Wednesday, September 23, 2015

TEGAKNYA SURAU KAMI

Mudik Lebaran lalu ada suntikan energi bagi saya pribadi. Di luar urusan menuntaskan rasa kangen ke keluarga besar, ada perasaan lain yang membuat kaki saya ringan menginjak pedal gas. Kabar gembira terbetik dari pelosok sana, tiba menjelang bulan Puasa. Renovasi masjid yang berdiri di lokasi bekas dhanyangan hampir rampung. Proses yang sempat terkatung-katung akibat kekurangan dana tersebut akhirnya terselesaikan berkat kemurahan hati para hamba pencari ridho Tuhan.
Siang itu saya diajak bapak nengok bangunan tersebut. Menaiki sepeda motor, saya memboncengnya melewati jalan menanjak curam di lorong desa. Jarak dari rumah bapak ke masjid itu sebetulnya hanya sekitar 600 meter, jika ditempuh dengan jalan kaki pun hanya perlu waktu sekitar 10 menit. Namun kondisi fisik bapak tak memungkinkan untuk berjalan kaki ke sana. Dengkulnya tak kuat lagi menjejak tanah sekian ratus meter. Dengan adrenalin yang bergolak, saya bonceng pria sepuh itu merambah tanjakan dan tikungan tajam di atas jalan beraspal yang mulai mengelupas, meninggalkan jejak berupa lubang menganga di beberapa bagian.
Tampak depan bangunan masjid. Bagian tebing belum dicor agar tak longsor
Tak sampai 5 menit perjalanan berat itu berakhir di sebuah halaman surau tersebut. Hari itu adalah hari terakhir puasa, sehingga suasana desa kami rada sepi. Para wanita pasti sedang sibuk di dapur, menyiapkan kendurian menyambut datangnya Idul Fitri. Dua sosok pria tengah duduk-duduk di teras yang sudah mengkilap berlapis keramik. Mereka adalah lek Solihin dan lek Larno.
Tampak depan teras masjid
Perasaan haru menyergap saya begitu memasuki bangunan seluas 150an meter persegi itu. Saya tak menyangka karut marut renovasi rumah ibadah ini selesai dengan cepat dan relatif tak menemui hambatan berarti. Proses renovasi yang memakan waktu hampir 5 bulan berjalan penuh energi. Semua tentu berkat, sekali lagi, campur tangan Tuhan melalui tangan-tangan yang amat ringan membantu kami dari sisi pendanaan. Total biaya sebesar 60an juta berhasil kami tutupi.
Padasan dan kamar kecil
Ketika akhirnya selesai memuaskan diri berkeliling di bangunan itu, saya mendapati ada  beberapa bagian bangunan dan sarana pendukung yang masih perlu dipoles lagi. Atapnya belum dilapisi plafon dan di sisi kanan bangunan masih berupa tebing setinggi 3 meter yang belum dicor sehingga rawan longsor. Selain itu saya mendapati onggokan kitab suci yang sudah tidak layak pakai karena usia. Beberapa bagian halamannya sudah rusak dimakan rayap.
Tampak samping bangunan masjid
Tampak dalam bangunan masjid


Atap belum diplafon


Saldo kas renovasi masjid
Kepada mbak Sumiyem, sepupu saya, saya berpesan agar saldo dana sebesar 5 juta yang dia pegang dianggarkan untuk hal-hal yang lebih penting terlebih dahulu. Masalah tebing yang belum dicor dan plafon sementara ditunda dulu sambil berharap kemurahan Tuhan lewat hamba-hambaNya.
Oya, kisah awal pembangunan masjid ini bisa dilirik di sini
Bandung, 23 September 2015
Post a Comment