Thursday, September 10, 2015

KIKI, SUMI, DAN KULKAS YANG TERBENGKALAI

Sekubit cerita tentang Kiki rupanya hanyalah pembuka dari deretan lakon di rumah kami. Kiki, usai kepergiaannya, meninggalkan seberkas cerita. Anak itu tak pernah kembali ke rumahnya. Hari-harinya berlanjut di jalanan Bandung. Entah dan celana itu gimana nasibnya. Kami hanya berharap, pemberian itu tak mencelakakannya.
Jumat pagi minggu lalu. Nyonya kalang kabut, daging ayam yang disimpan di lemari pendingin beraroma tak sedap. Walhasil pagi itu kami sarapan dengan menu ala kadarnya. Rupanya kulkas kami tak berfungsi. Lemari ajaib yang kami beli 15 tahun lalu itu memang sudah beberapa kali bermasalah. Permasahannya pun beragam, mulai dari yang sepele, matinya lampu indikator, hingga yang berat, seperti sekarang ini, tak mampu mendinginkan hawa.
Meski di pintu kulkas itu tertera stiker yang menjanjikan service gratis selamanya, saya tak pernah menggunakan fasilitas itu. Bagi saya fasilitas itu terlalu ribet dan costly.
Saya segera bertanya teman-teman sejawat tentang tukang service elektronik panggilan. Di Jakarta kami punya langganan, kang Min, yang rumahnya hanya sejengkal dari tempat tinggal saya. Tak lekas mendapat informasi yang dibutuhkan, saya mengakses padepokan Google. Clap, tak perlu 5 detik untuk menemukan orang yang saya cari.
“Ya, halo, selamat pagi,” sapa pria di ujung sana.
“Pagi, Mas. Bener ini tukang service elektronik?”
“Betul, Pak. Apa yang mau diperbaiki?”
“Kulkas, Mas. Jam berapa bisa datang?”
“Jam 10-an ya, Pak. Kebetulan teknisi lain sudah berangkat. Ini nunggu teknisi lainnya.”
Keren, pikir saya. Jawaban pria tadi menunjukkan kredibilitas entitas yang dia promosikan di internet, bukan sekedar tukang service rumahan ala kang Min.
Dua jam kemudian seorang pria datang menunggangi motor. Dia menyandang tas yang saya taksir berisi peralatan service elektronik. Pria itu segera kami arahkan ke kulkas yang telah mangkrak selama 2 hari. Kami lantas membiarkannya membedah lemari pendingin itu; saya sendiri memilih menyambangi kebun samping rumah.
Tak sampai sejam, pria itu meringkasi peralatannya.
“Ini, Pak. Sudah beres kulkasnya. Otomatisnya rusak, sudah saya ganti dengan yang asli. Harganya 400 ribu, Pak.”
“Ya sudah, yang penting beres, Mas.”
“Besok pagi kalo nggak dingin telpon saya, Pak. Garansi sebulan,” ujarnya sembari pamitan.
Dia juga berpesan agar segelas air putih yang ditaruh di freezer tidak dipindahkan ke tempat lain. Gelas tersebut difungsikan sebagai alat penguji kinerja lemari pendingin ini.
Keesokan harinya, ketika sedang didera pekerjaan, nyonya mengirim kabar bahwa air di gelas itu tak membeku. Dia juga sudah berinisiatif untuk menghubungi teknisi tersebut. Kepada nyonya teknisi itu berjanji akan datang secepatnya.
Sejam kemudian, nyonya memberi kabar yang kurang mengenakkan. Yang bermasalah ternyata kompressornya. Ah, dalam hati saya mengumpat. Ora beres orang ini, pikir saya. Kepada nyonya dia menjanjikan bahwa biaya perbaikan kompressor 500 ribu. Ya sudah lah, kepalang tanggung. 400 ribu untuk alat pemantik otomatis dan 500 ribu untuk perbaikan kompressor.
Kulkas itu terpaksa dinonaktifkan dulu karena perbaikan kompressor dilakukan di workshop mereka. Imbasnya jelas, nyonya tidak bisa lagi menyimpan logistik di lemari pendingn. Hal ini tentu mengubah pola belanja bahan lauk pauk. Mekanik itu menjanjikan waktu 2 hari perbaikan.
“Pak, di rumah ada warga baru, tp ceritanya lewat telp aja ya..” selarik pesan muncul di ponsel saya.
Dilanda penasaran, saya segera meneleponnya.
“Gini, Pak. Tadi kang Maman dateng ke rumah, nawarin pembantu..”
Saya mulai menduga-duga arah pembicaraannya.
“Dia orang Purwakarta. Namanya Sumi, umurnya baru 20-an. Kabur dari rumahnya karena ribut sama suaminya. Dia tadi naik angkot dari Leuwipanjang, trus turun di seberang komplek. Dia nanya-nanya ke kang Maman, siapa yang butuh pembantu. Akhirnya dia dibawa ke rumah kita. Tuh orangnya barusan bantu kami masak.”
Jreng.....!!! tiba-tiba saya teringat bapak di Wonogiri sana. Sepanjang hidupnya beberapa orang asing pernah tinggal di rumah kami untuk jangka waktu yang relatif lama. Terakhir tahun lalu, sesosok perempuan senja sempat tinggal di rumah bapak selama hampir sebulan, sebelum akhirnya kembali ke keluarganya.
“Gimana nurut Bapak? Mama sih belum ngasih keputusan ke dia. Sementara ini hanya memberi tumpangan nginap barang semalam karena kok kasihan banget liatnya.”
Perlu beberapa saat bagi saya untuk memberi jawaban.
“Iya, Ma. Gini aja, suruh dia lapor ke pak RT, atau suruh hubungi orang tuanya, kasih tahu bahwa dia nginap di rumah kita. Jangan sampai kita dapet masalah, padahal niatnya nolong.”
“Iya, Pa. Katanya anaknya baru umur 11 bulan, tapi sudah nggak netek lagi, sih.”
“Ya, pokoke gitu deh, Ma.”
Saya menikmati ucapan terakhir itu. “Pokoke” adalah senjata pamungkas yang tak boleh dilawan oleh siapapun. Di situ letak taji saya sebagai pria, hahaha...
Pagi kemarin saya memulai aktifitas kedinasan di Surabaya. Tak seperti dugaan saya, meski sedang musim kering, Surabaya tak memanggang tubuh saya.
Setelah saling mengabarkan keadaan masing-masing, nyonya langsung menyampaikan laporannya.
“Pak, Sumi sudah mama suruh pulang. Mama pesen selesaikan masalahnya dulu, deh. Dan nggak usah dateng dulu, kalo butuh baru kita hubungi.”
“Ya, Ma,” jawab saya singkat.
“Terus tukang kulkas sudah dateng. Katanya kulkas kita nggak bisa dibeneri lagi. Dia nyerah. Duit 400 sudah dia balikin. Dia minta dibayar freon sama tenaga dia bolak balik.”
“Ya, Ma.”
“Trus dia dikasih berapa, Pak?”
Saya dilanda kehampaan ide, kosong. Semilir angin di masjid kantor ini membuat saya rada melayang.
“100 aja kali, Ma. Lha wong kerjaannya nggak beres gitu,” saya asal sebut.
“Nggak 50 aja, Pa?”
“Yo wes, terserah Mama, deh,” saya kian malas.
“Iya, Pa. Freon kulkas kita kan nggak masalah, kok disuruh bayar. Itu kemarin waktu ngelas juga keluar asep banyak banget, jadinya belakang kulkas item banget kena jelaga.”
“Iya deh, Ma,” saya menjawab sembari ngeloyor ke padasan. Waktu sholat Dhuhur sudah tiba sejam yang lalu. Siraman air suci ini seolah menjadi setip kisah Kiki, Sumi dan kulkas yang terbengkalai.

Surabaya, 10 September 2015
Post a Comment