Saturday, September 12, 2015

KERANDA BUAT MEREKA

Adalah sebuah pagi beberapa jam sebelum kami sekeluarga kembali ke Bandung paska Lebaran kemarin. Mbah Modin memanggil bapak dan saya ke ruang tengah rumah kami. Saya segera duduk bersila di depannya. Pria yang dahulu gemar mencabut gigi dan mencukur rambut saya itu masih tampak sehat di usia senjanya.
“Gini kang Taman, mas Rianto, ada yang mau saya omongkan,” ujarnya membuka suasana. Saya sama sekali tak bisa menebak arah pembicaraannya. Bapak juga hanya diam di sampingnya.
“Kang Taman dan mas Rianto kan tahu, bandoso (keranda mayat) yang teronggok di pinggir sungai itu sudah nggak layak pakai lagi.”
Saya mulai bisa menduga-duga arah pembicaraannya. Ini bukan kali pertama saya berurusan dengan sarana pemakaman.
“Nah, sekarang aku pasrah sama mas Rianto. Saya percaya mas Rianto bisa mengupayakan pengadaan bandoso buat warga sini.”
Saya terdiam. Setahun lalu saya memang pernah nguda rasa ke bapak, menyampaikan niat bahwa jika ada rejeki saya mau membelikan keranda mayat dan alat pemandian mayat buat warga kampung saya. Bapak menyambut baik niat saya tersebut. Niat itu tak datang tiba-tiba. Saya prihatin dengan kondisi keranda mayat yang sudah usang dan mulai dilanda karat. Kondisi tersebut membuat sosoknya kian menakutkan bagi siapapun yang lewat di dekatnya. Ditambah lagi sekarang barang itu ditempatkan di pinggir sungai menuju kuburan, di bawah pohon durian. Sosoknya kian tersingkir saja, padahal fungsinya amat vital. Siapapun yang menemui ajal di seantero kampung ini akan menaikinya.
Niat itu memang masih sebatas niat hingga saat itu. Kedatangan mbah Modin pagi itu pun tak segera saya sanggupi. Kepadanya saya hanya bisa berjanji dalam bentuk usaha.
“Nggih, Mbah. Insya Allah saya usahakan. Siapa tahu Gusti Allah ngasih jalan ke saya.”
Pokoke saya percaya sama mas Anto. Lha wong mbangun mushola Puleroto aja bisa, masak mbeliin bandoso ndak bisa.”
Saya nyaris tergelak. Tentang pembangunan mushola Puleroto sudah berkali-kali saya tegaskan ke warga sini bahwa saya hanyalah pencari dana. Uang yang saya gelontorkan sebesar lebih dari 50 juta berasal dari para pencari surge yang mempercayakan amalnya lewat tangan saya. Apa daya, nama saya kadung tenar gara-gara aksi donasi itu.
“Njih, Mbah. Saya minta doanya, semoga niat baik ini lekas terlaksana,” jawab saya dengan nada lirih. Sejujurnya saya belum punya bayangan bakal mencari dana lewat sarana apa.
Selarik komen dari status Facebook yang saya posting beberapa hari setelah saya sampai di Bandung menyegarkan otak saya. Status itu tentang apalagi jika bukan tentang keranda mayat.
Kawan yang sedang menempuh pendidikan S2 di negeri Ratu Elizabeth itu bertanya, “Ada proyek baru ya, Mas?”
Saya tergelak kepadanya. Deretan percakapan lewat WA berikutnya tak terlalu bertele-tele. Sebentuk komitmen pendanaan telah saya dapat. Jreng…begitulah ketika tangan Tuhan sedang bekerja, yang terjadi maka terjadilah, tanpa bisa dicegah.
Perlu waktu hampir 2 bulan untuk mewujudkan kendaraan yang mungkin paling dibenci oleh umat manusia ini. Saya sendiri sempat was-was dengan molornya waktu penyelesaian keranda mayat itu.
Hingga akhirnya sore ini saya berhasil mendapatkan foto-fotonya, saya bernafas lega. Ada keharuan dalam benak ketika memandangi raut riang wajah mbah Modin dan bapak di depan keranda itu.
Dari ibu saya mendapat cerita bahwa beliau sempat menggoda mbah Modin dengan ucapan,”Tu, Mbah, pesenanmu sudah jadi. Mbah Modin mau nyobain?”
Mbah Modin hanya menjawab singkat, “Nggak masalah, Yu. Lagian bojoku yo wis mati.”
Mendengar cerita itu saya tercenung. Pria yang setiap sore mengajar ngaji di mushola depan rumah tampaknya sudah amat siap dengan kematiannya.

Bandung, 12 September 2015
Kini anak-anak kecil pun tak lagi takut dengan keranda itu


Penampakan keranda baru

Aktifitas pengajian anak-anak tiap sore di mushola kami
Post a Comment