama kami.
Bye...bye Kiki. Take care

“Nah, kalian tahu kan, kenapa Bapak sama Mama suka nyuruh kalian belajar yang rajin? Bukan untuk kami, tapi untuk kalian sendiri. Kami nggak mau kalian jadi seperti Kiki.”
Sore itu berlalu dengan cepat. Ubi rambat yang saya tanam seusai lebaran, bibitnya saya bawa dari Wonogiri, memanggil-manggil saya untuk segera menyiraminya. Ah, bi, ubi… seandainya kamu berakal seperti kami.

Bandung, 3 September 2015.
Post a Comment