Friday, September 11, 2015

NGALAMIN NGATINA, LANTUN DOA YANG TAK BERUBAH

Kerumunan manusia itu duduk bersila di atas tikar daun mendhong. Posisi mereka itu kian merapat ketika aroma srundeng dan ayam panggang mulai merebak. Lek Jogotirto, sejatinya bernama Semin, adalah tetua dusun kami. Dia selalu diberi mandat untuk ngujudne (pembaca doa) setiap ada kendurian di kampung saya, pelosok Wonogiri sana. Tunggu dulu, bukan doa bernbunyi  “Robbana attinin fi dunya hasanah... “ dan seterusnya yang bakal dia lantunkan, tapi doa berbahasa Jawa, atau kami biasa menyebutnya dengan Ujud-Ujud. Saya menduga Ujud-ujud  mengandung makna sebagai  permohonan agar permintaan di-wujud-kan. Biasa lah, bukan orang Jawa jika tak pintar men-semiotika-kan keadaan.
Hebohnya lagi, sahutan jamaah kendurian bukan “Aamiin” (cara penulisan kata ini sempat menimbulkan perbedaan), tapi “Inggih/Nggih” yang artinya “ya, saya setuju.” Kata Nggih akan terucap dalam intonasi yang amat takzim, setakzim ucapan seorang hamba yang menerima titah dari sang raja. Atheis, komunis, tak beragama, kafir, atau apalah yang mungkin terbersit di benak Anda setelah membaca sepenggal tullisan saya di atas. Ndak apa-apa.
Selesai? Belum. Sesudah lek Jogo selesai mengimami Ujud-ujud, ritual kenduri akan dilanjutkan dengan pembacaan doa ala Islam. Sebagai catatan, hingga saat ini seluruh warga desa Sidorejo beragama Islam, lho. Nakhoda doa pun beralih ke mbah Modin, yang nama aslinya Nasirun. Tentu mbah Modin bukan sosok sembarangan. Pengetahuan agamanya sangat linuwih. Dia adalah satu dari sedikit orang di kampung kami yang sudah menjalankan ibadah lima waktu. Maka dengan suara yang sedikit bergetar dan logat yang nJawani, dia mulai mengimami doa yang “benar” sesuai syariat Islam. Robbana ngatina fi dunya kasanah, wa fil akhirati kasanah wakina ngadabannar... dan seterusnya.
Syahdan lebaran tahun 2000, untuk pertama kalinya saya mengajak pasangan hidup saya mudik ke Wonogiri. Itu adalah tahun ke dua pernikahan kami. Seperti yang berlangsung hingga kini, menjelang Lebaran tiba, setiap rumah mengadakan kenduri. Nyonya saya terkekeh-kekeh ketika mendengar logat Jawa dalam doa berbahasa Arab tadi. Tak Cuma logat, cara pengucapannya pun sangat nJawani. Huruf ‘a pada kata ‘atina diucapkan “nga”, sehingga berbunyi “ngatina”. Pun ketika mengucapkan “robbil ‘alamin” menjadi “robbil ngalamin”.
“Mbah Modin habis ngalamin kejadian apa tu, Pa?” candanya kepada saya. Saya hanya menyunggingkan senyum tipis demi mendengar reaksi orang yang dari kecil dibesarkan di lingkungan yang lumayan agamis itu.
Bagaimana kondisi saat ini? Desa kami tetap terpencil, untuk menjangkaunya butuh persiapan fisik dan mental yang membaja. Jarak sejauh 80 kilometer dari pusat kota Solo harus ditempuh dalam waktu lebih dari 3 jam berkendara mobil. Anda harus melewati jalan beraspal namun sudah rusak berat sejauh 10 kilometer sebelum mencapai desa saya.
Lek Jogo telah tiada sejak dua tahun yang lalu. Tak ada pula yang meneruskan karirnya sebagai imam Ujud-ujud. Namun bukan karena kematiannya yang memunahkan doa ala Jawa itu. Islam telah merangsek dengan lembut di hati warga kami. Sosok kaum jorok, padasan yang berbau pesing dan ladang yang dibiarkan bero (tak terawat) pelan-pelan mulai sirna. Goirah beribadah dengan benar mewabah di desa kami. Bapak, Ibu dan kerabat dekat sudah mau sholat lima waktu. Tak ada lagi semerbak kemenyan di senthong tengah sebagai pertanda dibacakannya mantra kepada arwah leluhur, di bawah meja sesaji berisi makanan dan minuman kesukaan mereka.
Kendurian itu masih lestari hingga kini. Bahkan setiap mudik, tak peduli mudik dalam rangka Lebaran atau bukan, saya suka ditodong untuk mengadakan kenduri di rumah bapak. Ndak apa-apa, itung-itung nraktir tetangga kiri kanan makan enak, hehe. Setiap 35 hari sekali, malam menjelang hari kelahiran saya, ibu selalu mengadakan kenduri. Kali ini tidak dilangsungkan di rumah, tapi nampan nasi dengan lauk ala kadarnya itu diboyong ke mushola depan rumah.
Ujud-ujud yang penggalannya berbunyi “dulur papat limo pancer sing njogo ngrekso awakku iki, rewangono njaga keslametanku, kang lagi golek sandang pangan rino kalawan wingi kanggo ngibadah marang Gusti Kang Moho Kuwoso....” telah sirna, menyisakan doa ngatina dan seterusnya. Tak pernah ada protes atau diskusi mengenai logat dan cara pengucapan itu, apalagi menjadi kusir di ajang debat pernyataan Teuku Wisnu tentang bacaan Al-Fatihah. 

Tak sempat, tak peduli, bukan karena fakir ilmu, tapi lebih kepada menyalurkan energi untuk hal-hal yang tak bersifat khilafiyah atau kurang esensial. Bukankah Tuhan Maha Tahu dan Maha Welas Asih, itu mungkin pikir mereka.


Kantin Bandara Juanda Surabaya, 11 September 2015
Post a Comment